
KABAR JAWA – Di Kabupaten Magelang terdapat sebuah kecamatan yang menyimpan banyak cerita sejarah dan perkembangan panjang hingga sekarang, yaitu Muntilan.
Letaknya strategis, sekitar sepuluh kilometer dari Kota Mungkid yang menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Magelang, lima belas kilometer dari Kota Magelang, dan dua puluh lima kilometer dari Kota Yogyakarta.
Posisi geografis ini menjadikan Muntilan sejak lama menjadi pusat perdagangan sekaligus jasa di wilayah selatan Kabupaten Magelang.
Tidak hanya itu, Muntilan juga berdiri di jalur provinsi yang menghubungkan Kota Semarang, Kota Magelang, dan Kota Yogyakarta sehingga menjadikannya titik lalu lintas yang ramai.
Asal-Usul Nama Muntilan
Mengenai asal-usul nama Muntilan, terdapat beragam kisah yang berkembang di masyarakat. Salah satu versi menyebutkan bahwa nama Muntilan diyakini berasal dari bahasa Inggris, yakni kata “mount” dan “land”.
Hal ini dianggap sesuai dengan kondisi alam Muntilan yang berada di wilayah bergunung-gunung sehingga istilah tersebut melekat pada daerah ini.
Namun, ada pula cerita rakyat yang lebih populer di kalangan masyarakat. Konon dahulu ada seorang pengelana yang membawa banyak bekal selama perjalanan.
Bekal yang ia bawa itu bergelantungan di pundaknya sehingga terlihat “munthil-munthil”.
Dalam kisah lain, pengelana tersebut dirampok di perjalanan dan berteriak keras “munthil ilang” untuk meluapkan rasa kehilangan. Sejak saat itu, nama Muntilan dipercaya lahir dari ungkapan tersebut.
Dari berbagai versi ini, nama Muntilan tidak hanya sekadar sebutan, tetapi juga mencerminkan perpaduan antara kondisi geografis dan kisah tradisi lisan yang turun-temurun.
Jejak Sejarah Muntilan
Selain asal-usul namanya yang penuh warna, Muntilan juga memiliki peran penting dalam lintasan sejarah. Pada tahun 1894, seorang pastur bernama F. van Lith datang ke wilayah ini.
Kehadirannya menjadi tonggak awal penyiaran agama Katolik di kalangan masyarakat Jawa. Dalam kurun waktu sepuluh tahun, van Lith berhasil membangun komunitas umat Katolik Jawa yang cukup luas, meliputi daerah pelayanan hingga Sendangsono di Kulon Progo, Sumber di utara, Salam di timur, dan Tumpang di bagian barat. Sementara itu, rekannya, Pastur Hoevenaar, melayani wilayah Borobudur.
Peran van Lith tidak hanya sebatas menyebarkan agama, tetapi juga mendirikan lembaga pendidikan dan fasilitas kesehatan.
Ia membangun kompleks sekolah Katolik, asrama, serta rumah sakit yang diresmikan pada tahun 1902.
Hingga kini, beberapa bangunan yang dirintis van Lith masih berfungsi dan menjadi bagian penting dari sejarah Muntilan.
Selain peristiwa keagamaan, perkembangan Muntilan juga dipengaruhi oleh infrastruktur.
Berdasarkan laman BKKBN, pda tahun 1892, Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) membuka jalur kereta api yang menghubungkan Yogyakarta dan Magelang.
Rel kereta api ini membawa pengaruh besar terhadap tata ruang Kecamatan Muntilan, menjadikannya semakin ramai oleh aktivitas perdagangan dan pergerakan masyarakat.
Kemudian saat Perang Dunia II berlangsung, Muntilan pun tercatat dalam catatan sejarah yang penuh luka.
Tentara Jepang menjadikan kompleks sekolah Katolik di wilayah ini sebagai kamp tahanan perang.
Mereka yang menghuni kamp tersebut sebagian besar adalah keluarga Belanda yang ditahan selama masa pendudukan.
Peristiwa ini meninggalkan jejak mendalam tentang bagaimana Muntilan ikut merasakan getirnya perang.
Muntilan Masa Kini
Kini, Muntilan dikenal sebagai pusat aktivitas masyarakat dengan berbagai potensi yang dimiliki.
Wilayah ini menjadi salah satu pasar utama di kaki Gunung Merapi yang selalu ramai.
Muntilan juga terkenal sebagai penghasil cobek dan ulekan berkualitas yang banyak digunakan hingga ke luar daerah.
Tak hanya itu, wisata religi turut menambah daya tarik Muntilan, di antaranya adalah Makam Kyai Raden Santri di Gunungpring yang sering dikunjungi peziarah.
Alam Muntilan yang masih asri juga menjadi magnet tersendiri. Udara sejuk pegunungan, suasana pedesaan yang khas, serta kehidupan masyarakat yang masih menjaga tradisi menjadikan Muntilan tetap menarik di mata banyak orang.
Uniknya lagi, konon Muntilan juga menjadi satu latar dalam novel dan serial berjudul Gadis Kretek yang mana di dalam cerita disebut sebagai “Kota M”.
Mount dan Land hingga Kisah Pengelana
Jadi kesimpulannya, asal-usul Muntilan berasal dari kata “mount” dan “land” yang artinya wilayah di sekitar gunung.
Kemudian, ada versi lain menyebut bahwa penamaan wilayah ini berawal cerita seorang pengelana yang dirampok lalu kemudian berteriak “munthil ilang” yang kemudian menjadi Muntilan.
Sementara itu, kini diketahui ada banyak peristiwa sejarah di sini, salah satunya mengenai kedatangan Pastur F. van Lith.***