
KABAR JAWA – Bagi masyarakat Yogyakarta, keberadaan gajah dalam prosesi adat Keraton bukanlah hal baru.
Hewan besar ini kerap tampil dalam berbagai upacara penting, terutama saat Grebeg Maulud yang menjadi bagian dari peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Pada momen sakral tersebut, gajah biasanya ikut mengawal arak-arakan gunungan, sebuah tradisi yang telah diwariskan turun-temurun.
Bahkan, demi menjaga ketertiban prosesi, pihak Keraton dan aparat keamanan biasanya mengeluarkan larangan penggunaan drone.
Hal ini dilakukan karena suara berisik baling-baling drone dikhawatirkan membuat gajah merasa terganggu dan bisa saja berperilaku agresif di tengah keramaian.
Namun, di balik penampilan gajah yang gagah dan penuh wibawa dalam upacara Grebeg, tersimpan kisah panjang tentang bagaimana Keraton Yogyakarta memiliki gajah dan menjadikannya bagian penting dalam kehidupan budaya maupun simbolis kerajaan.
Jejak Sejarah Kepemilikan Gajah di Keraton Yogyakarta
Sejak awal berdirinya, Keraton Yogyakarta dikenal memiliki gajah sebagai simbol kebijaksanaan Sultan.
Berdasarkan catatan Balai Pengelolaan Kawasan Sumbu Filosofis, diketahui bahwa gajah telah lama menempati kandang khusus di dalam kompleks Keraton. Tempat itu dikenal dengan sebutan Bangsal Gajahan.
Bangsal Gajahan menjadi rumah bagi gajah-gajah Keraton dari masa ke masa. Nama-nama gajah yang sempat tinggal di sana pun masih dikenang, seperti Nyai Argo dan Kyai Gilang.
Keduanya adalah gajah terakhir yang mendiami kandang tersebut sebelum akhirnya dipindahkan ke Kebun Binatang Gembira Loka pada tahun 2010.
Pemindahan itu dilakukan agar gajah-gajah dapat hidup lebih nyaman bersama kawanan lainnya sekaligus bisa lebih dekat dengan masyarakat yang ingin melihat secara langsung.
Meskipun demikian, jejak sejarah Bangsal Gajahan tidak luntur begitu saja. Tempat yang berada di kawasan Alun-alun Kidul atau Alkid itu kini justru menjadi daya tarik wisata.
Banyak orang datang ke sana untuk sekadar mengenang bagaimana kandang gajah Keraton dulu difungsikan.
Peran Gajah dalam Upacara Grebeg
Salah satu momen paling ditunggu masyarakat adalah ketika gajah ikut serta dalam prosesi Grebeg.
Upacara ini digelar tiga kali dalam setahun, dan Grebeg Maulud menjadi yang paling meriah karena bertepatan dengan peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Dalam setiap penyelenggaraan Grebeg, gunungan yang berisi hasil bumi akan didoakan terlebih dahulu di dalam Keraton.
Setelah itu, gunungan diarak keluar menuju Masjid Gedhe Kauman. Prosesi tersebut tidak hanya melibatkan para prajurit Keraton dengan pakaian adatnya yang khas, tetapi juga dikawal oleh gajah yang berjalan dengan tenang di antara kerumunan.
Contohnya, pada Grebeg Maulud tahun 2023 lalu, dua ekor gajah turut tampil di tengah arak-arakan. Kehadirannya menjadi pusat perhatian masyarakat sekaligus penanda bahwa tradisi ini masih dijaga dengan penuh konsistensi.
Bahkan beberapa tahun sebelumnya, seperti pada 2018, gajah juga ikut mengawal tujuh gunungan yang diarak dengan khidmat.
Keterlibatan gajah dalam Grebeg bukan hanya sekadar pelengkap upacara. Hewan ini memiliki makna simbolis yang dalam bagi Keraton Yogyakarta.
Gajah dianggap sebagai perwujudan kebijaksanaan Sri Sultan Hamengkubuwono. Dengan tampilnya gajah dalam setiap prosesi besar, Keraton ingin menegaskan bahwa nilai-nilai kebijaksanaan dan kewibawaan selalu mengiringi setiap langkah dan keputusan yang diambil oleh pemimpin.
Dari Lambang Kekuasaan Menjadi Ikon Budaya
Jadi kesimpulannya, jejak sejarah gajah Keraton Yogyakarta yaitu sudah ada sejak awal berdirinya Keraton. Gajah-gajah tersebut dahulu berada di suatu tempat di Keraton yang bernama Bangsal Gajahan.
Seiring berjalannya waktu, gajah Keraton tidak lagi sekadar simbol kekuasaan kerajaan, tetapi juga telah menjelma menjadi ikon budaya yang selalu ditunggu masyarakat.
Momen gajah tampil dalam upacara Grebeg memberikan daya tarik tersendiri bagi warga Yogyakarta maupun wisatawan dari berbagai daerah.
Meski kini gajah tidak lagi menetap di Bangsal Gajahan, keberadaannya masih menjadi bagian penting dalam setiap prosesi.
Hal ini membuktikan bahwa sejarah Keraton Yogyakarta memiliki gajah adalah warisan yang tidak bisa dipisahkan dari perjalanan panjang budaya Jawa.
Dengan demikian, gajah Keraton bukan hanya binatang peliharaan, melainkan simbol yang hidup. Gajah mewakili kebijaksanaan Sultan sekaligus menghadirkan keindahan dalam setiap upacara adat.
Dari awal mula kehadirannya hingga kini menjadi ikon Grebeg, gajah tetap memegang peran penting dalam menjaga kelestarian tradisi dan identitas Yogyakarta.***