Ribuan Warga Saksikan Sakralnya Miyos-Kondur Gangsa, Rangkaian Garebeg Mulud di Keraton Yogyakarta

Bagikan :
Suasana sakral saat gamelan Kiai Gunturmadu dan Kiai Nagawilaga diarak keluar dari Keraton menuju Masjid Gedhe Kauman dalam prosesi Miyos Gangsa. (kratonjogja.id)

KABARJAWA – Ribuan pasang mata tumpah ruah di pelataran Kamandungan Lor Keraton Yogyakarta pada Jumat Pon malam (29/8/2025) lalu. Udara malam yang semula tenang mendadak bergetar ketika prosesi sakral Miyos Gangsa digelar.

Tradisi turun-temurun ini selalu menjadi penanda awal rangkaian Adeging Pisowanan Ageng Garebeg Mulud, menuju puncak perayaan Garebeg Mulud untuk memperingati kelahiran Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Masyarakat dari berbagai penjuru berdiri berdesakan, sebagian berdoa lirih, sebagian menunggu momen perebutan udhik-udhik, dan sebagian lain tertegun menyaksikan jalannya ritual yang sarat makna.

Prosesi Miyos Gangsa bukan sekadar pengeluaran gamelan dari Keraton, tetapi juga napak tilas sejarah dakwah Islam di tanah Jawa.

Jejak Wali Songo dalam Tabuhan Gamelan

Sejarah mencatat, Wali Songo menggunakan gamelan sebagai media dakwah. Alunan gamelan yang merdu mengundang masyarakat untuk berkumpul di halaman masjid, lalu para wali menyampaikan syiar Islam dengan penuh kelembutan.

Hingga kini, filosofi itu tetap hidup dalam setiap tabuhan gamelan Sekaten, menjadikan Miyos Gangsa sebagai penghubung antara kesenian, spiritualitas, dan kehidupan rakyat.

Baca juga  Tradisi Mubeng Beteng 1 Suro 2026 di Jogja Digelar 16 Juni: Ini Jadwal, Rute, dan Aturan Pesertanya

Dua perangkat gamelan sakral, Kiai Gunturmadu dan Kiai Nagawilaga, diarak keluar dari Keraton menuju Masjid Gedhe Kauman saat tengah malam.

Perpindahan gamelan inilah yang menandai dimulainya pesta budaya sekaligus ritual keagamaan yang telah berlangsung ratusan tahun.

Riuh Rebutan Udhik-udhik

Sekitar pukul 20.00 WIB, suasana kian semarak. Lima Putri Dalem, yakni GKR Mangkubumi, GKR Condrokirono, GKR Maduretno, GKR Hayu, dan GKR Bendara, serta dua Mantu Dalem KPH Purbodiningrat dan KPH Notonegoro, keluar melalui Regol Srimanganti.

Mereka membawa sepuluh bokor berisi beras kuning, uang koin, biji-bijian, dan kelopak bunga.

Dengan penuh khidmat, para Putri Dalem menyebarkan udhik-udhik kepada masyarakat dan abdi dalem. Seketika, suasana berubah riuh. Warga berusaha meraih apa saja—beras kuning, koin, atau bunga—yang diyakini membawa keberkahan.

“Setiap tahun saya selalu hadir, walaupun tidak selalu ikut rebutan. Yang paling saya tunggu adalah tabuhan gamelan Sekaten di Masjid Gedhe. Rasanya hati langsung lega dan senang begitu mendengarnya,” ungkap Rabono, warga Kauman dengan wajah berbinar.

Baca juga  Sejarah Keraton Yogyakarta Memiliki Gajah: Awal Mula hingga Jadi Ikon Upacara Grebeg

Sementara itu, Ibu Raras, pendatang dari Semarang yang baru pertama kali mengikuti ritual, meneteskan air mata haru.

“Saya merasakan vibrasi yang positif sekali, seperti semua beban hilang. Bagi saya ini bukan hanya ritual, melainkan penghormatan kepada Maulid Nabi sekaligus cara indah mengenang perjuangan Wali Songo,” ujarnya penuh antusias.

Menjelang pukul 23.00 WIB, suasana di Pelataran Kamandungan Lor (Keben) mendadak hening. Dentang gamelan seakan menahan napas, menunggu peralihan sakral menuju Masjid Gedhe.

Dengan iringan Bregada Prawiratama dan Jagakarya, arak-arakan gamelan bergerak perlahan. Langkah para prajurit tegas, cahaya obor menyala redup, menambah dramatisasi suasana malam.

Setibanya di Masjid Gedhe, gamelan Kiai Gunturmadu ditempatkan di Pagongan Selatan, sementara Kiai Nagawilaga di Pagongan Utara. Tepat pukul 00.00 WIB, keduanya ditabuh bergantian.

Gendhing Rambu mengawali alunan, disusul Rangkung, Andhong-andhong, hingga Lung Gadhung Pel. Suara gamelan menggema, menyusup ke hati setiap orang yang hadir.

Sekaten: Harmoni Seni, Religi, dan Budaya

Tabuhan gamelan Sekaten berlangsung setiap hari selama sepekan, pada tiga sesi utama: pagi, siang, dan malam. Hanya Kamis malam hingga Jumat siang gamelan berhenti ditabuh.

Baca juga  Sentral Pengolahan Pos (SPP) Yogyakarta Terapkan Mesin Sortir Robotik, Pos Indonesia Percepat Transformasi Menuju Holding Logistik Nasional

Tradisi inilah yang dikenal sebagai Sekaten, sebuah perayaan yang merangkum harmoni antara seni, religi, dan budaya.

Puncaknya tiba pada Kondur Gongso (pengembalian gamelan) yang dilaksanakan malam Jumat (5/9/2025). Prosesi itu menandai berakhirnya tabuhan gamelan sekaligus menutup rangkaian ritual sakral.

Simbol Persatuan Raja dan Rakyat

Bagi masyarakat, Miyos-Kondur Gangsa bukan sekadar tontonan budaya. Setiap detail prosesi merefleksikan persatuan antara raja dan rakyat, antara langit dan bumi, antara seni dan agama.

Rebutan udhik-udhik menjadi simbol sedekah raja untuk rakyatnya, sebagai doa kesejahteraan, keselamatan, dan ikatan batin yang tak pernah putus.

Ribuan orang pulang dengan wajah lega. Ada yang menggenggam koin, ada yang menyelipkan bunga di dompet, ada pula yang hanya membawa kenangan suara gamelan yang magis.

Namun semuanya merasakan hal yang sama: getaran spiritual yang menyatukan mereka dalam momen sakral Garebeg Mulud.

Berita Terbaru

Universitas Ngudi Waluyo memiliki 24 program studi dari D3 hingga S2, mencakup bidang kesehatan, bisnis, hukum, dan pendidikan.
Berapakah Jumlah Program Studi yang Ada di Universitas Ngudi Waluyo Saat ini?
Nomor punggung Pelé yang paling ikonik adalah 10. Simak sejarah angka tersebut dan tiga gelar Piala Dunia Brasil.
Apa Nomor Punggung Paling Ikonik Pele di Panggung Piala Dunia?
KKB-Papua
Penembakan Pegawai Dinas Pertanian Jayawijaya, 3 Orang Tewas di Pedalaman Papua
All You Can Eat Steamboat & Grill hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo dengan panorama Menoreh dan pilihan paket menarik.
All You Can Eat Steamboat & Grill Hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo: Kuliner dengan Panorama Menoreh
Jadwal one way Puncak 12-13 September 2026 berlaku situasional. Ganjil genap ditiadakan, cek jam arah naik dan turun.
Jadwal One Way Jalur Puncak12-13 September 2026: Ganjil Genap Ditiadakan, Satu Arah Situasional

Terpopuler

Nama kepala sekolah dan guru SD Pekalongan yang viral belum diumumkan. Disdikbud membenarkan kasus dan menjatuhkan sanksi. (Foto ilustrasi Pixabay/geralt)
Siapa Kepala Sekolah dan Guru SD Pekalongan Viral Video Asusila yang Dicopot Disdikbud?
Video kasir Indomaret viral 7 menit ramai di media sosial. Simak fakta soal isi video, Lylia, dan klaim akun media sosialnya. (Foto ilustrasi: Pixabay/lolo_btl)
Video Kasir Indomaret Viral 7 Menit Isinya Apa dan Nama Akun IG serta TikTok Lylia yang Disebut-sebut Pemeran Video
pemeliharaan jaringan listrik
Jadwal Pemadaman Listrik Surabaya Hari Ini, Cara Cek Info Real Time & Akurat
Lokasi Tilang Operasi Patuh Progo 2026 Jogja
Titik Lokasi Rawan Tilang di Jogja, Operasi Patuh Progo 2026: ETLE Sleman, Bantul dan Sekitarnya
Roberto Carlos masih hidup pada Agustus 2026. Simak kondisi kesehatan, karier, dan perannya sebagai pemegang saham Fursan Hispania. (Foto: instagram/oficialrc3)
Apakah Roberto Carlos Masih Hidup Agustus 2026? Ini Kondisi Terbaru Legenda Brasil dan Real Madrid