
Kabarjawa – Masa Prapaskah menjadi waktu yang tepat untuk merenung dan memperbaiki diri, terutama dalam menjaga hati agar tetap bersih dari perasaan negatif seperti iri dan kebiasaan memfitnah.
Renungan harian Katolik Sabtu, 22 Maret 2025 ini mengajak kita untuk merenungkan makna pertobatan yang mendalam dan bagaimana menjaga hati agar tetap dipenuhi kasih serta pengampunan.
Makna Pertobatan dalam Bacaan Kitab Suci
Bacaan hari ini diambil dari Mikha 7:14-15,18-20; Mazmur 103:1-2,3-4,9-10,11-12; Lukas 15:1-3,11-32, serta Bacaan Ofisi (BcO) Ulangan 32:48-52; 34:1-12.
Melalui rangkaian bacaan ini, kita diingatkan akan besarnya kasih Allah yang selalu membuka pintu pengampunan bagi siapa saja yang ingin kembali kepada-Nya dengan hati yang tulus.
Belajar dari Kisah Anak yang Hilang
Injil Lukas 15:11-32 mengisahkan seorang ayah yang memiliki dua anak laki-laki. Si bungsu meminta warisan dan menghabiskannya untuk hidup berfoya-foya.
Ketika segala miliknya habis dan hidupnya hancur, ia menyadari kesalahannya dan memutuskan kembali ke rumah ayahnya dengan hati yang penuh penyesalan.
Tanpa ragu, sang ayah menyambutnya dengan sukacita, melambangkan betapa besar kasih dan pengampunan Allah.
Namun, yang tak kalah penting adalah sikap sang kakak. Ia merasa diperlakukan tidak adil karena selama ini ia tetap setia, tetapi tidak pernah mendapatkan perlakuan istimewa seperti adiknya.
Iri hati merasuk dalam dirinya, bahkan hingga menuduh adiknya melakukan tindakan buruk yang tak pernah disebutkan dalam kisah itu. Ini menjadi pelajaran tentang bagaimana iri hati bisa melahirkan fitnah yang merusak relasi dan kedamaian hati.
Menjaga Hati dari Iri dan Fitnah
Gereja Katolik menekankan pentingnya menjaga kebenaran sebagai nilai utama dalam hidup beriman. Fitnah, yang sering kali berakar dari rasa iri, merusak kebenaran dan melukai hati sesama.
Perintah kedelapan dari Sepuluh Perintah Allah dengan tegas melarang kita untuk bersaksi dusta terhadap sesama.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali mudah menghakimi orang lain tanpa memahami keseluruhan cerita. Rasa iri bisa membuat kita terjebak dalam tindakan yang merugikan diri sendiri dan orang lain.
Oleh karena itu, menjaga hati agar tetap bersih dari rasa iri dan godaan memfitnah menjadi langkah penting untuk hidup yang lebih bermakna dan penuh kedamaian.
Belajar Memaafkan dan Mencintai
Masa Prapaskah menjadi kesempatan emas untuk meneladani sikap sang ayah dalam perumpamaan tersebut: penuh kasih dan siap memaafkan.
Sebelum menghakimi atau berkata tentang orang lain, tanyakan pada diri sendiri apakah yang diucapkan benar, bermanfaat, dan memperbaiki keadaan. Dengan begitu, kita bisa menjadi pribadi yang lebih bijaksana dan berbelas kasih.
Renungan hari ini mengajak kita untuk selalu menjaga hati agar tetap bersih dari rasa iri dan kebiasaan memfitnah.
Sebagaimana Allah yang Maha Pengampun, kita pun diajak untuk membuka hati, memaafkan, dan membangun relasi yang penuh kasih dengan sesama. Masa Prapaskah ini adalah momen yang tepat untuk memperbaiki diri dan mendekatkan hati kepada Tuhan.
Doa Penutup
Ya Allah, bimbinglah kami untuk senantiasa menjaga hati kami tetap bersih dari iri dan fitnah. Berikanlah kami kekuatan untuk selalu berkata benar dan hidup dalam kasih setia-Mu. Demi Yesus Kristus, Putra-Mu dan pengantara kami, yang hidup dan berkuasa, kini dan sepanjang segala masa. Amin.(Kabarjawa)