
KABAR JAWA – Candi Prambanan di Sleman, Yogyakarta, adalah candi Hindu terbesar di Indonesia yang sudah diakui sebagai warisan dunia UNESCO.
Selama berabad-abad, muncul perdebatan mengenai siapa sebenarnya pendirinya. Legenda menyebut Bandung Bondowoso dan kisah Roro Jonggrang, sementara catatan sejarah menegaskan bahwa candi megah ini dibangun oleh Raja Mataram Kuno, Rakai Pikatan.
Keindahan dan Keagungan Candi Prambanan
Berdiri kokoh di Desa Bokoharjo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Candi Prambanan menjulang setinggi hampir 47 meter.
Sebagai kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara, situs bersejarah ini bukan hanya monumen arsitektur, melainkan juga saksi bisu peradaban Jawa kuno.
Keanggunannya membuat UNESCO menetapkannya sebagai warisan dunia. Tidak heran jika Prambanan kerap disebut sebagai salah satu candi terindah di Asia Tenggara.
Namun di balik keelokannya, masih tersisa satu pertanyaan besar: siapa sesungguhnya yang membangun mahakarya ini?
Legenda Roro Jonggrang yang Melekat di Ingatan
Bagi masyarakat luas, nama Prambanan hampir selalu dikaitkan dengan kisah Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang.
Legenda yang diwariskan turun-temurun ini bercerita tentang Bandung Bondowoso, tokoh dari Kerajaan Pengging yang berhasil menaklukkan Raja Boko. Saat memasuki istana, ia terpikat oleh kecantikan Roro Jonggrang, putri sang raja yang telah ia kalahkan.
Namun, karena tidak sudi diperistri pembunuh ayahnya, Roro Jonggrang menyusun siasat. Ia meminta Bandung Bondowoso membangun sumur dalam, lalu menantangnya untuk membuat seribu candi hanya dalam satu malam.
Dengan bantuan makhluk gaib, Bandung Bondowoso hampir berhasil. Sayangnya, Roro Jonggrang kembali menipu dengan membakar jerami dan menyuruh para perempuan menumbuk lesung hingga ayam berkokok lebih awal.
Merasa dikhianati ketika candi hanya mencapai jumlah 999, Bandung Bondowoso murka dan mengutuk Roro Jonggrang menjadi arca batu. Sejak saat itu, banyak pengunjung percaya bahwa salah satu arca di dalam Candi Prambanan adalah jelmaan sang putri.
Legenda ini begitu populer sehingga masyarakat lebih akrab dengan dongeng tersebut ketimbang catatan sejarah aslinya.
Fakta Sejarah: Jejak Rakai Pikatan
Berbeda dengan legenda, sejarah arkeologis menyebutkan bahwa Candi Prambanan dibangun sekitar abad ke-9 Masehi.
Nama yang paling sering dikaitkan adalah Sri Maharaja Rakai Pikatan, raja keenam Mataram Kuno. Hal ini terungkap dari Prasasti Shivagrha tahun 856 Masehi, yang menyebutkan pembangunan sebuah gugusan candi untuk pemujaan Dewa Siwa.
Candi ini tidak selesai dalam satu malam, melainkan membutuhkan waktu panjang, bahkan hingga masa pemerintahan raja berikutnya, yakni Dyah Lokapala dan Sri Maharaja Dyah Balitung Maha Sambu.
Artinya, Prambanan adalah proyek besar yang dibangun lintas generasi, bukan hasil kerja gaib semalam.
Rakai Pikatan dan Politik Perkawinan
Sosok Rakai Pikatan juga menarik untuk dikaji. Ia berasal dari Wangsa Sanjaya yang beragama Hindu Siwa.
Namun, ia menikahi Pramodhawardhani, putri Wangsa Syailendra yang menganut Buddha Mahayana. Perkawinan ini diyakini sebagai bentuk kompromi politik untuk meredam konflik dua wangsa besar yang berebut pengaruh di Jawa.
Meski demikian, lambat laun pengaruh Rakai Pikatan semakin kuat. Pembangunan Candi Prambanan yang sangat monumental dianggap sebagai penegasan kembali dominasi Hindu di Jawa, sekaligus sebagai “jawaban” atas megahnya Candi Borobudur yang merupakan peninggalan Wangsa Syailendra.
Arca Roro Jonggrang: Mitos atau Simbol Religi?
Salah satu daya tarik Prambanan adalah arca yang dikenal masyarakat sebagai Roro Jonggrang. Namun, para ahli meyakini bahwa arca tersebut sejatinya adalah Dewi Durga Mahisasuramardini, sosok dewi Hindu yang digambarkan cantik dengan delapan tangan dan senjata sakti pemberian para dewa.
Arca ini melambangkan kemenangan kebaikan atas kekuatan jahat, bukan sekadar kutukan seorang putri. Meski begitu, legenda tetap hidup berdampingan dengan fakta sejarah, menjadikan Prambanan memiliki nilai budaya ganda: spiritual sekaligus folklorik.
Dari Kejayaan Hingga Terlupakan
Seiring runtuhnya Kerajaan Mataram Kuno, pusat pemerintahan dipindahkan ke Jawa Timur pada abad ke-10. Prambanan pun mulai ditinggalkan.
Abad ke-16, gempa besar menghancurkan sebagian besar bangunan. Selama berabad-abad, kompleks ini terbengkalai, ditutupi semak, dan hanya menyisakan reruntuhan.
Baru pada abad ke-18, seorang sejarawan Belanda bernama CA Lons melaporkan keberadaan candi ini. Pemugaran serius dimulai pada tahun 1902 dan berlanjut hingga kini, hingga akhirnya kita bisa menyaksikan keagungannya dalam bentuk yang mendekati semula.
Antara Legenda dan Fakta
Candi Prambanan adalah bukti betapa mitos dan sejarah sering berjalan berdampingan. Legenda Roro Jonggrang membuat candi ini populer di mata masyarakat, sementara penelitian sejarah mengungkap fakta bahwa Rakai Pikatan dan penerusnya-lah yang membangun kompleks candi megah ini.
Mungkin, inilah keunikan Prambanan: ia bukan hanya peninggalan arsitektur, melainkan juga ruang pertemuan antara imajinasi rakyat, keyakinan spiritual, dan catatan sejarah.***