
Kabarjawa – Candi Prambanan adalah salah satu candi Hindu terbesar dan termegah di Asia Tenggara. Candi ini menjadi ikon sejarah dan budaya Indonesia, serta telah diakui sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO.
Namun, selain fakta sejarah yang kuat, masyarakat juga mengenal Candi Prambanan melalui legenda Roro Jonggrang, sebuah kisah cinta dan kutukan yang dipercaya menjadi asal-usul candi ini.
Lalu, manakah yang benar? Sejarah atau legenda?
Sejarah Candi Prambanan
Secara historis, Candi Prambanan dibangun pada abad ke-9 Masehi oleh Wangsa Sanjaya dari Kerajaan Mataram Kuno.
Candi ini didedikasikan untuk Trimurti dalam agama Hindu, yaitu Dewa Brahma (pencipta), Dewa Wisnu (pemelihara), dan Dewa Siwa (pelebur).
Karena candi utama dipersembahkan untuk Dewa Siwa, kompleks ini juga dikenal sebagai Candi Rara Jonggrang.
Menurut prasasti Siwagrha yang ditemukan di sekitar candi dan bertanggal 856 M, pembangunan Candi Prambanan diperkirakan dimulai pada masa pemerintahan Rakai Pikatan.
Pembangunan ini bertujuan untuk menunjukkan supremasi Hindu atas Buddha, mengingat sebelumnya Dinasti Syailendra yang beragama Buddha mendominasi Jawa Tengah dengan membangun Candi Borobudur.
Namun, seiring berjalannya waktu, Candi Prambanan mulai ditinggalkan akibat perpindahan pusat pemerintahan ke Jawa Timur.
Selain itu, gempa bumi dan letusan Gunung Merapi diduga mempercepat kehancuran kompleks candi ini.
Selama berabad-abad, Candi Prambanan terkubur oleh tanah dan baru ditemukan kembali pada abad ke-19 oleh penjajah Belanda.
Legenda Roro Jonggrang: Kutukan yang Membentuk Candi Prambanan
Di luar catatan sejarah, masyarakat setempat mengenal asal-usul Candi Prambanan melalui legenda Roro Jonggrang. Kisah ini menceritakan tentang seorang putri cantik bernama Roro Jonggrang, putri Raja Boko.
Dikisahkan bahwa seorang pangeran sakti bernama Bandung Bondowoso jatuh cinta pada Roro Jonggrang dan ingin menikahinya.
Namun, karena Bandung Bondowoso telah membunuh ayahnya dalam peperangan, Roro Jonggrang menolak lamaran tersebut.
Untuk menghindari pernikahan, ia memberikan syarat yang mustahil: Bandung Bondowoso harus membangun 1.000 candi dalam semalam.
Dengan kekuatan gaib, Bandung Bondowoso hampir menyelesaikan permintaan tersebut. Ketakutan Roro Jonggrang bahwa syaratnya akan terpenuhi membuatnya berbuat curang.
Ia memerintahkan para dayang untuk menumbuk padi dan menyalakan api agar ayam berkokok lebih awal, menandakan bahwa pagi telah tiba.
Merasa ditipu, Bandung Bondowoso murka dan mengutuk Roro Jonggrang menjadi arca batu. Konon, arca Durga yang berada di Candi Prambanan dipercaya sebagai jelmaan Roro Jonggrang.
Fakta atau Mitos?
Secara ilmiah, Candi Prambanan memang dibangun oleh Dinasti Sanjaya sebagai bentuk kejayaan Hindu di Jawa.
Namun, legenda Roro Jonggrang tetap menjadi bagian dari budaya lisan yang diwariskan turun-temurun.
Kisah ini mencerminkan bagaimana masyarakat setempat memahami dan memberi makna pada peninggalan sejarah.
Keindahan Arsitektur Candi Prambanan
Terlepas dari sejarah dan legenda yang menyelimutinya, Candi Prambanan memiliki arsitektur yang luar biasa. Kompleks candi ini terdiri dari:
- Candi Siwa (47 meter) – Candi utama yang didedikasikan untuk Dewa Siwa, dengan arca Durga yang dikaitkan dengan Roro Jonggrang.
- Candi Brahma – Terletak di sebelah timur Candi Siwa, dihiasi dengan relief Ramayana.
- Candi Wisnu – Terletak di sebelah utara Candi Siwa, dipersembahkan untuk Dewa Wisnu.
- Candi Perwara – Candi-candi kecil yang mengelilingi candi utama, diyakini sebagai bentuk penghormatan kepada para dewa dan leluhur.
Sejarah Candi Prambanan didukung oleh bukti arkeologis yang menunjukkan bahwa kompleks ini dibangun pada abad ke-9 oleh Wangsa Sanjaya sebagai simbol kejayaan Hindu.
Namun, legenda Roro Jonggrang tetap hidup dalam budaya masyarakat dan memberikan daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung.
Apakah Anda lebih percaya pada fakta sejarah atau tertarik dengan mitos yang melegenda? Yang pasti, Candi Prambanan tetap menjadi salah satu destinasi wisata budaya terbaik di Indonesia yang layak untuk dijelajahi!