
Kabarjawa – Misteri Masjid Tiban! Di tengah hamparan persawahan yang mengelilingi Dusun Pulosari, Desa Jungkare, Kecamatan Karanganom, Klaten, terdapat sebuah masjid kecil yang dikenal sebagai Masjid Tiban Kiai Mojo.
Masjid ini menyimpan sejarah panjang yang berkaitan dengan perjuangan Pangeran Diponegoro dalam melawan penjajahan Belanda.
Keberadaannya yang tersembunyi menjadikannya saksi bisu perjuangan laskar Diponegoro, khususnya pasukan yang dipimpin oleh Kiai Mojo.
Artikel ini akan mengulas sejarah, kondisi, dan keberadaan masjid ini yang masih bertahan hingga kini.
Sejarah Masjid Tiban Kiai Mojo
Masjid yang ukurannya sekitar 7×8 meter ini dipercaya sebagai tempat persembunyian pasukan Pangeran Diponegoro pada Perang Jawa (1825-1830).
Dipimpin oleh Kiai Mojo, pasukan Diponegoro dikabarkan pernah bermarkas di sini untuk menghadang pasukan Belanda yang hendak menuju Solo.
Dengan kondisi geografis yang tersembunyi, dusun ini menjadi lokasi strategis bagi pasukan gerilya.
Berdasarkan cerita turun-temurun, pasukan Diponegoro kala itu terpecah menjadi beberapa kelompok kecil agar tidak mudah dilacak oleh Belanda yang memiliki persenjataan lebih modern.
Salah satu kelompok dengan jumlah sekitar 30-40 orang bermarkas di Pulosari, termasuk Kiai Kasan, leluhur warga setempat yang ikut berjuang bersama Kiai Mojo.
Kondisi dan Arsitektur Masjid
Masjid Tiban Kiai Mojo memiliki desain yang sederhana. Bangunan ini berdinding tembok dengan plesteran ala kadarnya dan ditopang oleh empat tiang kayu yang mulai lapuk.
Atapnya berbentuk berundak khas masjid tradisional, lengkap dengan mustoko atau kubah kecil yang terbuat dari tanah liat bakar.
Tidak seperti masjid pada umumnya, masjid ini tidak memiliki mihrab, sehingga lebih menyerupai rumah hunian.
Pada awalnya, bangunan ini hanya terbuat dari kayu dengan atap ilalang. Seiring waktu, beberapa bagian telah direnovasi oleh keluarga ahli waris agar tetap berdiri kokoh.
Meski tidak digunakan secara rutin, masjid ini masih menjadi tempat ibadah bagi sebagian kecil warga sekitar dan kerap dikunjungi oleh peziarah dari berbagai daerah seperti Boyolali, Karangnongko, dan Cirebon.
Keberadaan Makam Prajurit Diponegoro
Di utara dusun, terdapat makam para prajurit yang pernah bertempur bersama Kiai Mojo. Makam ini hingga kini masih dirawat oleh keluarga ahli waris, yang menjaga warisan sejarah tersebut agar tidak hilang ditelan zaman.
Menurut informasi yang dihimpun, pemugaran makam tersebut pernah dilakukan oleh pihak dari Surakarta.
Lokasi yang Tersembunyi
Keberadaan Masjid Tiban Kiai Mojo memang tidak mudah ditemukan. Dari jalan raya Karanganom-Jatinom, yang terlihat hanya hamparan sawah.
Setelah melewati jalan kecil yang mengarah ke selatan, pengunjung baru akan menjumpai dusun yang dikelilingi oleh rimbunan pepohonan.
Dusun ini sendiri berada di sebuah lembah cekungan di tepi sungai, sehingga dari kejauhan tampak seperti tidak berpenghuni.
Sejarah Berdasarkan Bukti dan Peta Belanda
Sejarawan Klaten, Hari Wahyudi, mengungkapkan bahwa peta Belanda tahun 1930 tidak mencantumkan keberadaan masjid ini.
Hal ini menunjukkan kemungkinan bahwa dulunya masjid ini berbentuk rumah biasa yang kemudian dialihfungsikan sebagai tempat ibadah dan persembunyian.
Berdasarkan laporan perang yang dibuat Mayor de Stuers pada 1830, tercatat adanya pertempuran di sekitar Jungkare dan Gedaren.
Sumber lain juga menyebutkan bahwa Pangeran Diponegoro pernah bermukim di Gedaren, sehingga tidak menutup kemungkinan bahwa daerah Jungkare dan sekitarnya memang menjadi basis laskar Diponegoro.
Masjid Tiban Kiai Mojo di Dusun Pulosari bukan hanya sekadar tempat ibadah, tetapi juga menyimpan jejak sejarah perjuangan pasukan Pangeran Diponegoro.
Keberadaannya yang tersembunyi semakin memperkuat dugaan bahwa tempat ini memang pernah digunakan sebagai markas gerilya.
Meski informasi mengenai pendirinya masih menjadi misteri, masjid ini tetap menjadi bagian penting dari sejarah lokal yang patut dijaga dan dilestarikan oleh generasi mendatang.(Kabarjawa)