
KabarJawa.com – Membahas kekayaan budaya Jawa rasanya tidak akan lengkap jika kita melewatkan pembahasan mengenai bahasanya. Jika kita berbicara soal Bahasa Jawa, maka hal tersebut tak bisa dilepaskan dari keberadaan Aksara Jawa.
Huruf-huruf lekuk yang indah ini rupanya menyimpan sejarah dan asal-usul yang cukup panjang. Sejarah aksara ini bisa dilihat dari dua sudut pandang berbeda.
Ada versi tradisional yang berangkat dari cerita rakyat, dan ada pula versi ilmiah yang menelusurinya lewat pendekatan akademik.
Dan jika Anda tertarik mengetahui lebih dalam, berdasarkan informasi yang dihimpun KabarJawa.com, berikut adalah penjelasan lengkapnya.
Legenda Aji Saka dan Kisah Tragis Dua Sahabat
Menurut penjelasan laman resmi Museum Sonobudoyo Yogyakarta, diketahui bahwa asal-usul aksara Jawa sangat erat kaitannya dengan legenda Aji Saka. Ia adalah seorang tokoh sakti yang dipercaya sebagai pencipta aksara ini.
Kisah bermula ketika Aji Saka hendak pergi mengembara. Ia meninggalkan dua pengikut setianya yang bernama Dora dan Sembada di Pulau Majeti.
Aji Saka memberi tugas khusus kepada mereka untuk menjaga pusaka keris dan perhiasannya. Pesannya sangat tegas, yaitu jangan pernah memberikan barang-barang tersebut kepada siapa pun selain dirinya sendiri.
Singkatnya, Aji Saka kemudian berhasil menjadi raja di Medangkamulan. Karena teringat akan pusakanya, ia mengutus Dora untuk kembali ke Pulau Majeti dan mengambil barang-barang tersebut.
Namun masalah besar muncul di sini. Sembada yang sangat patuh pada pesan awal tuannya menolak menyerahkan pusaka itu kepada Dora.
Di sisi lain, Dora merasa ia hanya menjalankan perintah terbaru dari rajanya. Akhirnya, dua sahabat yang sama-sama setia itu terlibat duel sengit. Karena keduanya memiliki kesaktian yang seimbang, pertarungan berakhir tragis dengan tewasnya Dora dan Sembada.
Lahirnya Hanacaraka
Mendengar kabar kematian dua abdi setianya, Aji Saka merasakan penyesalan yang mendalam. Ia menyadari bahwa kelalaiannyalah yang menyebabkan tragedi ini.
Sebagai wujud penghormatan dan penyesalan, Aji Saka kemudian menciptakan rangkaian aksara yang kini kita kenal sebagai sastra sarimbangan.
Aksara ini terdiri dari 20 huruf yang terbagi menjadi empat baris, yang jika dibaca akan membentuk sebuah puisi naratif tentang kisah tersebut:
- Ha-na-ca-ra-ka (Ada utusan)
- Da-ta-sa-wa-la (Saling berselisih pendapat/berkelahi)
- Pa-dha-ja-ya-nya (Sama-sama sakti/kuat)
- Ma-ga-ba-tha-nga (Sama-sama menjadi mayat/meninggal)
Transformasi Sejarah dan Era Modern
Terlepas dari cerita rakyat tersebut, secara ilmiah Aksara Jawa sebenarnya memiliki akar sejarah yang panjang. Inti sejarah mencatat bahwa aksara ini bertransformasi dari aksara Brahmi India, kemudian berkembang menjadi aksara Kawi, hingga akhirnya menjadi Hanacaraka yang kita kenal.
Memasuki abad ke-19 atau era modern, perkembangan Aksara Jawa mulai mendapat sentuhan teknologi cetak dari bangsa Eropa. Pada masa ini, upaya untuk mencetak aksara Jawa mulai dilakukan secara masif.
Tokoh penting dalam fase ini antara lain Paul van Vlissingen pada tahun 1825 dan Taco Roorda pada tahun 1838. Mereka berjasa menghasilkan font atau cetakan aksara Jawa yang kemudian digunakan secara luas. Gaya cetakan yang mereka kembangkan terutama mengacu pada gaya penulisan Surakarta.
Fungsi Aksara Jawa Masa Kini
Meski zaman telah berganti digital, eksistensi Aksara Jawa tidak lantas punah. Hingga kini, aksara ini tetap menjadi bagian penting dari identitas budaya.
Di wilayah Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dan Jawa Timur, aksara ini tetap diajarkan sebagai muatan lokal di sekolah-sekolah.
Selain itu, pelestariannya juga terus dijaga ketat di lingkungan keraton serta berbagai komunitas budaya. Hal ini membuktikan bahwa Aksara Jawa bukan sekadar huruf kuno, melainkan warisan hidup yang terus beradaptasi dari masa ke masa.***