
KABAR JAWA – Puluhan makam tua di Dusun Ngipikrejo, Kalibawang,Kulon Progo, diduga menjadi peristirahatan prajurit Pangeran Diponegoro yang gugur dalam Perang Jawa 1825–1830. Simak kisah sejarah, kondisi terkini, dan upaya pelestariannya di sini.
Di balik suasana tenang Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, tersimpan kisah heroik perjuangan rakyat melawan penjajah pada abad ke-19.
Perang Jawa, yang pecah antara tahun 1825 hingga 1830, meninggalkan jejak mendalam di wilayah ini.
Pertempuran yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro menelan banyak korban, termasuk para prajuritnya yang kini beristirahat di sejumlah lokasi di Kulon Progo.
Salah satu titik bersejarah itu berada di Dusun Ngipikrejo 2, Kalurahan Banjararum, Kapanewon Kalibawang.
Dari pusat Kota Yogyakarta, lokasi ini dapat ditempuh sekitar 40 menit perjalanan menggunakan kendaraan bermotor, berjarak kurang lebih 25 kilometer.
Lokasi Tersembunyi di Tengah Permukiman
Kompleks makam prajurit Diponegoro di Ngipikrejo 2 tidak berada di area wisata besar, melainkan tersembunyi di tengah pemukiman penduduk.
Letaknya dekat Masjid Baiturrohmah, dan di depan pintu masuknya terdapat lapangan voli yang menjadi pusat aktivitas warga. Sebuah papan kayu hijau bertuliskan “Situs Makam Prajurit P. Diponegoro” menandai keberadaan situs bersejarah ini.
Namun, kondisi makam kini memprihatinkan. Pagar batu yang mengelilinginya telah keropos dimakan usia, sebagian roboh, dan lumut menutupi permukaannya. Nisan-nisan yang tersusun dari timur ke barat pun mulai lapuk, seakan mengisyaratkan panjangnya perjalanan waktu sejak jasad-jasad itu dimakamkan.
berdasarkan cerita turun-temurun, makam itu merupakan peristirahatan terakhir prajurit yang gugur dalam Perang Jawa.
Konon, sekitar 40 prajurit dimakamkan di sini, sementara lainnya tersebar di wilayah Kalibawang, Nanggulan, dan Samigaluh dengan jumlah total yang bisa mencapai ratusan.
Mereka adalah pejuang yang setia kepada Pangeran Diponegoro, angkat senjata demi melawan pasukan kolonial Belanda.
Perombakan Makam dan Temuan Mengejutkan
Ngatirin, mantan Dukuh Ngipikrejo 2, menceritakan bahwa pada awal 1980-an kompleks makam ini pernah mengalami penataan ulang.
Dahulu, makam-makam berada dalam posisi terpencar. Setelah dilakukan perombakan pada 1982, pagar benteng dibangun mengelilingi area, meski kini kondisinya kembali rusak akibat usia dan guncangan gempa.
Dalam proses tersebut, ditemukan sekitar 60 tengkorak prajurit. Karena banyak yang tidak utuh, beberapa jasad dikuburkan dalam satu liang, sehingga jumlah nisan yang ada saat ini tercatat 47.
Sebagian besar identitas prajurit tidak diketahui, kecuali empat tokoh yang diingat warga: Kyai Bulkiyo, Kyai Samparwadi, Kyai Samparwangke, dan Raden Mas Atmojo—para pemimpin pasukan Diponegoro di wilayah ini.
Ngipikrejo Sebagai Markas Perjuangan
Berdasarkan kisah turun-temurun, Ngipikrejo 2 pada masa perang pernah menjadi markas strategis pasukan Diponegoro.
Mereka menempati rumah milik Mbah Jodrono yang berada di sebelah barat Masjid Baiturrohmah, kini berdiri sebuah sekolah. Di tempat itu, pasukan bermukim sekitar delapan bulan, menyimpan persenjataan, dan memelihara kuda.
Selain menjadi pusat komando, wilayah ini juga menjadi tempat perawatan prajurit yang terluka serta pemakaman bagi mereka yang gugur, baik di Ngipikrejo maupun di medan pertempuran sekitar seperti Kokap.
Seruan Penelitian dan Pelestarian
Keberadaan makam ini memantik perhatian Ketua Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional Indonesia (IKPNI) DIY, GBPH H. Prabukusumo.
Menurutnya, perlu dilakukan kajian akademis dan arkeologis untuk memastikan kebenaran sejarahnya. Bila terbukti, temuan ini akan menjadi catatan berharga bagi sejarah nasional dan bisa menjadi simbol nyata dari istilah “pahlawan tanpa tanda jasa.”
Gusti Prabu berharap pemerintah daerah melalui Dinas Kebudayaan dan Dinas Pariwisata DIY dapat terlibat dalam pelestarian situs, dengan langkah yang terukur dan berbasis bukti autentik. Baginya, kisah ini bukan sekadar masa lalu, melainkan pengingat tentang pengorbanan generasi terdahulu demi kemerdekaan bangsa.
Warisan Sejarah yang Menunggu Dijaga
Makam prajurit Diponegoro di Ngipikrejo adalah saksi bisu dari sebuah perjuangan besar melawan penjajahan.
Meski kondisi fisiknya mulai rapuh, nilai sejarah yang terkandung di dalamnya tetap teguh. Dengan penelitian yang tepat dan perhatian dari berbagai pihak, situs ini berpotensi menjadi pusat edukasi sejarah sekaligus penghormatan bagi para pejuang yang namanya mungkin tak tercatat, tetapi jasanya tak ternilai.
***