Mengungkap Sejarah Perjanjian Giyanti: Latar Belakang hingga Maknanya

Bagikan :
Sejarah Perjanjian Giyanti (Dok. Jogjaprov & Jogjakota)

KabarJawa.com – Dalam catatan sejarah tanah Jawa, nama Perjanjian Giyanti menjadi salah satu peristiwa besar yang meninggalkan jejak mendalam.

Peristiwa ini bukan sekadar kesepakatan politik antara para bangsawan Jawa, melainkan juga simbol dari dinamika kekuasaan serta hubungan antara kerajaan-kerajaan lokal dengan kekuatan kolonial pada masa itu.

Bagi masyarakat yang ingin memahami perjalanan sejarah Mataram Islam, kisah Perjanjian Giyanti menjadi salah satu titik penting yang tidak bisa dilewatkan.

Untuk itu, melansir dari laman resmi Dinas Kebudayaan Jogja Kota, berikut adalah pembahasan lengkapnya.

Latar Belakang Perjanjian Giyanti

Awalnya, Mataram Islam merupakan kerajaan besar di tanah Jawa. Namun, hubungan antar keluarga kerajaan mulai merenggang akibat adanya campur tangan pihak asing, terutama dari pihak VOC atau Vereenigde Oostindische Compagnie.

Campur tangan politik dari pihak kolonial Belanda inilah yang akhirnya menimbulkan berbagai konflik internal di kalangan bangsawan Jawa.

Konflik tersebut melibatkan tiga tokoh penting yaitu Susuhunan Pakubuwana II, Pangeran Mangkubumi, dan Raden Mas Said yang dikenal pula sebagai Pangeran Sambernyawa.

Baca juga  Misteri Trowulan: Jejak Kejayaan Majapahit yang Terungkap

Berdasarkan silsilahnya, Pakubuwana II dan Pangeran Mangkubumi merupakan kakak beradik, keduanya anak dari Amangkurat IV. Sementara itu, Raden Mas Said adalah keponakan mereka, putra dari Pangeran Arya Mangkunegara.

Disebutkan bahwa Pangeran Arya Mangkunegara adalah anak sulung dari Amangkurat IV, sehingga secara garis keturunan, ia memiliki hak sebagai pewaris takhta.

Namun karena sikapnya yang keras menentang kebijakan VOC, ia diasingkan ke Srilanka hingga akhir hayatnya.

Setelah itu, VOC menunjuk adik Pangeran Arya Mangkunegara, yaitu Pangeran Prabusuyasa, sebagai penerus takhta dengan gelar Susuhunan Pakubuwana II.

Hal itu kemudian menjadi alasan Raden Said meminta haknya sebagai pewaris takhta Mataram yang diduduki oleh pamannnya itu.

Pemindahan Ibu Kota dan Munculnya Konflik

Pada masa pemerintahan Pakubuwana II, terjadi perubahan besar ketika ibu kota kerajaan dipindahkan dari Kartasura ke Surakarta pada 17 Februari 1745.

Langkah ini diambil setelah terjadinya pemberontakan yang dipimpin oleh Mas Garendi atau Sunan Kuning, yang menghancurkan Keraton Kartasura. Dari sinilah keinginan Raden Mas Said untuk merebut tahta Mataram Islam semakin kuat.

Baca juga  Festival Seni Bela Diri di Yogyakarta: Menjaga Budaya Nusantara Lewat Seni dan Kreasi

Mengingat tujuannya sama, ia pun bergabung dengan Pangeran Mangkubumi untuk menentang kekuasaan Pakubuwana II yang didukung oleh VOC.

Namun, situasi berubah ketika Pakubuwana II meninggal dunia pada 20 Desember 1749. Setelahnya, Pangeran Mangkubumi mengangkat dirinya sebagai raja baru Mataram Islam.

Akan tetapi, ia tidak diakui oleh VOC. VOC kemudian menunjuk putra Pakubuwana II, yaitu Raden Mas Soerjadi, sebagai raja Mataram berikutnya dengan gelar Pakubuwana III.

Jalannya Perundingan dan Isi Perjanjian Giyanti

Untuk mengatasi serangan Raden Mas Said dan Pangeran Mangkubumi, VOC memainkan siasat politik dengan memecah adu domba.

Mereka menghasut Raden Mas Said agar tidak lagi percaya kepada Mangkubumi. Akibatnya, hubungan keduanya memburuk pada tahun 1752.

Melihat peluang tersebut, VOC segera mengadakan perundingan dengan Pangeran Mangkubumi. Mereka menjanjikan separuh wilayah Mataram yang sebelumnya dikuasai Pakubuwana III sebagai bentuk kerja sama.

Setelah melalui berbagai pembicaraan panjang, akhirnya pada tanggal 13 Februari 1755 dicapai kesepakatan yang kemudian dikenal dengan nama Perjanjian Giyanti.

Baca juga  Tradisi Jathilan dan Kuda Lumping: Antara Seni Pertunjukan dan Unsur Mistis yang Melekat Kuat

Isi dari perjanjian tersebut menetapkan bahwa wilayah Mataram dibagi menjadi dua. Bagian pertama dikuasai oleh Pakubuwana III, sedangkan bagian lainnya diserahkan kepada Pangeran Mangkubumi yang kemudian mendirikan kerajaan baru bernama Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Pangeran Mangkubumi kemudian dinobatkan sebagai raja bergelar Sri Sultan Hamengkubuwana I.

Dampak dan Makna Perjanjian Giyanti

Sejak saat itu, peristiwa ini menjadi titik lahirnya dua pusat budaya Jawa yang hingga kini masih bertahan, yaitu Keraton Surakarta dan Keraton Yogyakarta.

Sebagai penanda sejarah penting itu, dibangunlah Monumen Perjanjian Giyanti di daerah Karanganyar, Jawa Tengah.

Monumen ini menjadi saksi bisu dari proses panjang negosiasi, diplomasi, dan perjuangan politik yang membentuk wajah kebudayaan Jawa hingga masa kini.***

Berita Terbaru

Universitas Ngudi Waluyo memiliki 24 program studi dari D3 hingga S2, mencakup bidang kesehatan, bisnis, hukum, dan pendidikan.
Berapakah Jumlah Program Studi yang Ada di Universitas Ngudi Waluyo Saat ini?
Nomor punggung Pelé yang paling ikonik adalah 10. Simak sejarah angka tersebut dan tiga gelar Piala Dunia Brasil.
Apa Nomor Punggung Paling Ikonik Pele di Panggung Piala Dunia?
KKB-Papua
Penembakan Pegawai Dinas Pertanian Jayawijaya, 3 Orang Tewas di Pedalaman Papua
All You Can Eat Steamboat & Grill hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo dengan panorama Menoreh dan pilihan paket menarik.
All You Can Eat Steamboat & Grill Hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo: Kuliner dengan Panorama Menoreh
Jadwal one way Puncak 12-13 September 2026 berlaku situasional. Ganjil genap ditiadakan, cek jam arah naik dan turun.
Jadwal One Way Jalur Puncak12-13 September 2026: Ganjil Genap Ditiadakan, Satu Arah Situasional

Terpopuler

Nama kepala sekolah dan guru SD Pekalongan yang viral belum diumumkan. Disdikbud membenarkan kasus dan menjatuhkan sanksi. (Foto ilustrasi Pixabay/geralt)
Siapa Kepala Sekolah dan Guru SD Pekalongan Viral Video Asusila yang Dicopot Disdikbud?
Video kasir Indomaret viral 7 menit ramai di media sosial. Simak fakta soal isi video, Lylia, dan klaim akun media sosialnya. (Foto ilustrasi: Pixabay/lolo_btl)
Video Kasir Indomaret Viral 7 Menit Isinya Apa dan Nama Akun IG serta TikTok Lylia yang Disebut-sebut Pemeran Video
pemeliharaan jaringan listrik
Jadwal Pemadaman Listrik Surabaya Hari Ini, Cara Cek Info Real Time & Akurat
Lokasi Tilang Operasi Patuh Progo 2026 Jogja
Titik Lokasi Rawan Tilang di Jogja, Operasi Patuh Progo 2026: ETLE Sleman, Bantul dan Sekitarnya
Jadwal one way Puncak 12-13 September 2026 berlaku situasional. Ganjil genap ditiadakan, cek jam arah naik dan turun.
Jadwal One Way Jalur Puncak12-13 September 2026: Ganjil Genap Ditiadakan, Satu Arah Situasional