
Kabar Jawa – Eksistensi permainan tradisional kini semakin memudar karena perkembangan zaman. Oleh karena itu, upaya pelestarian permainan tradisional kerap disuarakan untuk mempertahankannya sebagai salah satu bentuk dari warisan budaya daerah.
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan gaya hidup modern, keberadaan permainan tradisional semakin sulit ditemui, terutama di lingkungan perkotaan.
Permainan yang dahulu menjadi bagian tak terpisahkan dari masa kecil anak-anak kini mulai terlupakan. Padahal, dolanan — sebutan lokal untuk permainan di Jawa Tengah — menyimpan kekayaan budaya, nilai moral, hingga pelajaran hidup yang penting.
Sebagai salah satu provinsi yang kental akan budaya, Jawa Tengah menyuguhkan ragam permainan tradisional yang unik dan sarat makna.
Sayangnya, sebagian besar permainan ini kini hanya bisa dijumpai di desa-desa atau kawasan wisata budaya.
Berikut adalah sepuluh permainan tradisional asal Jawa Tengah yang tidak hanya menyenangkan, tetapi juga sarat akan filosofi dan kebijaksanaan lokal.
1. Cublak-Cublak Suweng: Permainan Lagu dan Tebak-tebakan
Salah satu permainan legendaris yang menggabungkan unsur lagu dan interaksi fisik adalah Cublak-Cublak Suweng. Permainan ini diawali dengan pemilihan satu anak sebagai “Pak Empong” yang akan berbaring telungkup, dikelilingi oleh pemain lain. Mereka meletakkan tangan di punggung Pak Empong, dan secara bergantian menyelipkan kerikil kecil sambil menyanyikan lagu:
Cublak-cublak suweng, suwenge ting gelenter,
Mambu ketundhung gudel, Pak Empong lera-lere,
Sopo ngguyu ndhelikake, sir sir pong dhele kopong…
Ketika lagu mencapai bagian “Sopo ngguyu ndhelikake”, kerikil disembunyikan dan Pak Empong menebak siapa yang menyimpannya. Jika benar, yang ketahuan menyembunyikan kerikil harus menggantikan posisi Pak Empong.
2. Engklek: Permainan Lompatan dan Konsentrasi
Permainan Engklek sering kali digemari oleh anak-anak perempuan. Arena bermainnya dibuat dengan menggambar kotak di tanah secara horizontal dan vertikal menggunakan batu atau kapur. Pemain harus melompati kotak demi kotak dengan satu kaki, lalu kembali ke titik awal.
Jika berhasil menyelesaikan satu putaran, pemain dapat memilih satu kotak sebagai miliknya, yang nantinya tidak boleh diinjak oleh pemain lain. Tantangan dari permainan ini terletak pada keseimbangan dan strategi untuk memenangkan sebanyak mungkin kotak.
3. Congklak: Strategi dan Perhitungan Bijak
Permainan papan yang disebut Congklak ini sangat populer di kalangan anak perempuan. Menggunakan papan kayu atau plastik berlubang 16 (14 lubang kecil dan 2 lubang besar), permainan ini mengajarkan perhitungan dan strategi.
Setiap lubang kecil berisi tujuh biji pada awal permainan. Pemain bergiliran mengambil biji dan menyebarkannya satu per satu. Permainan berakhir ketika semua biji habis, dan pemenangnya adalah yang berhasil mengumpulkan biji terbanyak di lubang besar miliknya.
4. Bekelan: Keterampilan dan Ketelitian
Permainan Bekelan atau Bola Bekel bisa dimainkan oleh satu orang. Dibutuhkan bola karet kecil dan tujuh biji bekel. Pemain melempar bola ke udara sambil mengambil satu biji dan menangkap bola sebelum menyentuh tanah. Proses ini diulang hingga semua biji berhasil diambil.
Kesalahan dalam mengambil biji atau menangkap bola menyebabkan permainan harus diulang dari awal. Selain refleks, permainan ini mengasah koordinasi mata dan tangan.
5. Dhingklik Oglak Aglik: Harmoni dalam Gerak dan Lagu
Permainan ini melibatkan tiga orang yang saling membelakangi sambil saling bergandengan tangan. Masing-masing mengangkat satu kaki yang kemudian dikaitkan ke kaki teman di sebelahnya. Bersama-sama mereka harus menjaga keseimbangan dan bergerak memutar sambil menyanyikan lagu:
Dhingklik oglak aglik, yen kecilik adang gogik…
Permainan ini menekankan pentingnya kerja sama dan keselarasan tubuh.
6. Enggrang: Tantangan Keseimbangan ala Tradisional
Enggrang merupakan tongkat bambu panjang yang diberi pijakan sekitar setengah meter dari dasar. Pemain berdiri di atasnya dan berjalan menjaga keseimbangan. Selain menghibur, permainan ini menantang keterampilan motorik dan mental pemain.
Permainan ini bisa dilakukan secara bergantian atau bersamaan dalam bentuk perlombaan.
7. Bentengan: Adu Strategi dan Ketangkasan Tim
Permainan Bentengan biasanya dimainkan oleh dua kelompok yang terdiri dari empat orang atau lebih. Setiap tim memiliki ‘benteng’ berupa pohon atau tiang. Tujuan permainan adalah menyentuh benteng lawan tanpa tertangkap.
Peran dalam tim pun beragam, ada penyerang, penjaga, dan pengalih perhatian. Permainan ini menumbuhkan strategi tim, kecepatan, dan kerja sama antar pemain.
8. Gasing: Putaran Kayu Penuh Tantangan
Gasing dibuat dari kayu atau batok kelapa kecil berbentuk bulat dengan ujung bawah runcing. Sebuah tali dililitkan pada bagian atas dan dilemparkan dengan kuat ke tanah agar gasing bisa berputar.
Pemenang ditentukan dari lamanya gasing berputar atau seberapa lama ia bertahan di dalam batas area permainan. Selain menyenangkan, permainan ini menantang teknik dan ketelitian.
9. Benthik: Perpaduan Strategi dan Ketepatan
Permainan Benthik membutuhkan tiga batang bambu kecil dengan ukuran berbeda. Pemain meletakkan tongkat panjang di atas lubang kecil, kemudian mencukitnya menggunakan tongkat pendek agar melayang jauh.
Jika tongkat tertangkap oleh lawan, pemain gugur. Bila tidak, jarak lemparan diukur menggunakan tongkat panjang. Semakin jauh, semakin tinggi poin yang diperoleh.
10. Ancak-Ancak Alis: Permainan Lagu dan Peran
Permainan ini cocok untuk dimainkan oleh banyak orang. Dua orang membentuk gerbang dengan menyatukan tangan di atas kepala, sementara pemain lain berbaris dan berjalan melewati gerbang sambil menyanyikan lagu Ancak-ancak Alis.
Saat lagu berakhir, pemain yang berada di bawah gerbang ditangkap dan ditanya untuk memilih induknya. Permainan berlanjut hingga semua pemain mendapatkan peran, seperti kijang betina yang harus menerobos pagar atau kijang jantan yang melompat untuk keluar dari lingkaran.
Menjaga Warisan Budaya Lewat Dolanan
Permainan tradisional seperti dolanan Jawa Tengah bukan hanya sekadar hiburan masa kecil. Di balik kesederhanaannya, permainan ini memuat banyak pesan moral, nilai kebersamaan, kerja sama tim, hingga kecerdikan berpikir.
Melestarikan dolanan berarti menjaga jati diri budaya bangsa. Saat ini, permainan-permainan tersebut memang lebih sering ditemukan di desa wisata atau dalam kegiatan pelestarian budaya. Namun, dengan dorongan dan kepedulian semua pihak, bukan tidak mungkin permainan tradisional ini kembali populer di kalangan generasi muda.***