
KABAR JAWA – Sejarah Alas Mentaok di Yogyakarta menyimpan kisah penting berdirinya Kerajaan Mataram Islam.
Simak cerita lengkap pembukaan hutan Mentaok oleh Ki Ageng Pemanahan hingga lahirnya kerajaan besar di Kotagede.
Awal Mula Alas Mentaok
Di wilayah yang kini dikenal sebagai Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman, dan Kabupaten Bantul, pernah terbentang sebuah hutan lebat bernama Alas Mentaok.
Pada masa lampau, kawasan tersebut merupakan bekas wilayah pusat Kerajaan Mataram Kuno yang berjaya pada abad ke-8 hingga ke-10 Masehi.
Setelah pusat pemerintahan Mataram Kuno berpindah ke Jawa Timur, daerah ini lama terbengkalai hingga akhirnya berubah menjadi hutan rimba.
Ratusan tahun kemudian, kawasan Alas Mentaok berada di bawah kekuasaan Kesultanan Pajang. Pada masa pemerintahan Sultan Hadiwijaya atau Jaka Tingkir pada pertengahan abad ke-16, hutan tersebut mulai memiliki peran penting dalam perjalanan sejarah Jawa.
Pemberian Tanah kepada Ki Ageng Pemanahan
Kisah pembukaan Alas Mentaok berawal dari jasa besar Ki Ageng Pemanahan bersama putranya, Danang Sutawijaya.
Keduanya membantu Jaka Tingkir dalam menumpas perlawanan Arya Penangsang, Adipati Jipang Panolan. Atas keberhasilan itu, Jaka Tingkir yang kemudian bergelar Sultan Hadiwijaya menganugerahkan Alas Mentaok sebagai hadiah kepada Ki Ageng Pemanahan.
Namun, pemberian tersebut tidak serta merta dilakukan. Sultan Hadiwijaya sempat merasa ragu karena hutan Mentaok masih berupa belantara penuh binatang buas. Bahkan ia teringat ramalan Sunan Giri yang menyebutkan bahwa dari tanah Mataram kelak akan lahir seorang penguasa yang lebih besar dibanding raja Pajang.
Peran Sunan Kalijaga dalam Keputusan Pajang
Keraguan Sultan Hadiwijaya akhirnya luluh setelah pertemuannya dengan Sunan Kalijaga. Sang wali meyakinkan bahwa Ki Ageng Pemanahan memiliki kesaktian dan sanggup membuka hutan lebat itu menjadi pemukiman.
Sunan Kalijaga juga meminta Ki Ageng Pemanahan untuk berjanji tidak mengganggu Kerajaan Pajang jika kelak tanah Mentaok berkembang.
Dengan restu tersebut, Sultan Hadiwijaya memberikan surat pengukuhan kepada Ki Ageng Pemanahan. Sejak saat itu, wilayah Mentaok sah berada di bawah pengelolaannya.
Pembukaan Alas Mentaok
Setelah menerima anugerah tersebut, Ki Ageng Pemanahan mengumpulkan warga Desa Sela. Bersama Danang Sutawijaya dan Ki Juru Mertani, mereka berangkat menuju Alas Mentaok.
Rombongan itu menempuh perjalanan jauh hingga tiba di tepian Sungai Opak, tempat mereka kembali bertemu Sunan Kalijaga.
Sunan Kalijaga berpesan agar rombongan selalu bersyukur dan memohon perlindungan kepada Tuhan selama membuka hutan.
Dengan doa dan sesaji, mereka mulai menebas belukar, menyingkirkan pepohonan, serta menjinakkan alam yang masih liar. Setelah kerja keras, Alas Mentaok perlahan berubah menjadi sebuah permukiman baru.
Lahirnya Desa Mataram
Permukiman yang dibangun oleh Ki Ageng Pemanahan kemudian dikenal dengan nama Mataram. Tanah itu berstatus sebagai tanah perdikan, artinya bebas dari pajak kerajaan. Seiring berjalannya waktu, desa Mataram berkembang pesat. Penduduk semakin banyak, pertanian berhasil digarap, dan wilayah tersebut menjadi makmur.
Pada tahun 1575 Masehi, Ki Ageng Pemanahan wafat. Kepemimpinan di tanah Mataram kemudian dilanjutkan oleh putranya, Danang Sutawijaya. Tidak lama berselang, tepatnya pada tahun 1582 Masehi, Danang Sutawijaya melepaskan diri dari kekuasaan Pajang dan mendirikan Kerajaan Mataram Islam dengan gelar Panembahan Senopati.
Ramalan Sunan Giri yang Menjadi Kenyataan
Kekhawatiran Sultan Hadiwijaya atas ramalan Sunan Giri akhirnya terbukti benar. Dari tanah Mataram lahirlah sebuah kerajaan besar yang kelak menjadi salah satu kerajaan Islam paling berpengaruh di Jawa. Kerajaan Mataram Islam yang berpusat di Kotagede berhasil memperluas wilayah kekuasaannya hingga hampir seluruh tanah Jawa.
Warisan Alas Mentaok bagi Yogyakarta
Kini, bekas hutan Alas Mentaok telah berubah menjadi kawasan padat penduduk yang meliputi Kotagede, sebagian wilayah Sleman, dan Bantul.
Di sinilah jejak sejarah panjang Mataram Islam masih bisa ditemukan, mulai dari situs Kotagede hingga berdirinya Keraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.
Alas Mentaok bukan sekadar kisah tentang pembukaan hutan, melainkan simbol awal lahirnya sebuah peradaban besar di Jawa. Dari tanah inilah lahir Panembahan Senopati, pendiri Kerajaan Mataram Islam, yang menjadi titik penting perjalanan sejarah Nusantara.
***