
KabarJawa.com – Di tengah hiruk pikuk perayaan Idul Fitri atau Lebaran, ada satu tradisi yang tak pernah absen dan selalu menciptakan momen paling mengharukan yaitu Sungkeman.
Adegan seorang anak bersimpuh di hadapan orang tua, membungkuk penuh hormat, dan air mata yang tak jarang menetes, adalah pemandangan yang telah menjadi bagian penting dari budaya Lebaran di Indonesia, khususnya di kalangan masyarakat Jawa.
Lebih dari itu, tradisi tersebut sebenarnya menyimpan nilai-nilai filosofis yang tinggi, menekankan pentingnya adab, kerendahan hati, dan pengakuan mendalam akan jasa orang tua.
Jika Anda bertanya-tanya mengapa tradisi Jawa ini seolah tak lekang oleh waktu dan selalu ada saat momen Lebaran, berikut adalah ulasan lengkap mengenai makna dan asal-usulnya.
Apa Makna Filosofis Sungkeman?
Istilah “Sungkeman” berasal dari bahasa Jawa yang secara harfiah berarti sujud, bersimpuh, atau tanda bakti. Tradisi ini menuntut seseorang untuk bersimpuh di hadapan orang tua atau sesepuh sambil merundukkan badan, bahkan sampai menyentuhkan dahi ke tangan orang yang dihormati.
Berdasarkan laman resmi IAITASIK, diketahui bahwa tradisi ini memang menyimpan nilai-nilai filosofis yang tinggi. Jadi, inti dari tradisi sungkeman adalah penekanan pada rasa bakti dan kerendahan hati seorang anak. Yang mana, melalui gerakan ini, seorang anak secara sadar menunjukkan banyak hal.
Sikap bersimpuh atau membungkuk melambangkan kerendahan hati mutlak seorang anak di hadapan figur orang tua. Ini adalah penghormatan mendalam terhadap perjuangan dan jasa-jasa mereka yang telah membina, mendidik, dan membesarkan anak hingga mencapai kedewasaan.
Kemudian, sungkeman juga termasuk pengakuan bahwa segala pencapaian anak tidak lepas dari doa, keringat, dan pengorbanan yang telah diberikan oleh kedua orang tua.
Tradisi ini sebenarnya tidak hanya dilakukan saat Lebaran, tetapi juga pada momen penting lainnya, seperti upacara pernikahan, sebagai simbol permohonan restu dan pelepasan tanggung jawab orang tua.
Tiga Pilar Makna Sungkeman saat Hari Raya Idul Fitri
Sungkeman memiliki resonansi emosional yang jauh lebih kuat ketika dilakukan saat Lebaran, di mana momen ini melambangkan kembalinya seseorang pada fitrah atau kesucian.
Momen Permohonan Maaf
Lebaran menandai berakhirnya puasa dan merupakan waktu yang tepat untuk kembali kepada kesucian. Sungkeman menjadi sarana yang sangat intim dan tulus untuk memohon maaf atas segala kesalahan dan kekhilafan, baik yang disengaja maupun tidak, yang mungkin telah menyakiti hati orang tua selama setahun terakhir.
Perkataan soal permohonan maaf serta pemberian maaf yang terjadi selama sungkeman sering kali menjadi momen haru yang mendalam.
Memperkuat Ikatan Emosional Kekeluargaan
Sungkeman berfungsi sebagai perekat sosial dan emosional. Tradisi ini merekatkan kembali hubungan kekeluargaan yang mungkin sempat renggang karena kesibukan, jarak, atau rutinitas sehari-hari.
Tradisi ini menciptakan suasana haru dan intim, di mana generasi muda bertemu dan memberikan penghormatan kepada sesepuh, sekaligus mempererat tali silaturahmi antaranggota keluarga besar.
Pewarisan Nilai-Nilai Luhur
Melalui sungkeman, nilai-nilai luhur seperti tepa toleransi, empati, rasa hormat, dan disiplin spiritual diturunkan secara visual dan praktik. Generasi muda belajar secara langsung mengenai pentingnya adab dan tata krama terhadap yang lebih tua.
Kenapa Sungkeman Sering Dilakukan Saat Lebaran?
Sungkeman telah menjadi bagian integral dari perayaan Idul Fitri di Indonesia dan seolah menjadi tradisi yang tak terpisahkan.
Jadi, sungkeman merupakan kearifan lokal Jawa yang kaya nilai-nilai luhur, yang kemudian diintegrasikan secara harmonis dengan ajaran Islam mengenai Idul Fitri.
Momen Idul Fitri pun menekankan permohonan maaf dan silaturahmi menjadi wadah yang sempurna bagi tradisi sungkeman.
Kemudian, tradisi ini juga diwariskan dari generasi ke generasi sebagai cara untuk melanggengkan tata krama dan etika ketimuran.
Yang manakekuatan emosional yang dihasilkan dari sungkeman menjadikannya momen yang sangat berkesan dan wajib diulang setiap tahunnya.
Bukan Sekadar Gerakan
Jadi, makna filosofi sungkeman adalah perwujudan fisik dari rasa bakti, kerendahan hati, dan permohonan maaf tulus seorang anak kepada orang tua.
Tradisi Jawa yang luhur ini terus dipertahankan saat Lebaran karena kemampuannya yang unik dalam memadukan nilai keagamaan, etika budaya, dan ikatan emosional keluarga, menjadikannya warisan yang akan tetap ada kini dan nanti.***