
KABAR JAWA – Di sebuah sudut jalan utama di Magelang, tepatnya di sekitar Jembatan Elo, Blondo, pernah berdiri sebuah monumen mobil bekas tabrakan yang di bawahnya bertuliskan “Jangan Menyusul Musibah Kami“.
Monumen itu tidak sekadar bangkai mobil, melainkan simbol dari duka mendalam yang pernah menyelimuti warga Magelang pada awal dekade delapan puluhan.
Sayangnya, monumen itu kini sudah tidak ada lagi, tersapu oleh perubahan zaman dan pelebaran jalan.
Namun, kenangan tentang tragedi besar yang melatarbelakanginya tetap hidup di ingatan masyarakat hingga hari ini.
Tragedi yang Menghentak Magelang
Senin pagi, 24 Agustus 1981, menjadi hari yang tak pernah dilupakan oleh warga Magelang.
Di ruas jalan Blondo yang kala itu masih sempit dan rawan kecelakaan, sebuah peristiwa tragis terjadi.
Sebuah Mitsubishi Colt Station berwarna merah, yang akrab disebut Colt T, melaju dari arah Magelang.
Dari arah berlawanan, sebuah Bus Sumber Waras yang dipenuhi penumpang tengah menuju Yogyakarta.
Kedua kendaraan itu kabarnya sama-sama melaju dengan kecepatan tinggi. Dan mobil Colt T disebut-sebut hendak menyalip kendaraan.
Dalam kondisi jalan yang sempit dan berkelok, malapetaka pun tak terhindarkan. Adu banteng yang keras antara Colt T dan bus tersebut seketika memporak-porandakan suasana.
Colt T ringsek parah, sementara bus besar itu kehilangan kendali hingga akhirnya terjun ke Sungai Elo yang deras.
Korban Jiwa Tragedi Kecelakaan di Blondo
Dampak dari kecelakaan ini sungguh memilukan. Berdasarkan kabar yang beredar, sebanyak 35 nyawa melayang seketika, menjadikannya salah satu tragedi kecelakaan terbesar yang pernah terjadi di Magelang.
Selain itu, tercatat ada 32 orang yang mengalami luka berat dan 20 orang lainnya luka ringan.
Dari puluhan korban jiwa tersebut, tujuh di antaranya merupakan penumpang Colt T yang saat itu mengangkut total 14 orang.
Bagi keluarga korban dan masyarakat sekitar, peristiwa ini meninggalkan luka mendalam.
Nama Blondo pun melekat erat dengan kenangan pahit, sebuah simbol tentang bagaimana kelalaian di jalan raya bisa berujung pada kehilangan yang begitu besar.
Lahirnya Monumen Peringatan
Tidak lama setelah kecelakaan mengerikan itu, didirikanlah sebuah monumen sederhana di dekat lokasi kejadian.
Monumen tersebut terletak kurang lebih 200 meter dari titik kecelakaan. Di sanalah tempat warga masyarakat mengenang momen duka tersebut.
Yang membuat monumen ini begitu berkesan adalah dipajangnya Colt T merah yang hancur akibat tabrakan.
Mobil yang rusak parah itu dijadikan pengingat nyata, seolah berbicara kepada setiap pengendara yang melintas agar selalu berhati-hati di jalan.
Di monumen itu tertera sebuah pesan sederhana namun terkadang bisa bikin merinding siapapun yang melihatnya yaitu “Jangan Menyusul Musibah Kami“.
Kalimat singkat ini menjadi refleksi dari penderitaan korban dan peringatan keras bagi siapa pun yang membacanya.
Hilang, tetapi Tidak Pernah Dilupakan
Seiring berjalannya waktu, perubahan wajah kota tidak bisa dihindarkan. Proyek pelebaran jalan membuat monumen tersebut akhirnya hilang.
Tidak ada lagi tugu atau Colt T yang terpajang di pinggir jalan Blondo. Namun, hilangnya monumen itu tidak serta-merta menghapus ingatan masyarakat tentang tragedi kelam tersebut.
Hingga kini, kisah kecelakaan bus di Blondo masih kerap dibicarakan, terutama oleh warga setempat dan mereka yang melintasi Jembatan Elo.
Cerita itu diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya sebagai pengingat bahwa keselamatan di jalan raya adalah hal yang tidak bisa ditawar.***