
KabarJawa.com – Kawasan Candi Prambanan kembali menjadi pusat ritual sakral Nusantara pada Selasa, 12 November 2025. Perayaan Abhiseka Samapta Diwyottama Siwalaya digelar untuk menandai 1.169 tahun peresmian Candi Siwagrha, momen bersejarah yang berlandaskan Prasasti Siwagrha bertanggal 12 November 856 M yang mencatat peresmian oleh Rakai Kayuwangi Pu Dyah Lokapala.
Tidak hanya menjadi penanda umur salah satu situs penting Mataram Kuna, Abhiseka kini berkembang menjadi agenda nasional yang mempertemukan spiritualitas, kebudayaan, seni, dan pariwisata dalam satu rangkaian ritual. Sejak pertama digelar pada 2019, tahun ini tercatat sebagai pelaksanaan ke-7.
Ketua Panitia Abhiseka 2025, I Wayan Putu Sari, menegaskan bahwa acara ini memiliki makna yang jauh lebih luas daripada prosesi seremonial.
“Abhiseka bukan sekadar ritual tahunan, melainkan momentum spiritual untuk menyucikan diri dan semesta. Ia menjadi simbol kebangkitan nilai-nilai luhur Nusantara,” ujarnya.
Tema dan Ikon: Heramba sebagai Lambang Perlindungan
Tahun ini, panitia mengangkat tema besar “Civilization of Parambrahman – Mamratipurastra: Sajining Susuk Sima”, sebuah gagasan yang menggambarkan kesinambungan peradaban sakral Nusantara.
Ikon yang dipilih adalah Heramba, salah satu sebutan Dewa Ganesha, yang dikenal sebagai pelindung orang lemah dan penjaga kebenaran. Visualisasi ikon ini mengambil inspirasi langsung dari arca Ganesha di Candi Prambanan.
Tak hanya itu, desain ikon juga menampilkan buah mangga, elemen penting yang terpahat pada relief Candi Siwa. Dalam bahasa Sanskerta, mangga disebut Pauh (Poh), yang erat kaitannya dengan nama pusat pemerintahan Mataram Kuna, Poh Pitu. Penggunaan simbol ini menjadi penanda bahwa setiap detail dalam arsitektur dan relief Prambanan memuat pesan yang memiliki akar spiritual dan historis kuat.
Rangkaian Acara: Konferensi Internasional hingga Ritual Utama
Perayaan Abhiseka 2025 berlangsung dalam beberapa rangkaian kegiatan yang menghadirkan para tokoh nasional dan internasional, seniman, pemuka agama, dan mahasiswa mancanegara.
1. Abhiseka International Conference (08.00–12.00 WIB)
Konferensi digelar di kawasan Candi Prambanan dengan menghadirkan sejumlah pakar lintas negara, antara lain:
- Prof. Dr. Amarjiva Lochan
- Nicholas Anderson
- Jusman Muhamad
- IGAK Satrya Wibawa (Perwakilan Tetap UNESCO)
- Gistang Richard Pamungkas (Direktur Komersial TWC)
- Ida Pandita Mpu Jaya Brahmananda
Peserta konferensi berasal dari mahasiswa internasional INCULS FIB UGM, mahasiswa Hindu DIY–Jateng, dan undangan khusus. Mereka membahas seni, budaya, serta spiritualitas Prambanan dalam konteks global dan keberlanjutannya sebagai warisan dunia.
2. Rsi Bhojana Fest: Gastronomi Abad ke-9 (12.00–14.00 WIB)
Festival kuliner ini menghidupkan kembali tradisi makanan yang tercatat dalam 25 prasasti Mataram Kuna. Hidangan yang disajikan pernah digunakan sebagai sesaji dalam ritual Abhiseka pada masa lampau, sehingga menjadi jembatan antara warisan gastronomi klasik dan kebutuhan edukasi budaya masa kini.
3. Ritual Puncak Abhiseka (15.00 WIB)
Prosesi utama dimulai dengan penyambutan Sang Hyang Lingga Yoni dan Tirta Suci melalui Tari Laksita Murti, dilanjutkan pemujaan dan persembahan sesaji suci. Tirta berasal dari beberapa situs purbakala, seperti:
- Candi Gunung Wukir
- Candi Sewu
- Ratu Boko
Semua tirta ini melambangkan penyatuan energi spiritual Nusantara.
Ritual dipimpin oleh empat sulinggih utama:
- Romo Wiku Satya Dharma Telabah (Jawa Tengah)
- Ida Pandita Mpu Jaya Brahmananda (Bali)
- Ida Pandita Mpu Jaya Ananda Yoga (Bali)
- Ratu Bhagawan Dalem Acarya Maha Kerti Wira Jagad Manik (DIY)
Napak Jejak Leluhur dan Karya Seni Kolektif
Sebagai bentuk penghormatan terhadap para leluhur dan pendiri peradaban Mataram Kuna, panitia menggelar prosesi Mendhak Bhatara Tirta Suci. Lebih dari 150 seniman nasional juga terlibat dalam kegiatan Melukis Candi Prambanan, yang bertujuan menangkap esensi spiritual dan estetika arsitektur candi melalui karya visual.
Kolaborasi Lintas Lembaga dan Peran Global Candi Prambanan
Penyelenggaraan Abhiseka merupakan hasil kerja sama antara berbagai lembaga besar, termasuk:
- Kementerian Agama
- Kementerian BUMN
- Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif
- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
- Pemda DIY dan Jawa Tengah
Kolaborasi ini memperkuat posisi Abhiseka sebagai role model wisata spiritual dunia. Candi Prambanan tidak hanya dipandang sebagai mahakarya arsitektur Hindu, tetapi juga sebagai pusat spiritual universal yang membawa pesan kesucian, kebajikan, dan harmoni bagi umat manusia.
Dengan rangkaian kegiatan yang melibatkan berbagai kalangan dan menonjolkan kekayaan budaya lintas abad, perayaan Abhiseka tahun ini kembali menegaskan Prambanan sebagai ruang penyemaian nilai-nilai luhur Nusantara bagi generasi sekarang dan mendatang.***