Tradisi Gumbregan Gunungkidul 2026: saat Rajakaya Menjadi Penopang Ekonomi dan Warisan Budaya Warga Banaran

Bagikan :
Tradisi Gumbregan Gunungkidul 2026/Foto: Pemkab Gunungkidul

KabarJawa.com– Di Padukuhan Banaran IV, Kalurahan Banaran, Kamis (14/5/2026), masyarakat bersama Pemerintah Kabupaten Gunungkidul menggelar upacara adat Gumbregan.

Tradisi turun-temurun tersebut menjadi simbol rasa syukur para peternak atas kesehatan serta keberkahan hewan ternak atau rajakaya yang selama ini menopang kehidupan mereka.

Sejak pagi hari, Pendapa Kelompok Ternak Margo Mulyo penuh warga yang datang membawa hasil bumi, makanan tradisional, hingga sedekah sederhana.

Aroma ketan hangat dan kupat jagung bercampur dengan suara percakapan warga yang memenuhi area pendapa. Di sisi lain, warga menghias dan menyiapkan sejumlah sapi untuk mengikuti prosesi adat yang sakral.

Gumbregan 2026

Momentum budaya itu semakin istimewa ketika Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih hadir langsung di tengah masyarakat.

Kehadiran orang nomor satu di Gunungkidul tersebut memperlihatkan dukungan pemerintah daerah terhadap pelestarian tradisi lokal. Dalam prosesi utama, Bupati melakukan pemotongan tumpeng sebagai simbol rasa syukur.

Kemudian, ia memberikan potongan tumpeng itu kepada sapi milik warga sebagai bentuk penghormatan terhadap rajakaya yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat pedesaan.

“Bagi para peternak, lembu ini adalah rajakaya yang mengantar anak-anak sekolah hingga kuliah,” ujar Bupati di hadapan warga.

Baca juga  Kerajaan Majapahit Memang Sudah Lama Runtuh, Tapi Pengaruhnya Masih Terasa Sampai Sekarang di Budaya Jawa

Pernyataan tersebut langsung menggambarkan betapa besar makna hewan ternak bagi masyarakat Banaran. Sapi bagi warga bukan sekadar aset peternakan. Hewan ternak menjadi tabungan hidup, sumber penghidupan, bahkan penyangga masa depan keluarga.

Suasana haru sekaligus hangat terlihat ketika Bupati mendekati kandang warga dan berinteraksi langsung dengan sapi-sapi milik peternak.

Ia mengusap kepala ternak sambil memanjatkan doa agar hewan-hewan tersebut tetap sehat, berkembang biak dengan baik, dan membawa keberkahan bagi pemiliknya.

Warga yang hadir tampak antusias mengikuti seluruh rangkaian acara. Beberapa sesepuh desa mengenakan pakaian adat Jawa lengkap, sementara generasi muda turut membantu jalannya prosesi.

Kehadiran lintas generasi itu memperlihatkan bahwa tradisi Gumbregan masih memiliki tempat penting di hati masyarakat.

Bupati juga menegaskan bahwa nilai-nilai budaya lokal tidak boleh hilang tertelan perkembangan zaman. Menurutnya, tradisi seperti Gumbregan merupakan identitas masyarakat yang harus terus dijaga bersama.

“Saya berharap agar ritual budaya ini terus dijaga sebagai jati diri bangsa. Selain sebagai ritual, Gumbregan diharapkan membawa keberkahan bagi para peternak sehingga ekonomi kerakyatan di wilayah Banaran semakin kuat dan hasil ternak terus meningkat pada tahun-tahun mendatang,” tuturnya.

Baca juga  31 Simbol Sakral Muncul dalam Kain Singep Cupu Kyai Panjala pada Prosesi Malem Selasa Kliwon 29 September 2025, Ini Makna yang Beredar

Filosofi Gumbregan

Tradisi Gumbregan sendiri memiliki filosofi mendalam bagi masyarakat agraris di Gunungkidul. Dalam budaya Jawa, rajakaya berarti kekayaan utama .

Pada masa lalu, banyak keluarga menggantungkan masa depan mereka pada hasil ternak. Penjualan sapi kerap menjadi solusi ketika keluarga membutuhkan biaya besar, mulai dari pendidikan anak hingga kebutuhan hajatan pernikahan.

Lurah Banaran, Sumito, mnegaskan kembali makna itu. Ia menjelaskan bahwa hewan ternak memiliki posisi strategis dalam sejarah perjalanan ekonomi masyarakat desa.

Menurutnya, banyak anak di Banaran yang berhasil menempuh pendidikan hingga perguruan tinggi berkat hasil penjualan ternak milik keluarga. Bahkan dalam kondisi ekonomi sulit, rajakaya sering menjadi penyelamat utama masyarakat.

Di tengah tantangan ekonomi modern, masyarakat Banaran ternyata tidak berhenti pada pola peternakan tradisional semata.

Kelompok Ternak Margo Mulyo dengan Mbah Haji Sabar sebagai pempimpin kini berkembang menjadi kelompok peternakan yang lebih inovatif dan produktif.

Kelompok tersebut berhasil mengembangkan pengelolaan limbah ternak menjadi pupuk organik yang bernilai ekonomi.

Selain itu, mereka juga memiliki fasilitas khusus untuk memproduksi silase, yakni pakan ternak yang diawetkan agar kebutuhan pakan tetap tercukupi sepanjang tahun.

Baca juga  Garebeg Besar Keraton Yogyakarta 2026 Berlangsung Khidmat, Prosesi Disederhanakan demi Menjaga Nilai Sakral Tradisi

“Inovasi ini menjadi langkah penting agar peternakan rakyat tetap bertahan dan berkembang,” ujar Sumito.

Keberhasilan kelompok ternak itu tidak lepas dari dukungan pemerintah daerah melalui sinergi bersama Dinas Pertanian dan Pangan serta Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA).

Kolaborasi tersebut membantu masyarakat meningkatkan kualitas peternakan sekaligus memperkuat ekonomi berbasis desa.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan, Rismiyadi, Kepala Dinas Kebudayaan atau Kundha Kabudayan, Agung Danarto, serta jajaran Forkopimkap juga menghadiri upacara adat ini.

Menjelang malam, suasana pendapa semakin hangat. Warga duduk bersama menikmati hidangan sederhana yang mereka bawa secara sukarela. Tradisi makan bersama itu menjadi simbol kuat kebersamaan dan gotong royong yang masih terjaga di Banaran.

Doa bersama selepas Magrib menutup seluruh rangkaian upacara adat Gumbregan. Tradisi itu meninggalkan pesan bahwa kekuatan desa tidak hanya bertumpu pada pembangunan fisik, tetapi juga pada kemampuan masyarakat menjaga akar budaya dan solidaritas sosial mereka. (ef linangkung)

Berita Terbaru

Universitas Ngudi Waluyo memiliki 24 program studi dari D3 hingga S2, mencakup bidang kesehatan, bisnis, hukum, dan pendidikan.
Berapakah Jumlah Program Studi yang Ada di Universitas Ngudi Waluyo Saat ini?
Nomor punggung Pelé yang paling ikonik adalah 10. Simak sejarah angka tersebut dan tiga gelar Piala Dunia Brasil.
Apa Nomor Punggung Paling Ikonik Pele di Panggung Piala Dunia?
KKB-Papua
Penembakan Pegawai Dinas Pertanian Jayawijaya, 3 Orang Tewas di Pedalaman Papua
All You Can Eat Steamboat & Grill hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo dengan panorama Menoreh dan pilihan paket menarik.
All You Can Eat Steamboat & Grill Hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo: Kuliner dengan Panorama Menoreh
Jadwal one way Puncak 12-13 September 2026 berlaku situasional. Ganjil genap ditiadakan, cek jam arah naik dan turun.
Jadwal One Way Jalur Puncak12-13 September 2026: Ganjil Genap Ditiadakan, Satu Arah Situasional

Terpopuler

Video kasir Indomaret viral 7 menit ramai di media sosial. Simak fakta soal isi video, Lylia, dan klaim akun media sosialnya. (Foto ilustrasi: Pixabay/lolo_btl)
Video Kasir Indomaret Viral 7 Menit Isinya Apa dan Nama Akun IG serta TikTok Lylia yang Disebut-sebut Pemeran Video
Nama kepala sekolah dan guru SD Pekalongan yang viral belum diumumkan. Disdikbud membenarkan kasus dan menjatuhkan sanksi. (Foto ilustrasi Pixabay/geralt)
Siapa Kepala Sekolah dan Guru SD Pekalongan Viral Video Asusila yang Dicopot Disdikbud?
pemeliharaan jaringan listrik
Jadwal Pemadaman Listrik Surabaya Hari Ini, Cara Cek Info Real Time & Akurat
Lokasi Tilang Operasi Patuh Progo 2026 Jogja
Titik Lokasi Rawan Tilang di Jogja, Operasi Patuh Progo 2026: ETLE Sleman, Bantul dan Sekitarnya
Roberto Carlos masih hidup pada Agustus 2026. Simak kondisi kesehatan, karier, dan perannya sebagai pemegang saham Fursan Hispania. (Foto: instagram/oficialrc3)
Apakah Roberto Carlos Masih Hidup Agustus 2026? Ini Kondisi Terbaru Legenda Brasil dan Real Madrid