
KabarJawa.com – Gunungkidul kembali menghidupkan denyut sejarah dan budaya ketika malam Selasa Kliwon, 29 September 2025, bertepatan dengan 6 Bakdamulud 1959 Taun Dal.
Tradisi sakral Pembukaan Cupu Kyai Panjala berlangsung di Padukuhan Mendak, Kalurahan Girisekar, Kapanewon Panggang, Gunungkidul.
Ribuan pasang mata menyaksikan ritual tua yang penuh misteri, berharap menemukan jawaban atas tanda-tanda yang dipercaya memberi gambaran nasib manusia, pejabat, hingga alam semesta.
Prosesi Sakral yang Dilaksanakan Turun-Temurun
Ritual Pembukaan Cupu Kyai Panjala selalu digelar setiap bulan Jawa Sapar, tepat pada Selasa Kliwon. Tepat pukul 23.00 WIB, suasana hening menyelimuti halaman rumah Juru Kunci, Ki Medi Suminarno. Api damar menyala redup, doa-doa lirih bergema, dan udara malam terasa semakin pekat.
Ki Medi bersama para trah keturunan Kyai Panjala membuka lembar demi lembar kain mori putih yang membungkus tiga cupu sakral: Semar Tinandhu, Palang Kinantang, dan Kenthiwiri.
Kain-kain itu bukan sekadar pembungkus, melainkan medium yang diyakini menyimpan pertanda masa depan. Setiap lembar kain menyingkap simbol-simbol misterius yang menjadi bahan ramalan tahunan masyarakat.
MB. Jayacahyautomo dan Fitri Cahyanto, bertugas mencatat satu per satu gambar yang muncul. Hasilnya, 31 simbol sakral tercatat dengan detail.
Simbol-Simbol yang Muncul dalam Singep 2025
Beberapa simbol tampak sederhana, namun penuh makna. Gambar ayam jantan, kepala manusia, tikus, layangan, hingga tokoh wayang seperti Semar dan Petruk muncul jelas di kain mori. Bahkan, angka 3 tercatat lebih dari sekali, seakan mengulang pesan yang sama.
Di sisi lain, muncul juga gambar pulau Jawa dan Sumatera, sirah brewok, kayon jejeg, hingga bocah kecil. Simbol-simbol ini bukan sekadar bentuk, melainkan dipercaya sebagai pertanda perjalanan sosial, politik, ekonomi, hingga alam pada tahun mendatang.
Yang paling menyita perhatian adalah empat lembar kain singep yang basah, sementara sisanya tetap kering.
Fenomena ini langsung memunculkan tafsir tentang curah hujan tinggi yang akan datang, sebuah pesan penting bagi masyarakat Gunungkidul yang hidup di wilayah karst dengan krisis air abadi.
Simbol yang Muncul dan Tafsir Makna Tahun 2025
Beberapa simbol tampak sederhana, seperti ayam jantan, kepala manusia, tikus, layangan, hingga tokoh wayang Semar dan Petruk. Ada pula angka 3 yang muncul lebih dari satu kali, seakan menekankan pesan tertentu.
Simbol lain yang menarik perhatian antara lain gambar pulau Jawa dan Sumatera, sirah brewok, kayon jejeg, dan bocah kecil. Setiap gambar diyakini memiliki makna yang berkaitan dengan kondisi sosial, politik, ekonomi, hingga alam di tahun mendatang.
Fenomena yang cukup mengejutkan terjadi ketika empat lembar kain singep basah, sementara yang lain tetap kering. Warga menafsirkan hal ini sebagai pertanda curah hujan tinggi yang akan terjadi dalam waktu dekat.
Bagi masyarakat Gunungkidul yang hidup di wilayah karst dengan keterbatasan air, pesan ini memiliki arti penting.
1. Kondisi Alam dan Air
Empat singep basah menandakan intensitas hujan akan tinggi dan datang lebih awal dari perkiraan. Masyarakat perlu bersiap menghadapi ancaman banjir, longsor, dan kerusakan infrastruktur.
Namun, di sisi lain, hujan juga membawa kelimpahan air tanah yang dibutuhkan untuk pertanian dan kehidupan sehari-hari.
Simbol tikus dan gurem mengingatkan akan potensi serangan hama pertanian dan penyakit yang dapat berkembang seiring meningkatnya kelembapan selama musim hujan.
2. Isu Sosial, Ekonomi, dan Politik
Munculnya gambar pulau Jawa dan Sumatera ditafsirkan sebagai pertanda dinamika besar yang melibatkan hubungan antarwilayah.
Arus migrasi, perdagangan, hingga kebijakan nasional diperkirakan akan memengaruhi kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat DIY, termasuk Gunungkidul.
Simbol dua kepala berlawanan arah menggambarkan polarisasi kepemimpinan dan konflik opini di masyarakat. Sementara gambar babi mengisyaratkan potensi masalah moral atau kasus korupsi yang menyeret pejabat atau pihak berkuasa.
Gambar layangan berekor dipandang sebagai lambang pertumbuhan ekonomi yang menjanjikan, tetapi masih memerlukan fondasi yang kuat untuk bertahan.
3. Kepemimpinan dan Spiritualitas
Tokoh wayang seperti Semar, Narodo, dan Petruk menjadi pengingat tentang pentingnya kebijaksanaan pemimpin. Semar yang menghadap ke utara dilihat sebagai simbol arah kebaikan.
Selain itu, gambar orang rukuk dan tulisan Arab Alif memberi pesan agar masyarakat kembali kepada nilai spiritual dan memperkuat iman.
Simbol kepala pria berikat dan kayon jejeg juga menekankan pentingnya budaya lokal dan identitas Jawa sebagai tumpuan moral dalam menghadapi tantangan zaman.
Tahun Air, Konflik, dan Ujian Moral
Pembukaan Cupu Kyai Panjala tahun 2025 menyajikan ramalan yang penuh peringatan. Gunungkidul diprediksi akan menghadapi tahun air, ditandai curah hujan tinggi yang membawa berkah sekaligus tantangan berupa bencana alam.
Di sisi lain, masyarakat juga harus siap menghadapi konflik sosial, polarisasi politik, serta ujian moral yang mungkin terjadi.
Arah cupu yang doyong ke timur dan selatan dianggap sebagai fokus pada isu-isu regional dan kebijakan pemerintahan. Keseluruhan pesan ini mengingatkan bahwa kebijaksanaan pemimpin dan nilai spiritual adalah kunci dalam menyikapi tahun yang penuh dinamika.
Tradisi ini kembali menunjukkan bahwa warisan leluhur bukan sekadar ritual budaya, tetapi juga peringatan bagi masyarakat agar tetap waspada, bersatu, dan menjunjung kearifan lokal untuk menghadapi masa depan.