
KabarJawa.com – Malam di Bangsal Pagelaran Keraton Yogyakarta, Rabu (22/10) itu, berubah menjadi panggung sakral yang penuh pesona dan makna.
Di bawah temaram lampu dan alunan gamelan yang bergema megah, Sri Sultan Hamengku Buwono X duduk menyaksikan langsung trilogi Beksan Trunajaya—mahakarya tari klasik ciptaan Sri Sultan Hamengku Buwono I yang melegenda.
Pementasan ini tidak sekadar ritual seni, tetapi juga menjadi penanda peringatan Tingalan Dalem Taun, atau ulang tahun Sri Sultan HB X dalam penanggalan Jawa yang tahun ini menandai usia ke-82 sang raja.
Mahakarya Tari Klasik di Keraton Yogyakarta
Di hadapan para tamu kehormatan dan keluarga Keraton, Beksan Trunajaya tampil memukau dengan energi yang menggema hingga ke relung batin penonton.
Gerak para penari yang penuh wibawa dan ekspresi yang tegas menuturkan kisah kepahlawanan, strategi perang, dan jiwa kepemimpinan. Semua berpadu dalam satu harmoni yang mencerminkan spirit kesatria Jawa: berani, sabar, dan berimbang.
Turut mendampingi Sri Sultan, hadir GKR Mangkubumi, GKR Condrokirono, GKR Hayu, GKR Bendara, serta KPH Notonegoro.
Keberadaan mereka menegaskan bahwa peristiwa ini bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan ritual budaya paling sakral yang hanya diselenggarakan dalam momentum istimewa.
Di balik kemegahannya, Beksan Trunajaya menjadi ruang spiritual yang menghubungkan nilai-nilai kepemimpinan Jawa dengan kesadaran kosmologis manusia dan alam semesta.
Makna Filosofis dan Kepemimpinan Jawa
Penghageng Kawedanan Hageng Punakawan Nitya Budaya, GKR Bendara, menjelaskan bahwa pementasan ini menegaskan kembali posisi Sri Sultan sebagai Payung Agung, pemimpin spiritual (Sayidin Panatagama Kalifatullah), sekaligus pemimpin budaya.
Menurutnya, ritual ini melambangkan keseimbangan antara mikrokosmos (diri manusia) dan makrokosmos (alam dan kekuasaan).
“Beksan Trunajaya merefleksikan nilai-nilai heroisme, kesetiaan, dan semangat perjuangan. Tarian ini adalah bentuk sublimasi dari tarian perang yang sarat makna kesatriaan dan menuntut penguasaan teknik tinggi,” ujar Gusti Bendara.
Ia menambahkan, pelaksanaan Tingalan Dalem Taun ini juga menjadi Bakti Kagem Nata, bentuk persembahan dan doa dari seluruh Abdi Dalem, Sentana Dalem, serta rakyat kepada Sri Sultan.
Di saat yang sama, kegiatan ini memperkuat posisi Keraton Yogyakarta sebagai living museum, pusat pelestarian budaya dan edukasi lintas generasi yang terus hidup di tengah arus modernitas.
Pimpinan produksi pagelaran, RB Kumudhomatoyo, menjelaskan bahwa Beksan Trunajaya merupakan Yasan Dalem, karya agung ciptaan Sri Sultan Hamengku Buwono I.
Tari ini berakar dari tradisi latihan ketangkasan prajurit Mataram yang dikenal dengan Watangan. Ini adalah adu tombak yang memadukan kekuatan fisik, strategi, dan irama tubuh.
Tarian ini terbagi menjadi tiga bagian, Beksan Lawung Alit, Beksan Lawung Ageng, dan Beksan Sekar Madura.
Ketiganya menggambarkan tahapan kepemimpinan seorang kesatria, dari keberanian menaklukkan diri, keperwiraan di medan laga, hingga pengendalian diri yang menjadi puncak kematangan jiwa.
“Yang membuat Beksan Trunajaya unik adalah penggunaan berbagai bahasa dalam dialog tari—Jawa, Madura, Melayu, Bagelen, dan Bagongan. Ragam bahasa ini mencerminkan asal-usul para prajurit Keraton yang datang dari berbagai daerah di Nusantara, sekaligus menegaskan semangat persatuan dalam keberagaman,” terang Kumudhomatoyo.
Ia menambahkan, harmoni antara gamelan Kanjeng Kyai Guntur Laut dan gerak tari menjadi ruh dari Beksan Trunajaya.
Tabuhan gamelan dengan karakter suara menyerupai guntur melambangkan kekuatan dan keberanian, mengiringi setiap hentakan kaki para penari yang tampil gagah mengenakan busana tradisional bernuansa merah dan emas—simbol keberanian dan kejayaan.
Ritual Sakral dan Wisata Budaya
Pementasan yang dimulai pukul 18.00 WIB itu menyedot perhatian publik. Suasana Bangsal Pagelaran seolah berubah menjadi ruang meditasi kolektif antara penonton dan penari.
Tiap gerak, tiap tabuhan gamelan, menghidupkan kembali napas sejarah yang panjang dan luhur. Para penonton, termasuk wisatawan mancanegara, larut dalam keindahan gerak dan makna yang tersaji.
Sebelum pagelaran dimulai, rangkaian Mangayubagya Tingalan Dalem Taun diawali dengan Kirab Trunajaya dari Gedung DPRD DIY menuju Keraton Yogyakarta.
Sebanyak 52 ekor kuda dan dua kereta pusaka, Kereta Landower Surabaya dan Kereta Permili, menyemarakkan kirab. Para penari, Bregada Prajurit, serta Korps Musik Keraton menambah kemegahan suasana.
Kirab ini menjadi simbol perjalanan spiritual dan budaya, di mana rakyat dan pemimpinnya berjalan beriringan dalam satu langkah menuju harmoni.
Pemerintah Daerah DIY bersama Keraton Yogyakarta terus berkomitmen menjaga kelestarian seni dan budaya Jawa.
Beksan Trunajaya menjadi bukti nyata bahwa warisan adiluhung tidak hanya hidup di panggung upacara, tetapi juga tumbuh dalam kesadaran masyarakat.
Melalui pementasan ini, Yogyakarta kembali menegaskan jati diri sebagai pusat kebudayaan Nusantara. Di setiap hentakan kaki para penari, tersimpan pesan bahwa menjadi pemimpin sejati berarti mampu menyeimbangkan kekuatan, kebijaksanaan, dan ketenangan jiwa. (ef linangkung)