
KabarJawa.com – Malam perlahan turun di Pagelaran Keraton Yogyakarta ketika dua tarian klasik adiluhung menutup perjalanan panjang ziarah budaya.
Pameran temporer Pangastho Aji, Laku Sultan Kedelapan resmi berakhir pada Sabtu malam, 24 Januari 2026, dengan persembahan Beksan Pethilan Gatotkaca Setija dan Bedhaya Bontit.
Dua karya tari tersebut tidak sekadar menjadi penutup seremoni, tetapi juga menandai klimaks perenungan atas laku batin, kepemimpinan, dan visi kebudayaan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII.
Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta sekaligus Raja Keraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, hadir langsung dalam prosesi penutupan.
Sri Sultan didampingi GKR Hayu, GKR Bendara, KPH Notonegoro, KPH Yudanegara, serta RA Nisaka Irdina dan RM Radityo Mandhala Yudo.
Sejumlah perwakilan Forkopimda DIY, mitra kebudayaan, kolega, dan tamu undangan turut menghadiri malam yang berlangsung khidmat dan reflektif tersebut.
Dalam refleksinya, Sri Sultan Hamengku Buwono X menegaskan bahwa Pameran Pangastho Aji merupakan sebuah laku ziarah budaya yang mengajak publik menyingkap perjalanan batin dan pola kepemimpinan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII.
Sang Sultan Kedelapan, menurut Sri Sultan, menanamkan prinsip bahwa kekuasaan tanpa kebudayaan hanya melahirkan kekosongan, sementara kebudayaan tanpa keberpihakan kepada rakyat akan menjadi hiasan tanpa makna.
Nilai tersebut tercermin dalam Beksan Pethilan Gatotkaca Setija yang mengisahkan peperangan antara Prabu Setija, Raja Trajutresna, melawan Raden Gatotkaca, satria Pringgondani, dalam perebutan wilayah Kikis Tunggarana.
Keteguhan Gatotkaca mempertahankan wilayahnya menyiratkan pesan simbolik bahwa kekuasaan sejati tidak semata ditentukan oleh penaklukan, melainkan oleh keberanian moral dan etika kepemimpinan.
Bedhaya Bontit dan Warisan Kepemimpinan Budaya
Lapisan perenungan yang lebih dalam hadir melalui Bedhaya Bontit, tarian Yasan Dalem karya Sri Sultan Hamengku Buwono VII yang bersumber dari epos Mahabharata.
Kisah pertempuran Raden Permadi dan Raden Suryatmaja di Pura Mandaraka berujung pada kesadaran akan kesetaraan kekuatan.
Tidak ada pihak yang menang atau kalah. Keduanya menyatu dalam konsep loroloroning atunggal, filosofi Jawa tentang keseimbangan, kesatuan, dan harmoni.
Sembilan penari Bedhaya Bontit membangun narasi tersebut melalui pola lantai khas yang jarang dipentaskan.
Keunikan pementasan kali ini semakin terasa dengan penggunaan Gendhing Ketawang pada adegan peperangan, sebuah pilihan musikal yang tidak lazim dalam tradisi bedhaya.
Keraton Yogyakarta menegaskan bahwa tradisi tetap hidup melalui dialog kreatif tanpa meninggalkan pakem.
Pameran Pangastho Aji berlangsung sejak 27 September 2025 hingga 24 Januari 2026 di Kompleks Kedhaton Keraton Yogyakarta.
Pameran ini menelusuri perjalanan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII sejak masih bergelar GPH Puruboyo hingga naik takhta pada 8 Februari 1921.
Melalui arsip, benda pusaka, dokumentasi visual, dan instalasi interaktif, pengunjung diajak memahami konteks sosial, politik, dan kebudayaan Jawa pada awal abad ke-20.
Penghageng Kawedanan Hageng Punakawan Nitya Budaya, GKR Bendara, menyampaikan bahwa Keraton Yogyakarta secara konsisten menghadirkan pameran berbasis positivisme sejarah, dengan narasi yang akurat dan kontekstual.
Hingga penutupan, pameran ini telah dikunjungi lebih dari 260 ribu orang dan didukung lebih dari 10 program publik sebagai bagian dari penguatan ekosistem wisata budaya berkelanjutan.
Melalui Pameran Pangastho Aji, Keraton Yogyakarta menegaskan perannya sebagai ruang pembelajaran sejarah, refleksi kepemimpinan, sekaligus dialog kebudayaan, yang merawat laku batin para raja Jawa dan relevansinya bagi kehidupan masyarakat masa kini.