
KabarJawa.com– Kabut mulai menghilang karst Gunungkidul ketika langkah-langkah warga Padukuhan Gangsalan Lor mengarah ke Petilasan Gedong Karang. Pada Kamis Pon, 5 Februari 2026, suasana hening menyelimuti kawasan sakral itu.
Warga Kalurahan Nglindur, Kapanewon Girisubo, Kabupaten Gunungkidul, berkumpul dengan satu tujuan: melaksanakan tradisi ruwahan, sebuah ritual budaya yang mempersatukan doa, sejarah, dan rasa hormat kepada leluhur menjelang bulan suci Ramadan 1447 Hijriah.
Tradisi ruwahan bukan sekadar agenda tahunan. Masyarakat setempat memaknainya sebagai perjalanan batin untuk membersihkan hati, menata niat, dan menyambut Ramadan dengan kesadaran spiritual yang utuh.
Di tengah perubahan zaman, warga Gangsalan tetap memegang teguh warisan budaya yang mengajarkan nilai kebersamaan, kerendahan hati, dan penghormatan terhadap asal-usul.
Petilasan Gedong Karang
Petilasan Gedong Karang, yang juga dikenal sebagai Petilasan Brawijaya V, berdiri sebagai saksi bisu perjalanan sejarah dan spiritual masyarakat Gangsalan.
Menurut cerita tutur dari generasi ke generasi, tempat ini pernah menjadi persinggahan Nyai Bondan Surati, salah satu selir Raja Brawijaya V dari Kerajaan Majapahit.
Dalam pengembaraannya meninggalkan istana, Nyai Bondan Surati mencari ketenangan batin sekaligus menyebarkan nilai-nilai kebijaksanaan.
Masyarakat setempat menjaga petilasan ini bukan sebagai peninggalan fisik semata, melainkan sebagai ruang spiritual yang hidup.
Setiap doa yang terlantun di Gedong Karang seolah menyatu dengan jejak langkah leluhur yang pernah menapaki tanah itu ratusan tahun silam.
Ruwahan di Padukuhan Gangsalan Gunungkidul
Warga sering menyebut ruwahan sebagai nyadran. Tradisi ini berlangsung pada bulan Ruwah atau Syakban dalam penanggalan Jawa, tepat sebelum Ramadan.
Melalui nyadran, masyarakat Jawa menyampaikan doa kepada para leluhur sekaligus memohon keselamatan, kelancaran ibadah puasa, dan keberkahan hidup.
Di Padukuhan Gangsalan, ruwahan tidak hanya menghadirkan doa bersama. Tradisi ini juga menghidupkan gotong royong.
Warga saling berbagi peran, mulai dari menyiapkan sesaji, membersihkan area petilasan, hingga mengatur jalannya prosesi adat. Kebersamaan itu menghadirkan kehangatan yang jarang ditemukan dalam kehidupan modern yang serba individual.
Juru Kunci Gedong Karang, Mbah Warno, memimpin prosesi dengan penuh khidmat. Dalam sambutannya, ia menyampaikan harapan agar ruwahan membawa ketenteraman dan keharmonisan bagi seluruh warga.
“Meniko ngawontenaken ruwahan supados diparingi Gusti Allah ayem tentrem, atut runtut sedoyo wargo, kasembadan sing digayuh,” tuturnya lirih namun sarat makna.
Ucapan itu tidak sekadar menjadi rangkaian kata. Warga yang hadir meresapi pesan tersebut sebagai pengingat bahwa harmoni sosial dan spiritual harus berjalan beriringan agar kehidupan tetap seimbang.
Dukungan Pemerintah
Tradisi ruwahan tahun ini mendapat perhatian khusus dengan kehadiran Wakil Bupati Gunungkidul Joko Parwoto, RM Aning Hestriasning atau Ndoro Aning, Panewu Girisubo, lurah dan perangkat kalurahan, tokoh adat, serta masyarakat setempat.
Kehadiran para pemangku kepentingan ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya bukan hanya tanggung jawab masyarakat, tetapi juga pemerintah.
Wakil Bupati Gunungkidul Joko Parwoto menyampaikan apresiasi atas komitmen warga Kalurahan Nglindur dalam menjaga adat istiadat leluhur.
“Saya memberikan apresiasi kepada masyarakat Kalurahan Nglindur dan pengurus desa wisata yang telah sungguh-sungguh menjaga dan terus melestarikan adat serta tradisi leluhur kita,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa tradisi seperti ruwahan memiliki nilai strategis dalam memperkuat identitas budaya sekaligus mendukung pengembangan desa berbasis kearifan lokal.
Lebih dari sekadar ritual adat, ruwahan di Padukuhan Gangsalan menjadi ruang refleksi kemanusiaan. Warga menundukkan ego, mengingat jasa para pendahulu, dan menata ulang hubungan antarsesama.
Doa-doa yang terucap mengalir sebagai harapan akan kehidupan yang lebih damai, adil, dan penuh empati. Di tengah arus globalisasi, tradisi ini mengajarkan bahwa manusia tidak pernah benar-benar berdiri sendiri.
Masyarakat Padukuhan Gangsalan berharap generasi muda terus melestarikan tradisi ruwahan di Petilasan Gedong Karang. Mereka meyakini bahwa budaya bukan beban masa lalu, melainkan kompas moral untuk menghadapi masa depan.
Tradisi ini menjadi bukti bahwa penghormatan kepada leluhur mampu menumbuhkan nilai kemanusiaan yang universal, lintas zaman, dan lintas generasi. (ef linangkung)