
KabarJawa.com– Perayaan Rasulan di wilayah Kapanewon Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul, berlangsung meriah dan penuh semangat kebersamaan pada Rabu (22/04/2026).
Tradisi tahunan yang menjadi wujud rasa syukur masyarakat atas hasil panen ini menghadirkan kirab budaya, kesenian tradisional, hingga pagelaran wayang kulit yang memikat perhatian warga.
Sejak siang hari, suasana Kalurahan Kemadang sudah dipadati warga yang antusias mengikuti rangkaian acara.
Tujuh padukuhan, yakni Ngasem, Nglaos, Pucung, Tenggang, Ngelo, Karanglor 1, dan Karanglor 2, turut ambil bagian dalam perayaan tersebut. Masing-masing padukuhan menampilkan gunungan hasil bumi yang artistik dan penuh makna filosofis.
Rasulan Gunungkidul 2026
Warga kemudian mengarak gunungan tersebut dalam kirab budaya yang berjalan meriah. Mereka mengiringi arak-arakan dengan berbagai kesenian tradisional seperti Reog, Doger, dan Wong Ireng.
Irama musik tradisional berpadu dengan sorak sorai masyarakat menciptakan suasana yang hidup dan sarat nilai budaya.
Kirab bergerak menuju balai padukuhan sebagai titik kumpul utama. Setelah kirab selesai, warga langsung melanjutkan acara dengan kenduri bersama. Mereka duduk bersila, menyantap hidangan secara sederhana, namun penuh makna kebersamaan dan rasa syukur.
Salah satu panitia Rasulan Kemadang, Agus Risgiyanto, menjelaskan bahwa perayaan tahun ini melibatkan sekitar 420 kepala keluarga. Setiap keluarga berkontribusi melalui iuran sebesar Rp105.000.
“Perayaan tahun ini tetap meriah meski ada perbedaan dari tahun sebelumnya. Tahun lalu kami menampilkan pentas ketoprak, sementara tahun ini tidak ada,” jelas Agus.
Meski demikian, panitia tetap menyuguhkan hiburan yang tidak kalah menarik. Pada malam hari, masyarakat akan menikmati pagelaran wayang kulit oleh dalang Ki Mendhot Swasono. Pagelaran tersebut menjadi penutup rangkaian acara sekaligus magnet utama bagi warga.
Antusiasme masyarakat yang tinggi sempat menyebabkan kemacetan di jalan raya depan Balai Kalurahan Kemadang.
Arus lalu lintas tersendat beberapa saat akibat membludaknya penonton yang ingin menyaksikan kirab budaya. Namun, situasi tetap terkendali dan kegiatan berlangsung lancar.
Tidak hanya di Kemadang, kemeriahan Rasulan juga terasa di Kalurahan Kemiri yang berada di wilayah Kapanewon Tanjungsari. Sebanyak lima padukuhan menggelar tradisi serupa pada hari yang sama, Rabu Wage (22/04/2026).
Sumber Dana
Di Padukuhan Glagah, warga secara swadaya mengumpulkan iuran sebesar Rp220 ribu per kepala keluarga. Dana tersebut digunakan untuk menyelenggarakan rangkaian acara yang berlangsung selama beberapa hari.
Kegiatan berlangsung sejak Senin (20/04/2026) malam dengan pengajian. Warga kemudian melanjutkan acara dengan kenduri, pentas kesenian jathilan, hingga pertandingan sepak bola yang melibatkan masyarakat setempat.
Ketua Panitia Rasulan Padukuhan Glagah, Fatoni bersama Subarno, menyebutkan bahwa total dana yang terkumpul mencapai sekitar Rp 37 juta. Dana tersebut mencerminkan tingginya partisipasi dan semangat gotong royong warga.
Subarno menambahkan bahwa perayaan Rasulan di Kalurahan Kemiri tidak terpusat di satu lokasi saja. Beberapa padukuhan menggelar kegiatan secara terpisah sesuai kesepakatan masing-masing warga.
Padukuhan Gebang dan Kemiri, misalnya, menggelar acara secara gabungan di Balai Padukuhan Gebang. Mereka menghadirkan pertunjukan wayang kulit dengan dalang Ki Sulis dari Wonosari sebagai hiburan utama malam hari.
Sementara itu, Padukuhan Dayakan 1 dan Dayakan 2 juga menyelenggarakan Rasulan yang dipusatkan di Balai Padukuhan Dayakan 2. Mereka menampilkan pagelaran wayang kulit oleh dalang Ki Sugiran yang turut memeriahkan suasana.
“Khusus Padukuhan Glagah memusatkan kegiatan di Balai Kalurahan Kemiri. Untuk iuran warga tiap padukuhan berbeda-beda, tergantung hasil kesepakatan,” ujar Subarno.
Tradisi Rasulan yang berlangsung di berbagai padukuhan ini tidak hanya menjadi ritual budaya, tetapi juga menjadi sarana mempererat hubungan sosial antarwarga.
Momentum ini bukan sekadar perayaan, tetapi juga identitas yang mengikat kebersamaan dan memperkuat jati diri masyarakat di tengah arus modernisasi. (ef linangkung)