
Kabar Jawa – Di balik keindahan alam perbukitan Menoreh, terdapat sebuah perkampungan yang dikenal dengan sebutan “Kampung Mati”.
Terletak di Dusun Watu Belah, Kalurahan Sidomulyo, Kapanewon Pengasih, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, kampung ini menyimpan cerita tentang kehidupan yang terisolasi dan ketahanan sebuah keluarga yang tetap bertahan meskipun tantangan besar menghadang.
Sejarah Kampung Mati
Dahulu, Dusun Watu Belah merupakan rumah bagi sekitar tujuh kepala keluarga. Namun, seiring berjalannya waktu, penduduk mulai meninggalkan kampung ini. Penyebab utama eksodus ini adalah akses jalan yang sulit dan kondisi geografis yang menantang.
Jalan setapak berbatu dengan kemiringan hingga 70 derajat membuat kendaraan tidak dapat menjangkau kampung ini, memaksa penduduk untuk berjalan kaki sejauh 1,5 hingga 2 kilometer untuk mencapai rumah mereka.
Kehidupan Keluarga Sumiran
Di tengah kesunyian kampung yang ditinggalkan, hanya satu keluarga yang tetap bertahan: keluarga Sumiran. Sumiran (50 tahun) dan istrinya, Sugiati (51 tahun), bersama dua anak mereka, Agus Sarwanto (24 tahun) dan Dewi Septiani (11 tahun), telah menetap di Kampung Mati selama lebih dari dua dekade.
Mereka mengandalkan sumber daya alam sekitar, seperti kayu bakar, rumput, daun singkong, dan air dari Sendang Pule, sebuah mata air alami di atas kampung.
Kondisi geografis yang terisolasi membuat kehidupan di Kampung Mati penuh tantangan. Jalan menuju kampung ini hanya dapat dilalui dengan berjalan kaki melalui jalur berbatu yang curam.
Musim hujan menambah risiko, dengan tanah yang licin dan potensi batuan yang jatuh, meningkatkan bahaya bagi siapa saja yang mencoba mengaksesnya.
4. Kehidupan Sosial dan Budaya
Meskipun terisolasi, keluarga Sumiran tetap menjaga hubungan sosial dengan masyarakat sekitar. Mereka rutin menghadiri acara-acara sosial seperti pernikahan dan upacara kematian di desa terdekat.
Hal ini menunjukkan bahwa meskipun fisik mereka terpisah, ikatan sosial dan budaya tetap terjaga dengan baik
Kisah Mistis dan Kepercayaan Lokal
Kampung Mati tidak hanya dikenal karena isolasinya, tetapi juga karena cerita-cerita mistis yang berkembang di masyarakat.
Beberapa orang percaya bahwa keberadaan kampung ini menyimpan aura tertentu, dan hanya keluarga Sumiran yang dianggap mampu bertahan di tengah suasana yang dianggap angker oleh sebagian orang.
***