
KabarJawa.com – Baru-baru ini, istilah Jumenengan Dalem menjadi topik yang banyak diperbincangkan publik. Istilah sering muncul terutama ketika terjadi peralihan pemimpin di lingkungan keraton Jawa.
Namun, tidak sedikit orang yang masih bertanya tanya tentang apa sebenarnya makna dari Jumenengan Dalem dan peran penting diadakannya upacara ini. Maka, untuk memahami lebih jauh, berikut penjelasan lengkapnya.
Apa Itu Jumenengan Dalem?
Dalam tradisi keraton, Jumenengan Dalem dikenal sebagai salah satu prosesi paling sakral. Jika merujuk pada penjelasan di Kamus Besar Bahasa Indonesia, istilah jumeneng atau jumenengan menggambarkan upacara penobatan raja atau ratu, serta peringatan penobatan tersebut selama penguasa masih menjalankan tugasnya.
Dengan dasar ini, Jumenengan Dalem dapat dipahami sebagai prosesi resmi naiknya seorang raja atau sultan ke takhta.
Upacara ini menandai legitimasi seorang pemimpin baru dan menjadi momen penting yang menentukan kelanjutan garis keturunan di lingkungan kerajaan Jawa.
Tinggalan Jumenengan Dalem dan Maknanya
Selain penobatan raja, masyarakat keraton juga mengenal adanya Tinggalan Jumenengan Dalem, yaitu rangkaian upacara peringatan penobatan yang digelar setiap tahun.
Di Keraton Yogyakarta, misalnya, puncak peringatan ini adalah Sugengan, sebuah ritual doa bersama untuk memohon keselamatan, panjang umur bagi Sultan, kemuliaan takhta, serta kemakmuran rakyat Yogyakarta.
Setelah itu, dilakukan upacara Labuhan di berbagai lokasi yang dianggap sakral seperti gunung dan laut. Prosesi Labuhan menjadi simbol bahwa Sultan memiliki kewajiban menjaga keselarasan alam dan menjalankan prinsip Hamemayu Hayuning Bawono, yaitu menjaga keindahan serta keharmonisan dunia.
Peringatan serupa juga dilakukan di Surakarta. Berdasarkan laman resmi Pemerintah Kota Surakarta, diketahui bahwa Pura Mangkunegaran setiap tahun menyelenggarakan Tinggalan Jumenengan untuk mengenang naik takhta Mangkunegara.
Acara ini dipersiapkan dengan tatanan adat yang dijaga turun temurun. Kemudian, di lingkungan Keraton Surakarta Hadiningrat, peringatan naik takhta seorang Pakubuwono pun dikenal sebagai Tinggalan Dalem Jumenengan dan tetap dirayakan melalui prosesi adat yang telah berlangsung sejak era kerajaan lama.
Tradisi Keraton yang Terus Dilestarikan
Jadi kesimpulannya, Jumenengan Dalem adalah prosesi penobatan raja. Upacara ini juga akan menggambarkan perpaduan antara spiritualitas, budaya, dan sistem pemerintahan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Melalui prosesi ini pula masyarakat dapat melihat bahwa naik takhta seorang raja bukan semata pergantian pemimpin, tetapi juga momentum untuk meneguhkan tanggung jawab moral serta keberlanjutan tradisi leluhur.
Hingga saat ini, Jumenengan Dalem tetap dipertahankan sebagai bagian penting dari perjalanan sejarah keraton di Jawa.***