
KabarJawa.com– Wakil Menteri Koperasi dan UKM Republik Indonesia, Hj. Farida Farichah, M.Si, secara langsung mengunjungi UMKM Aloe Land.
Aloe Land berlokasi di Padukuhan Jeruk Legi, Kalurahan Katongan, Kapanewon Nglipar, Gunungkidul pada Sabtu sore (27/12/2025).
Kunjungan tersebut menegaskan keseriusan pemerintah dalam mendorong produk unggulan desa agar mampu bersaing di tingkat nasional.
Kemudian, kunjungan kerja sore itu melibatkan sekitar 25 peserta dan berjalan dalam suasana hangat, dialogis, serta penuh antusiasme.
Kunjungan Wamenkop ke Aloe Land Gunungkidul
Wamenkop Farida tampak aktif berdiskusi dengan pengelola UMKM dan warga setempat sambil meninjau langsung proses pengelolaan usaha berbasis tanaman aloe vera yang selama ini menjadi ikon Aloe Land.
Sejak awal kunjungan, Farida menunjukkan ketertarikan mendalam terhadap konsep pemberdayaan masyarakat yang dijalankan Aloe Land.
Ia mengamati langsung kebun aloe vera, sistem produksi, hingga berbagai produk olahan yang dihasilkan oleh UMKM tersebut. Farida menilai Aloe Land berhasil membuktikan bahwa desa mampu tumbuh dan berkembang melalui inovasi berbasis potensi lokal.
Dalam kunjungan tersebut, Farida Farichah hadir bersama Kepala Biro Humas, TU, dan TI Kementerian Koperasi dan UKM Darmono.
Rombongan juga didampingi oleh Kepala Dinas Perindustrian, Koperasi, UKM, dan Tenaga Kerja Kabupaten Gunungkidul Drs. Supartono, ST, MT, Kabid Koperasi dan UMKM Gunungkidul Agung, serta unsur Forkopimkap Nglipar.
Selain itu, hadir pula Ketua Pengurus BMT Dana Insani Kurniawan Fahmi, Ketua UMKM Aloe Land Alan Efendi, perwakilan TNI-Polri, dan perangkat kalurahan setempat.
Di hadapan pengelola UMKM dan masyarakat, Farida secara terbuka menyampaikan kekagumannya terhadap semangat dan konsistensi Aloe Land dalam mengembangkan ekonomi desa.
Ia menegaskan bahwa UMKM seperti Aloe Land mampu menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi baru dari desa.
“UMKM di Aloe Land ini membuktikan bahwa setiap desa bisa maju. Apa yang disampaikan Mas Alan menunjukkan bahwa desa tidak harus tertinggal, justru bisa menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru,” ujar Farida dengan penuh keyakinan.
Farida juga mengungkapkan pengalamannya yang selama ini mengenal produksi aloe vera hanya berkembang di wilayah Pontianak, Kalimantan Barat.
Peluang Aloe Vera
Namun, setelah melihat langsung potensi Aloe Land di Gunungkidul, ia menilai Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memiliki peluang besar untuk menjadi sentra aloe vera berbasis desa.
“Kalau nanti KDMP sudah ada produksi aloe vera, saya ingin produk ini bisa hadir di seluruh KDMP di Indonesia,” tegas Farida, sekaligus membuka peluang pasar nasional bagi produk Aloe Land.
Lebih lanjut, Wamenkop mendorong agar setiap desa memiliki produk unggulan khas. Produk itu akan memberikan nilai tambah ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Ia menargetkan dalam waktu dekat, produk Aloe Land dapat masuk ke pasar DIY, terutama untuk memenuhi kebutuhan hotel, restoran, dan sektor pariwisata yang terus berkembang di wilayah tersebut.
Farida juga mendorong pengelola Aloe Land untuk terus berinovasi dengan mengembangkan produk turunan aloe vera.
Ia menyebutkan beberapa peluang produk bernilai tambah tinggi, seperti lulur, produk perawatan tubuh, kosmetik herbal, dan produk kesehatan alami.
Menjelang akhir kunjungan, Farida memberikan apresiasi khusus kepada Alan Efendi, Ketua UMKM Aloe Land. Ia selama ini konsisten menggerakkan ekonomi lokal berbasis komunitas.
Farida juga memberikan dukungan moral kepada Alan yang tengah mengikuti ajang Local Hero Award atau Apresiasi Penggerak Komunitas Lokal oleh Pertamina.
“Semangat dan sukses selalu untuk Mas Alan. Apa yang dilakukan ini luar biasa dan patut menjadi contoh bagi desa-desa lain di Indonesia,” ucap Farida.
Keberadaan UMKM Aloe Land Gunungkidul kini juga membuka lapangan kerja baru serta menciptakan sumber penghasilan tambahan bagi masyarakat sekitar.
Dengan dukungan pemerintah pusat dan daerah, UMKM Aloe Land akan memperluas jangkauan pasar hingga tingkat nasional. (ef linangkung)