
KabarJawa.com– Di bawah terik matahari, para petani Kulon Progo berkumpul dengan penuh semangat. Mereka datang bukan sekadar untuk mendengar pidato pejabat.
Para petani itu menyuarakan aspirasi yang selama ini tertahan di hati: harapan agar pupuk SP-36 kembali masuk dalam daftar pupuk bersubsidi.
Suara Petani Kulon Progo
Dalam sesi dialog hangat bersama Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, di Kalurahan Demangrejo, Kapanewon Sentolo, Kabupaten Kulon Progo, Minggu (2/11/2025), suara-suara para petani terdengar lantang.
Mereka menyampaikan rasa terima kasih kepada pemerintah atas penurunan harga pupuk dan meningkatnya harga gabah, namun juga menuntut perhatian terhadap kebutuhan nyata di lapangan.
“Pupuk SP-36 sangat dibutuhkan untuk meningkatkan hasil panen kami, tapi saat ini sulit dijangkau karena tidak lagi disubsidi,” ujar salah satu petani Sentolo dengan nada penuh harap.
Selain itu, para petani juga menyoroti persoalan mutu benih dan kelangkaan pupuk petroganik, dua hal penting yang sering kali menentukan keberhasilan musim tanam.
Menanggapi berbagai aspirasi tersebut, Menko Pangan Zulkifli Hasan menegaskan komitmen pemerintah untuk mendengar langsung suara petani dan segera menindaklanjutinya.
“Semua masukan akan kita catat dan tindak lanjuti. Pemerintah berkomitmen memperbaiki layanan bagi petani. Kita ingin hasil pertanian terus meningkat, dan kesejahteraan petani makin baik,” tegas Zulkifli.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Presiden Prabowo Subianto, yang disebutnya sebagai tokoh di balik kebijakan penurunan harga pupuk bersubsidi.
“Terima kasih kepada Bapak Presiden Prabowo Subianto yang telah menurunkan harga pupuk. Ini bukti nyata keberpihakan pemerintah kepada petani,” ujarnya.
Harga Pupuk Turun
Dalam penjelasannya, Zulkifli menyebut bahwa sejumlah jenis pupuk kini mengalami penurunan harga cukup signifikan.
- Pupuk Urea turun dari Rp2.250 menjadi Rp1.800 per kilogram.
- NPK Phonska dari Rp2.300 menjadi Rp1.840 per kilogram.
- NPK Kakao dari Rp3.300 menjadi Rp2.640 per kilogram.
- ZA dari Rp1.700 menjadi Rp1.360 per kilogram.
- Pupuk organik dari Rp800 menjadi Rp640 per kilogram.
Penurunan harga ini membawa angin segar bagi para petani yang selama ini terbebani oleh biaya produksi tinggi.
Dengan harga pupuk yang lebih terjangkau dan ketersediaan yang tepat waktu, produktivitas pertanian pun meningkat pesat.
Zulkifli menyebut bahwa tahun 2025 menjadi titik balik penting bagi pertanian Indonesia. Sehingga tahun ini, Indonesia tak perlu lagi mengimpor beras dari negara lain.
“Tahun lalu kita impor beras 4,5 juta ton. Tahun ini kita tidak impor lagi karena stok di Bulog sudah mencapai 4 juta ton,” tegasnya.
Selain pupuk, pemerintah juga memastikan harga gabah di tingkat petani tetap stabil dan menguntungkan.
Kini harga gabah di banyak daerah berada di kisaran Rp6.500 hingga Rp7.000 per kilogram, memberikan keuntungan nyata bagi petani.
“Nilai tukar petani tahun ini naik hampir 7 persen. Artinya, kesejahteraan petani juga meningkat. Kita ingin tren positif ini terus berlanjut,” ujar Zulkifli.
Dalam kesempatan tersebut, Menko Pangan juga mendorong Kulon Progo untuk menjadi lumbung pangan utama di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Ia mengajak seluruh petani memanfaatkan setiap jengkal tanah agar tidak ada lahan yang terbengkalai.
“Jangan ada lahan kosong. Tanami padi, jagung, cabai, sayuran, atau buah. Pemerintah akan terus mendukung dengan pupuk terjangkau, bibit bermutu, dan pasar yang luas,” ujarnya.
Ia menegaskan, dukungan pemerintah tidak hanya berhenti pada penyediaan pupuk dan bibit, tetapi juga pada perluasan pasar dan penyerapan hasil produksi.
Zulkifli juga menyinggung program makanan bergizi gratis yang tengah dijalankan pemerintah untuk 82,9 juta penerima manfaat, mulai dari ibu hamil, balita, hingga pelajar dari TK sampai SMA.
“Kita butuh 82,9 juta porsi nasi, telur, sayur, dan ikan setiap hari. Artinya, petani, peternak, dan nelayan akan terus memiliki pasar yang besar,” ungkapnya.
Dengan kebutuhan pangan nasional yang sedemikian besar, sektor pertanian, peternakan, dan perikanan diprediksi akan menjadi tulang punggung perekonomian rakyat di masa depan. (ef linangkung)