
KabarJawa.com — Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, mengingatkan calon wisudawan Universitas Gadjah Mada (UGM) agar tidak menjadi generasi strawberry. Hal itu disampaikan saat menjadi narasumber dalam Talk Show Sinergi UGM dan KAGAMA pada Senin (24/11).
Hasto menilai generasi muda perlu menyiapkan diri menghadapi tantangan setelah menyelesaikan pendidikan. Ia membuka paparannya dengan menekankan pentingnya ketangguhan mental di tengah kompetisi global yang semakin ketat.
“Generasi muda sekarang jangan lembek,” ujarnya.
Ia mengibaratkan kelompok muda yang rentan terhadap tekanan sebagai generasi strawberry, yaitu kelompok yang tampil menarik tetapi mudah rapuh.
Menurutnya, banyak calon wisudawan merupakan bagian dari sandwich generation, yang kelak menanggung beban ekonomi lebih besar ketika orang tua tidak lagi produktif.
“Di Yogyakarta, angka harapan hidup paling tinggi se-Indonesia, sehingga beban itu nyata,” lanjutnya.
Hasto menyampaikan bahwa Indonesia memasuki masa krusial dengan mulai munculnya fenomena aging population, sementara peluang bonus demografi semakin menyempit. Ia menegaskan bahwa waktu Indonesia menuju negara maju tidak panjang.
“Jendela kesempatan menuju Indonesia maju akan menutup pada 2040. Kalau anak muda tidak bekerja keras, meningkatkan skill, dan menciptakan lapangan kerja, peluang itu bisa hilang,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Hasto menekankan bahwa perjalanan para lulusan tidak berhenti di Gedung Grha Sabha Pramana. Ia menilai masa depan membutuhkan generasi yang tangguh, adaptif, dan siap bekerja keras.
Pentingnya Peningkatan Skill dan Kemandirian Ekonomi
Menjelang akhir sesi, Hasto merangkum pesannya dalam dua hal utama: peningkatan keterampilan dan kemandirian ekonomi perempuan. Menurutnya, kemandirian finansial perempuan akan memperkokoh ketahanan masa depan bangsa.
“Anak muda harus punya skill, kerja keras, dan memberdayakan perempuan agar tetap mandiri. Bisa bekerja dan menciptakan lapangan kerja, punya kemandirian finansial di usia 50 tahun,” tutupnya.
Dukungan terhadap pentingnya pembekalan tersebut juga datang dari Pengurus Pusat Kagama, Sandya Yudha. Ia menilai bahwa calon wisudawan tidak cukup hanya mengandalkan kompetensi teknis ketika memasuki dunia kerja.
“Kami ingin para lulusan UGM memahami bahwa kompetensi teknis saja tidak cukup. Mereka perlu membangun karakter, etika, dan kepekaan sosial agar mampu berkontribusi nyata di masyarakat,” ujarnya.