
KABAR JAWA – Seorang pemuda asal Bantul, Wahyu Arrozi merupakan Lulusan Teknik Mesin dari Universitas Gadjah Mada yang mampu membangun teknologi tepat guna dari bengkel sederhana.
Pada tahun 2010, Wahyu mendirikan PT Madani Technology atau Madanitec.
Dengan modal keterampilan teknik dan semangat untuk memberdayakan masyarakat, ia memulai usahanya secara mandiri.
Fokus utamanya saat itu adalah menciptakan mesin pengolahan sampah dan mesin produksi skala menengah yang ekonomis namun berkualitas.
Merancang Teknologi yang Menyentuh Kebutuhan Nyata
Wahyu memproduksi mesin secara kecil-kecilan di awal. Namun, seiring waktu, ia melihat potensi pasar yang sangat besar.
Dari sinilah semangatnya semakin menyala. Ia mulai mengembangkan lebih banyak produk yang menjawab kebutuhan riil masyarakat.
“Awalnya hanya produksi kecil-kecilan di bengkel, kemudian karena melihat potensi marketnya mendukung jadi terus kami kembangkan,” tutur Wahyu dilansir dari TuguJogja.id pada Sabtu, 19 Juli 2025.
Adapun Madanitec kini telah memproduksi hampir 200 jenis mesin, dengan salah satu produk unggulannya adalah mesin pemilah sampah.
Produk ini hadir dalam delapan varian, menyesuaikan kapasitas pengolahan dan ketelitian sortir.
Mesin terbesar mampu memilah hingga empat ton sampah per jam, menjadikannya solusi ideal untuk pengelolaan limbah dalam skala besar.
Menyesuaikan Produk dengan Tren Pasar
Selainmesin pemilah, Wahyu juga memproduksi mesin press dan berbagai jenis mesin industri lainnya.
Menurutnya, permintaan pasar berubah-ubah setiap tahun, tergantung tren dan kebutuhan. Hal ini mendorong timnya untuk terus berinovasi dan melakukan pembaruan desain.
Salah satu varian mesin pemilah berukuran 120 dijual seharga Rp22 juta.
Dan dalam kondisi normal, satu unit bisa diselesaikan dalam waktu satu hingga dua minggu.
Untuk pemesanan dalam jumlah besar, prosesnya bahkan bisa lebih cepat karena dikerjakan secara paralel.
“Tapi tiap tahun beda-beda, tergantung tren dan kebutuhan pasar,” kata Wahyu
Pemasaran Menjangkau seluruh Nusantara dan Luar Negeri
Produk-produk Madanitec tidak hanya diminati di wilayah lokal. Saat ini, pemasarannya sudah menjangkau hampir seluruh Indonesia, dari Aceh hingga Papua.
Pulau Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi menjadi wilayah dengan permintaan tertinggi.
Sebagian besar produk dibeli oleh distributor dan makelar yang kemudian memasok ke berbagai instansi pemerintahan dan swasta.
Wahyu juga melayani pesanan mesin kustom, salah satunya mesin ekstraksi curcumin dengan nilai fantastis hingga Rp500 juta.
Inovasi semacam ini membuktikan bahwa karya anak bangsa mampu bersaing dengan teknologi buatan luar negeri.
Omzet Ratusan Juta hingga Ekspor ke Luar Negeri
Secara bisnis, omzet bulanan Madanitec berada di kisaran Rp200 juta hingga Rp300 juta.
Menjelang akhir tahun, omzet tersebut bisa melonjak hingga tiga kali lipat.
Puncak kesuksesan Wahyu adalah saat ia berhasil mengekspor mesin karyanya ke Timor Leste, menjadikan Madanitec sebagai produsen lokal dengan daya saing global.
“Tapi kalau buat empat sampai lima barang mungkin malah bisa lebih cepat karena bisa kita kerjakan secara paralel,” ucapnya.
Tidak Instan
Apa yang diraih Wahyu Arrozi bukanlah sesuatu yang instan.
Ia menghadapi berbagai keterbatasan, mulai dari minimnya modal, sempitnya lahan, hingga keterbatasan teknologi.
Namun semua itu tidak menyurutkan tekadnya untuk terus berkarya dan mencari solusi.
Wahyu pun berpesan bahwa seseorang harus terus berusaha serta berinovasi demi mimpinya.***