
KabarJawa.com – Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), KGPAA Paku Alam X, menilai pembentukan paguyuban atau persatuan alumni sebagai langkah strategis untuk memperkuat perlindungan tenaga perawat migran Indonesia.
Sri Paduka menegaskan bahwa paguyuban alumni tidak hanya berfungsi sebagai wadah komunikasi, tetapi juga menjadi jaringan pengaman sosial bagi perawat yang bekerja di luar negeri.
Sri Paduka menyampaikan pandangan tersebut dalam audiensi bersama unsur pimpinan dan Ketua Panitia Dies Natalis ke-36 Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Notokusumo Yogyakarta.
Audiensi tersebut berlangsung di Gedhong Pareanom, Kompleks Kepatihan, Yogyakarta, Rabu (21/01/2026), sekaligus membahas laporan kesiapan pelaksanaan Dies Natalis STIKES Notokusumo yang dijadwalkan pada 3 Februari 2026.
Usulan Pembentukan Paguyuban Alumni Perawat
Dalam suasana dialog yang hangat tapi penuh penekanan, Sri Paduka secara khusus mendorong pembentukan paguyuban alumni Akademi Perawat (Akper) Notokusumo Yogyakarta yang saat ini bekerja di berbagai negara.
Ia menilai keberadaan paguyuban akan memperkuat koordinasi, mempermudah pendataan alumni, serta membuka ruang kolaborasi lintas negara.
“Mohon dipikirkan pembentukan paguyuban atau persatuan alumni bagi Akper Notokusumo yang bekerja di luar negeri. Dengan komunikasi yang baik dan jaringan relasi yang kuat, paguyuban ini dapat membantu pengembangan institusi sekaligus membuka prospek masa depan bagi pendidikan keperawatan,” tegas Sri Paduka Paku Alam X.
Sri Paduka menekankan bahwa STIKES Notokusumo Yogyakarta telah menunjukkan kiprah nyata dalam mencetak tenaga kesehatan yang unggul dan berdaya saing global.
Ia menyebutkan bahwa alumni STIKES Notokusumo telah bekerja di berbagai negara, seperti Jepang, Jerman, hingga kawasan Timur Tengah.
Kondisi tersebut, menurutnya, membuktikan kualitas pendidikan keperawatan yang terus berkembang.
Sri Paduka menjelaskan bahwa permintaan tenaga perawat profesional di tingkat internasional terus meningkat dari tahun ke tahun.
Pada saat yang sama, ia menilai bahwa kompetensi keperawatan membutuhkan proses pendidikan yang tidak mudah dan tidak murah.
Oleh karena itu, ia mengapresiasi upaya STIKES Notokusumo dalam meningkatkan kapasitas pendidikan sebagai bagian dari pembangunan sumber daya manusia berkelanjutan.
Namun, di balik peluang besar tersebut, Sri Paduka juga menyoroti berbagai persoalan serius yang kerap dihadapi pekerja migran Indonesia.
Ia menyebutkan kasus perawat yang tidak kembali ke tanah air sesuai kontrak, hingga kondisi alumni yang mengalami kesulitan hidup akibat perubahan kebijakan dan perspektif di negara tujuan kerja.
“Yang perlu kita perhatikan adalah bagaimana kondisi alumni setelah berada di luar negeri. Apakah mereka terurus, terlindungi, dan mendapatkan pendampingan yang memadai. Dengan adanya paguyuban alumni, proses pendampingan dan perlindungan akan berjalan lebih terstruktur dan manusiawi,” ungkapnya.
Sri Paduka menegaskan bahwa ratusan alumni Akper STIKES Notokusumo Yogyakarta tercatat bekerja di luar negeri.
Ia menilai paguyuban alumni dapat berperan sebagai ruang advokasi, pusat informasi, serta jejaring solidaritas ketika alumni menghadapi konflik, musibah, maupun persoalan hukum dan sosial.
“Saya tetap memiliki harapan besar agar Akper STIKES Notokusumo terus maju dan berkembang. Tantangannya memang tidak mudah, tetapi dengan jejaring yang kuat, saya yakin institusi ini mampu menjawab kebutuhan zaman,” lanjut Sri Paduka dengan penuh optimisme.
Tanggapan Yayasan Notokusumo
Ketua Pengurus Yayasan Notokusumo, Drs. Samudro Tjondronegoro, M.Hum, menyambut positif arahan Wakil Gubernur DIY tersebut.
Ia menyatakan bahwa pihak yayasan memandang pembentukan paguyuban alumni sebagai langkah penting untuk menjaga kesinambungan hubungan antara institusi dan alumni, khususnya yang bekerja di luar negeri.
Samudro menegaskan bahwa paguyuban alumni akan mempermudah koordinasi apabila alumni menghadapi permasalahan, terutama yang berkaitan dengan keselamatan dan kesejahteraan.
Ia menilai paguyuban juga dapat menjadi sarana berbagi pengalaman, pengetahuan, serta peluang kerja antar alumni lintas generasi.
“Jika terjadi permasalahan, kami dapat mencari solusi dengan lebih cepat dan terarah. Paguyuban alumni akan menjadi kekuatan kolektif yang saling menjaga,” jelas Samudro.
Sementara itu, Ketua STIKES Notokusumo Yogyakarta, Taukhit, S.Kep., Ns., M.Kep., menyampaikan harapan besar menjelang peringatan Dies Natalis ke-36.
Ia menegaskan komitmen STIKES Notokusumo untuk terus meningkatkan mutu pendidikan dan keunggulan akademik.
Taukhit menyatakan bahwa STIKES Notokusumo Yogyakarta akan terus berinovasi dalam menghasilkan lulusan keperawatan dan farmasi yang profesional, beretika, dan siap bersaing di tingkat nasional maupun internasional.
“Memasuki usia ke-36, kami berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas dan relevansi pendidikan. Kami ingin menghadirkan lulusan yang tidak hanya kompeten, tetapi juga mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas,” pungkasnya.
Dengan dorongan kuat dari Wakil Gubernur DIY dan komitmen seluruh pemangku kepentingan, STIKES Notokusumo Yogyakarta menatap masa depan pendidikan keperawatan dengan keyakinan baru.
Pembentukan paguyuban alumni perawat migran akan menjadi tonggak penting dalam memperkuat perlindungan di kancah global. (ef linangkung)