
KabarJawa.com– Gunung Merapi kembali menunjukkan tanda-tanda peningkatan aktivitas vulkaniknya. Pusat pemantauan mencatat volume kubah barat daya Gunung Merapi kini membengkak hingga 4.179.900 meter kubik.
Angka fantastis ini menegaskan bahwa suplai magma dari perut bumi masih berlangsung deras, sehingga ancaman awan panas guguran dan lontaran material vulkanik semakin nyata.
Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Agus Budi Santoso, menegaskan bahwa Merapi masih berada pada status Siaga (Level III).
“Aktivitas vulkanik Merapi saat ini masih cukup tinggi dengan erupsi efusif yang berkelanjutan. Suplai magma terus terjadi dan itu bisa memicu awan panas guguran di dalam wilayah potensi bahaya,” ungkapnya.
Guguran Lava Tak Pernah Henti
Laporan aktivitas periode 5–11 September 2025 mengungkapkan kondisi dramatis di puncak Merapi. Asap putih tebal bertekanan lemah membumbung dari kawah, menjulang setinggi 400 meter.
Dari lerengnya, puluhan kali guguran lava pijar meluncur dengan jalur mematikan.
- 1 kali guguran lava ke arah Kali Boyong sejauh 1.900 meter
- 11 kali guguran ke Kali Bebeng dengan jarak maksimum 1.900 meter
- 25 kali guguran ke Kali Krasak sejauh 2.000 meter
- 47 kali guguran menghantam Kali Sat/Putih hingga 2.000 meter
Kamera pemantau di Pos Ngepos dan Babadan menangkap perubahan morfologi jelas di kubah lava barat daya. Tonjolan raksasa dari material pijar itu terus tumbuh, sementara kubah tengah relatif stabil.
Analisis udara pada 25 Agustus 2025 memastikan fakta mencengangkan: Kubah Barat Daya sudah mencapai 4,17 juta m³, sementara Kubah Tengah 2,36 juta m³.
Kegempaan Meningkat Drastis
Lebih dari 1.200 getaran vulkanik tercatat jaringan seismik pekan ini.
- 90 kali gempa vulkanik dangkal (VTB)
- 590 kali gempa fase banyak (MP)
- 588 kali gempa guguran (RF)
- 2 kali gempa low frequency (LF)
- 17 kali gempa tektonik (TT)
Angka ini lebih tinggi dibanding minggu sebelumnya. Seismograf seolah bergetar tanpa henti, mengisyaratkan pergerakan magma yang semakin intens.
Deformasi tubuh gunung juga terdeteksi. Alat EDM (Electronic Distance Measurement) mencatat pemendekan jarak tunjam mencapai 0,5 cm per hari. Fenomena ini menjadi bukti bahwa perut Merapi tengah dipaksa mengembang oleh tekanan magma baru.
Ancaman Mengintai
BPPTKG memperingatkan potensi bahaya yang kini mengintai masyarakat di sekitar lereng Merapi. Ancaman paling nyata berupa guguran lava pijar dan awan panas yang bisa meluncur ke sektor selatan–barat daya.
- Sungai Boyong hingga 5 km dari puncak
- Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga 7 km
- Sektor tenggara meliputi Sungai Woro sejauh 3 km dan Sungai Gendol sejauh 5 km
Jika terjadi letusan eksplosif, lontaran material vulkanik dapat menjangkau radius 3 km dari kawah.
Meski hujan sempat mengguyur dengan intensitas 8,26 mm/jam di Pos Kaliurang pada 11 September 2025, belum ada laporan lahar di sungai-sungai hulu Merapi.
Namun, BPPTKG meminta masyarakat tetap waspada. Kombinasi hujan lebat dengan material vulkanik berpotensi melahirkan banjir lahar dingin yang mematikan.
“Kami merekomendasikan pemerintah daerah di Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten untuk meningkatkan kapasitas masyarakat serta menyiapkan sarana-prasarana evakuasi,” katanya.
BPPTKG juga meminta masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas apapun di zona potensi bahaya. Warga perlu selalu mengakses informasi resmi melalui BPPTKG, Magma Indonesia, atau Pos Pengamatan terdekat. (ef linangkung)