
KABARJAWA – Pemerintah Kabupaten Gunungkidul memulai langkah besar dalam upaya memerangi stunting. Wakil Bupati Gunungkidul, Joko Parwoto, memimpin langsung peluncuran program GENTING (Gerakan Orang Tua Cegah Stunting) di Kapanewon Nglipar.
Program ini menyasar keluarga berisiko stunting (KRS) dan menjadi bagian dari lima program unggulan nasional Quick Wins tahun 2025.
GENTING hadir berdampingan dengan TAMASYA (Taman Asuh Sayang Anak), SIDAYA (Lansia Berdaya), GATI (Gerakan Ayah Teladan Indonesia), serta SuperApps.
Peluncuran Program GENTING
Pemerintah menggerakkan semua elemen masyarakat untuk memerangi stunting yang selama ini menghantui generasi muda Indonesia. Dalam acara peluncuran, Joko Parwoto mengangkat semangat kolektif sebagai kekuatan utama.
“GENTING bukan sekadar nama. Ini adalah panggilan darurat untuk semua orang tua, semua pihak, agar bangkit dan bersatu demi masa depan anak-anak kita,” tegas Joko di hadapan warga, tokoh masyarakat, dan perwakilan lembaga yang hadir.
Ia memuji inisiatif luar biasa Kapanewon Nglipar yang menjadi pelopor gerakan ini. Pemerintah memadukan kekuatan antara BKKBN DIY, Dinas PMKP2KB Gunungkidul, serta perangkat wilayah demi menciptakan perubahan konkret di tengah masyarakat.
“Kami melihat sendiri bagaimana Nglipar membuktikan bahwa semangat gotong royong masih hidup. GENTING memperlihatkan bagaimana masyarakat bersatu untuk melawan stunting yang telah menjadi ancaman serius bagi masa depan bangsa,” lanjutnya penuh haru.
Sementara itu, Ketua Penyelenggara sekaligus Panewu Anom Nglipar, Heru Widiyanto, menyampaikan komitmen teguh dalam menyukseskan program ini.
“Jika kita abai terhadap stunting, kita ikut menandatangani kegagalan generasi masa depan. Kita harus berdiri bersama, bergerak bersama. Generasi Indonesia Emas 2045 hanya bisa terwujud kalau kita bertindak mulai hari ini,” ujar Heru lantang.
Indikator Kerentanan
Pemerintah mengidentifikasi sebanyak 128 keluarga risiko stunting (KRS) di wilayah Kapanewon Nglipar. Data tersebut diperoleh dari BKKBN DIY yang menyoroti berbagai indikator kerentanan.
- Keterbatasan akses air bersih
- Sanitasi buruk
- Rumah tidak layak huni
- Jarak kelahiran yang sempit
- Usia ibu terlalu muda atau tua saat melahirkan
- Rendahnya penggunaan kontrasepsi modern
Pemerintah tidak tinggal diam. Lewat GENTING, mereka menggandeng komunitas, organisasi, dan perusahaan untuk menjadi orang tua asuh bagi keluarga-keluarga ini.
Bentuk dukungan konkret pun disalurkan: satu pasang ayam kampung siap bertelur serta tiga bibit tanaman sayur diberikan langsung kepada tiap keluarga sasaran.
Langkah ini bukan sekadar simbolik. Pemerintah ingin mendorong kemandirian gizi keluarga melalui penguatan ketersediaan protein hewani, asupan sayuran, dan potensi ekonomi rumah tangga.
Ayam akan bertelur, sayur bisa dipanen, dan anak-anak akan tumbuh dengan gizi cukup. Inilah esensi dari aksi GENTING.
“Anak-anak bukan hanya penerus, mereka adalah penentu masa depan. Kita tidak boleh lengah. Hari ini, di Nglipar, kita nyalakan api harapan. Mari jaga semangat ini. Bangun Gunungkidul yang sehat, cerdas, dan tangguh melalui anak-anak yang bebas dari stunting,” tegasnya. (ef linangkung)