
KabarJawa.com – Baru-baru ini, jagat media sosial kembali dihebohkan dengan dugaan tindakan tidak menyenangkan yang melibatkan oknum pengemudi transportasi online. Kali ini, korbannya disebut merupakan seorang mahasiswi perantauan asal Pekalongan yang sedang berada di Yogyakarta.
Insiden yang terjadi di wilayah Kabupaten Sleman ini menjadi sorotan publik setelah videonya viral di berbagai platform, termasuk TikTok, Facebook, dan salah satunya diunggah oleh akun Instagram @merapi_uncover pada Minggu, 1 Februari 2026.
Dalam video, terlihat situasi tegang yang diduga merupakan buntut dari perselisihan antara penumpang dan pengemudi dari layanan transportasi online inisial M.
Dugaan Kronologi Kejadian
Berdasarkan narasi yang beredar di media sosial, dijelaskan pula kronologi dari peristiwa yang kemudian nampak dalam video.
“Kejadian di depan kost saya Jl. Rusunawa, Cambahan, Nogotirto, Kec. Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55592. Kronologi saya pesan Maxim Car dan dichat sudah tidak mengenakan seperti ini. Lalu saya mau membayar cash dengan uang Rp100.000 tapi tidak ada kembalian dan beliau malah nyuruh saya untuk menukarkan uang di toko,” demikian keterangan dalam unggahan viral tersebut, dilansir KabarJawa.com pada Senin, 2 Februari 2026.
“Namun, saya anak perantauan dari Pekalongan dan saya tidak mengetahui daerah sekitar, lalu saya meminta untuk diantarkan beliau namun beliau tidak mau, dan saya tawarkan transfer juga beliau tidak mau, saya videokan dan beliau marah” lalu melakukan kekerasan fisik terhadap saya,” lanjutnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak aplikator terkait tanggapan atas insiden yang melibatkan mitranya tersebut.
Menunggu Penjelasan Resmi
Terbaru, dikabarkan bahwa pihak kepolisian di wilayah Yogyakarta telah menindaklanjuti kasus yang viral ini. Pihak kepolisian juga disebut akan melakukan penyelidikan objektif untuk mendudukkan perkara sesuai fakta hukum.
Saat ini, kepolisian berfokus pada pengumpulan alat bukti di TKP (Tempat Kejadian Perkara) serta meminta keterangan dari korban dan sejumlah saksi mata yang berada di lokasi kejadian.
Langkah ini diambil untuk memastikan kejelasan runtutan peristiwa serta mencegah spekulasi liar yang bisa timbul atas kejadian tersebut.
Warga masyarakat serta warganet pun diimbau supaya tidak menyebarkan asumsi yang belum terverifikasi kebenarannya.
Dengan kata lain, publik diminta untuk menunggu penjelasan dan kronologi resmi dari pihak berwenang terkait insiden yang kini ramai menjadi perbincangan di medsos tersebut.
Sementara, sampai saat ini, video yang menampilkan aksi tersebut masih ramai disorot dan tersebar luas di media sosial***