Vedi Hadiz Ingatkan Bahaya Era Popular Discontent: Demokrasi Hadapi Krisis Kepercayaan

Bagikan :
Vedi Hadiz/Foto: UGM

KabarJawa.com– Aula Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Gadjah Mada mendadak hening ketika Prof. Vedi Hadiz, akademisi ternama asal Indonesia yang kini mengajar di Melbourne University, naik ke podium.

Ratusan mahasiswa, dosen, dan peneliti menanti kalimat pembuka dari pakar politik global itu. Dengan suara tegas, Vedi mengingatkan bahwa dunia tengah memasuki era Popular Discontent, masa ketika masyarakat kehilangan keyakinan pada demokrasi, negara, bahkan janji modernisasi.

Era Popular Discontent

“Demokrasi yang kita jalani sekarang jauh dari mimpi yang dulu kita gantungkan. Seharusnya demokrasi mengakomodasi kepentingan rakyat, tapi justru melahirkan kesenjangan,”ujarnya di depan mahasiswa UGM, Kamis (25/9/2025).

Kuliah umum bertajuk Masa Depan Demokrasi di Era Popular Discontent itu memaparkan kenyataan getir: demokrasi kian sulit dipercaya.

Menurut Vedi, demokrasi seharusnya hadir sebagai wadah untuk memenuhi hak publik. Namun realitas menunjukkan hal berbeda.

Kesenjangan sosial makin melebar, ketidakadilan ekonomi kian mencolok, dan masyarakat merasa tertinggal dari arus globalisasi yang semakin cepat.

Baca juga  4.136 Puisi Masuk Sayembara Puisi Nasional FSY 2026, Lima Karya Terpilih Jadi yang Terbaik

“Discontent ini punya hubungan langsung dengan perkembangan ekonomi global selama 40–50 tahun terakhir. Liberalisasi dunia memang menambah kekayaan, tapi juga memperparah konsentrasi pada segelintir pihak,” papar Vedi.

Ia menyoroti bagaimana neoliberalisasi menghipnotis masyarakat dengan janji kesejahteraan. Sistem pasar bebas bisa memperluas peluang, mempercepat ekonomi, dan menghadirkan kesejahteraan.

Namun faktanya, roda ekonomi justru berputar tanpa mampu mengangkat kehidupan banyak orang.

“Neoliberalisasi menciptakan ilusi. Ekonomi berputar makin cepat, tapi rakyat merasa tertinggal. Kesenjangan tetap melebar,” ungkapnya.

Ironi Sederhana

Vedi mengajak peserta kuliah untuk merenungkan ironi sederhana. Sejak lama orang belajar untuk memperbaiki diri agar bisa memperbaiki dunia. Namun realitas berkata lain, memenuhi kebutuhan pokok saja kerap sulit, apalagi membenahi kehidupan yang lebih besar.

“Kita tidak bisa hanya bicara teori besar. Kita harus melihat kenyataan sehari-hari yang rakyat hadapi,” tambahnya.

Vedi juga menyinggung data peningkatan jenjang pendidikan di Indonesia. Buta huruf berhasil berkurang, perguruan tinggi melahirkan jutaan sarjana baru.

Namun muncul pertanyaan menohok. apakah pendidikan itu benar-benar mampu memperbaiki taraf hidup?

Baca juga  Sepanjang Januari–September 2025, 127.660 Wisatawan Mancanegara Pilih Naik Kereta Api di Daop 6 Yogyakarta 

“Social discontent ini akumulasi dari kekecewaan. Masyarakat merasa dibohongi neoliberalisme. Dan yang paling merasakan dampaknya adalah anak muda,” ujar Vedi.

Ia menggambarkan nasib generasi muda yang semakin sulit membeli rumah, menemukan pekerjaan dengan upah layak, atau sekadar mengakses layanan kesehatan murah. Situasi itu seharusnya tidak terjadi jika demokrasi benar-benar bekerja demi rakyat.

Suasana ruang kuliah semakin tegang ketika Vedi menyimpulkan bahwa popular discontent adalah tanda bahaya serius bagi masa depan demokrasi.

Rakyat yang kecewa mulai menaruh anggapan bahwa siapa pun yang duduk di kursi kekuasaan, kehidupan tetap tidak akan berubah.

“Demokrasi menjadikan masyarakat sebagai objek kebijakan, bukan subjek utama. Itu sebabnya kepercayaan publik runtuh,” kata Vedi.

Kemudian, ia menegaskan bahwa fenomena ini bukan gejala instan. Popular discontent lahir dari proses panjang, dari janji-janji yang gagal ditunaikan, hingga modernisasi yang justru meminggirkan.

Para mahasiswa yang hadir mencatat dengan seksama, sementara para dosen mengangguk tanda setuju. Kata-kata Vedi menggema sebagai peringatan. Demokrasi tidak boleh berubah menjadi sekadar prosedur kosong yang mengabaikan hak rakyat.

Baca juga  Layani Penukaran Uang Rupiah Baru, Bank Indonesia DIY Siapkan Rp4,99 Triliun untuk SERAMBI 2026

Bagi Vedi, demokrasi masih bisa kita selamatkan, tapi hanya jika negara berani menempatkan rakyat sebagai pusat kebijakan. Tanpa itu, popular discontent akan terus membesar dan bisa mengguncang fondasi sistem politik modern.

“Refleksikanlah popular discontent ini. Karena dari situlah masa depan demokrasi akan ditentukan,”tambahnya.(ef linangkung)

Berita Terbaru

Universitas Ngudi Waluyo memiliki 24 program studi dari D3 hingga S2, mencakup bidang kesehatan, bisnis, hukum, dan pendidikan.
Berapakah Jumlah Program Studi yang Ada di Universitas Ngudi Waluyo Saat ini?
Nomor punggung Pelé yang paling ikonik adalah 10. Simak sejarah angka tersebut dan tiga gelar Piala Dunia Brasil.
Apa Nomor Punggung Paling Ikonik Pele di Panggung Piala Dunia?
KKB-Papua
Penembakan Pegawai Dinas Pertanian Jayawijaya, 3 Orang Tewas di Pedalaman Papua
All You Can Eat Steamboat & Grill hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo dengan panorama Menoreh dan pilihan paket menarik.
All You Can Eat Steamboat & Grill Hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo: Kuliner dengan Panorama Menoreh
Jadwal one way Puncak 12-13 September 2026 berlaku situasional. Ganjil genap ditiadakan, cek jam arah naik dan turun.
Jadwal One Way Jalur Puncak12-13 September 2026: Ganjil Genap Ditiadakan, Satu Arah Situasional

Terpopuler

Nama kepala sekolah dan guru SD Pekalongan yang viral belum diumumkan. Disdikbud membenarkan kasus dan menjatuhkan sanksi. (Foto ilustrasi Pixabay/geralt)
Siapa Kepala Sekolah dan Guru SD Pekalongan Viral Video Asusila yang Dicopot Disdikbud?
Video kasir Indomaret viral 7 menit ramai di media sosial. Simak fakta soal isi video, Lylia, dan klaim akun media sosialnya. (Foto ilustrasi: Pixabay/lolo_btl)
Video Kasir Indomaret Viral 7 Menit Isinya Apa dan Nama Akun IG serta TikTok Lylia yang Disebut-sebut Pemeran Video
pemeliharaan jaringan listrik
Jadwal Pemadaman Listrik Surabaya Hari Ini, Cara Cek Info Real Time & Akurat
Lokasi Tilang Operasi Patuh Progo 2026 Jogja
Titik Lokasi Rawan Tilang di Jogja, Operasi Patuh Progo 2026: ETLE Sleman, Bantul dan Sekitarnya
Kesalahan Penulisan Aksara Jawa di Kantor Disdikbud Jateng Jadi Sorotan, Begini Fakta dan Evaluasinya
Mengenal Aksara Swara (A, I, U, E, O): Pengertian, Ciri-ciri dan Fungsinya