
KabarJawa.com – Departemen Ilmu Komunikasi Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) menggandeng Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) untuk memperkuat praktik jurnalisme yang kredibel di era digital. Kolaborasi ini diwujudkan melalui kuliah umum bertema “Kekuatan Profesi Jurnalis di Era Digital” yang digelar pada Jumat (10/04/2026) di Auditorium Kampus IV Gedung Teresa. Kegiatan ini menghadirkan CEO Tempo Digital, Wahyu Dhyatmika, bersama sejumlah pimpinan media siber anggota AMSI, sekaligus dirangkai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) sebagai langkah awal kerja sama berkelanjutan.
Kolaborasi Akademik dan Industri untuk Jurnalisme Berkualitas
Rektor UAJY, Dr. G. Sri Nurhartanto, S.H., LL.M, menegaskan bahwa kerja sama ini menjadi bagian penting dalam menghadirkan pendidikan jurnalistik yang relevan dengan perkembangan zaman. Ia menilai, di tengah derasnya arus informasi digital, masyarakat semakin kesulitan membedakan antara fakta dan informasi yang menyesatkan.
“Dengan AMSI nanti bisa menyajikan berita yang aktual, tajam dan terpercaya, objektif dan independen, tidak memihak, dan tentunya cover both side,” jelas Nurhartanto.
Menurutnya, keterlibatan praktisi industri dalam dunia akademik menjadi kunci untuk menjembatani teori dan praktik, sekaligus membekali mahasiswa dengan pemahaman nyata tentang tantangan profesi jurnalis saat ini.
Tantangan Jurnalisme di Era Kecerdasan Buatan
Kuliah umum yang dimoderatori oleh Theresia Diyah Wulandari, S.Fil., M.M., Ph.D ini menjadi momentum penting dalam memperdalam pemahaman mahasiswa terhadap dinamika industri media. Dalam pemaparannya, Wahyu Dhyatmika menyoroti perubahan besar yang dipicu oleh perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan (AI).
“Kehadiran AI semakin mendorong adanya manipulasi informasi yang membuat kondisi industri media menjadi chaos. Disinilah peran manusia dalam jurnalisme dibutuhkan untuk menyediakan kredibilitas yang kompleks karena masyarakat butuh institusi untuk mendapat data dan verifikasi,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa teknologi, meskipun membawa kemudahan dalam produksi dan distribusi informasi, juga menghadirkan tantangan serius terkait validitas dan kepercayaan publik. Oleh karena itu, peran jurnalis tidak tergantikan dalam menjaga akurasi dan integritas informasi.
“Trust dan credibility adalah aset yang harus dibangun dan dibutuhkan oleh publik,” tambah Wahyu.
Antusiasme Mahasiswa dan Ruang Diskusi Interaktif
Kegiatan ini juga membuka ruang dialog langsung antara mahasiswa dan praktisi media. Sesi diskusi interaktif dimanfaatkan peserta untuk menggali lebih dalam berbagai isu, mulai dari etika jurnalistik hingga tantangan di lapangan.
Salah satu mahasiswa Ilmu Komunikasi angkatan 2024, Andra, mengaku mendapatkan perspektif baru dari kegiatan tersebut. Ia menilai, pemaparan narasumber memberikan gambaran nyata mengenai kompleksitas dunia jurnalistik saat ini.
Menurutnya, pemahaman tentang pentingnya integritas menjadi poin utama yang harus dipegang oleh calon jurnalis di tengah perubahan lanskap media.
Penguatan Riset dan Jejaring Profesional
Kerja sama antara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UAJY dan AMSI tidak berhenti pada kegiatan kuliah umum. Ke depan, kolaborasi ini akan dikembangkan dalam bentuk riset bersama yang berfokus pada isu-isu strategis di bidang media dan komunikasi.
Langkah ini diharapkan mampu memperkaya pengalaman akademik mahasiswa sekaligus memperluas akses mereka terhadap jaringan profesional di industri media. Dengan demikian, lulusan UAJY diharapkan memiliki kesiapan yang lebih matang dalam menghadapi dunia kerja.
Komitmen Mencetak Jurnalis Adaptif dan Berintegritas
Melalui sinergi ini, UAJY menegaskan komitmennya dalam mencetak jurnalis masa depan yang tidak hanya adaptif terhadap perkembangan teknologi, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis dan menjunjung tinggi nilai-nilai etika jurnalistik.
Di tengah kompleksitas era digital yang sarat dengan disrupsi informasi, keberadaan jurnalis profesional menjadi semakin penting. Kolaborasi antara institusi pendidikan dan industri media seperti ini dinilai sebagai langkah strategis untuk menjaga kualitas informasi yang beredar di masyarakat.***