
KabarJawa.com— Perusahaan otobus legendaris asal Gunungkidul, PT Maju Lancar Prima, mengambil langkah tegas dengan menghentikan sementara operasional armadanya.
Keputusan ini tidak sekadar menjadi jeda layanan, tetapi menjadi bagian dari strategi evaluasi menyeluruh di tengah tekanan biaya operasional yang semakin berat dan tingkat keterisian penumpang yang belum stabil.
Penghentian Sementara Perusahaan Otobus Gunungkidul
Manajemen perusahaan menetapkan penghentian operasional selama dua hari dengan jadwal berbeda berdasarkan arah perjalanan. Untuk keberangkatan dari arah timur, penghentian berlaku pada 14–15 April 2026.
Sementara itu, untuk rute dari arah barat, operasional dihentikan pada 15–16 April 2026. Perusahaan telah menyampaikan informasi ini kepada seluruh agen dan pelanggan guna menghindari kebingungan di lapangan.
Bagian Umum PO Maju Lancar, Wahyu Danarko, menegaskan bahwa langkah tersebut diambil demi kepentingan bersama.
Ia menyebutkan bahwa manajemen memanfaatkan momen ini untuk melakukan rapat koordinasi dan evaluasi internal secara menyeluruh.
“Kami melakukan rapat koordinasi dan evaluasi antara kru dan manajemen, sekaligus menyampaikan informasi kepada agen dan pelanggan terkait operasional,” ujar Wahyu saat ditemui pada Senin (13/4/2026).
Di balik keputusan penghentian sementara ini, perusahaan menghadapi tekanan biaya operasional yang tidak ringan.
Dalam satu kali perjalanan pulang-pergi untuk rute Wonosari–Jakarta, perusahaan harus mengeluarkan biaya hingga sekitar Rp4,3 juta.
Angka tersebut mencakup berbagai komponen, mulai dari bahan bakar, perawatan armada, hingga kebutuhan kru.
Di sisi lain, tingkat keterisian penumpang belum menunjukkan kestabilan. Dalam satu kali keberangkatan, jumlah penumpang hanya berkisar antara 20 hingga 25 orang.
Kondisi ini semakin menurun saat perjalanan kembali, dengan rata-rata penumpang hanya sekitar 15 orang. Ketimpangan tersebut menjadi tantangan besar bagi perusahaan dalam menjaga efisiensi operasional.
Perusahaan Legendaris Hadapi Tantangan Zaman
PT Maju Lancar Prima yang berdiri sejak sekitar tahun 1986 merupakan salah satu perusahaan otobus legendaris di wilayah Gunungkidul.
Saat ini, perusahaan mengoperasikan sekitar 24 armada dengan dukungan kurang lebih 85 kru. Armada yang digunakan didominasi oleh kendaraan keluaran tahun 2018 hingga 2021, yang tergolong masih cukup kompetitif di kelasnya.
Namun, perubahan pola perjalanan masyarakat, persaingan antaroperator, serta fluktuasi biaya operasional turut memberikan tekanan signifikan terhadap keberlangsungan usaha.
“Selama dua hari ini kami berhenti operasional untuk melakukan pembenahan,” tegas Wahyu.
Manajemen menjadikan penghentian sementara ini sebagai momentum untuk melakukan pembenahan internal. Rapat koordinasi dan evaluasi menyeluruh antara kru dan manajemen akan berlangsung pada 14 April 2026.
Dalam forum tersebut, perusahaan akan membahas berbagai aspek operasional, mulai dari efisiensi biaya hingga peningkatan kualitas layanan.
Manajemen berharap langkah ini dapat menghasilkan strategi baru yang lebih adaptif terhadap kondisi pasar sekaligus menjaga keberlanjutan perusahaan di tengah persaingan industri transportasi darat yang semakin ketat.
Meskipun operasional dihentikan sementara, aktivitas di garasi PO Maju Lancar tetap berlangsung. Berdasarkan pantauan di lokasi, sejumlah kru terlihat aktif melakukan perbaikan dan perawatan kendaraan di area bengkel.
Sementara itu, deretan armada lainnya terparkir rapi di halaman garasi, menunggu kesiapan untuk kembali beroperasi.
Langkah penghentian sementara ini mencerminkan upaya serius perusahaan dalam menghadapi tantangan industri.
Evaluasi tersebut mampu membawa PT Maju Lancar Prima kembali melaju dengan performa yang lebih baik, sekaligus mempertahankan eksistensinya sebagai salah satu ikon transportasi darat asal Gunungkidul. (ef linangkung)