
KabarJawa.com – Langit mendung pagi itu tidak menyurutkan langkah Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, untuk meninjau langsung kondisi Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Graha Bina Harapan, Kamis, 6 November 2025.
Dengan wajah serius namun penuh empati, Hasto berjalan menyusuri lorong rusunawa, mendengar keluhan warga, dan melihat langsung kondisi yang jauh dari ideal.
Suara tetesan air terdengar dari atap rusun lantai lima. Aroma lembap menyeruak dari dinding-dinding yang menghitam.
Di beberapa kamar, penghuni menata perabot seadanya agar tidak terkena cipratan air hujan. Hasto menatap pemandangan itu dengan mata tajam, lalu menghela napas panjang.
“Saya ingin memastikan bahwa penghuni di sini bisa hidup dengan layak dan nyaman. Jangan sampai kota ini terlihat bagus dari luar, tapi warganya justru hidup dalam kesulitan,” ujar Hasto.
Kerusakan Fisik dan Kepadatan Penghuni
Dalam peninjauan tersebut, Hasto menemukan banyak kerusakan fisik pada bangunan, terutama di lantai atas. Dinding rusak, atap bocor, dan rembesan air membuat kamar pengap dan berbau lembap.
Ia meminta Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (PUPKP) bergerak cepat melakukan perbaikan.
“Tadi saya lihat banyak atap dan dinding yang bocor, apalagi di lantai lima. Saya sudah minta Dinas PUPKP segera memperbaikinya. Kalau bisa ditambah kanopi supaya air hujan tidak masuk ke kamar,” tegasnya.
Hasto juga menyoroti masalah kepadatan penghuni. Beberapa unit berukuran 21 meter persegi dihuni oleh lima orang sekaligus, membuat ruang gerak sangat terbatas.
“Saya melihat ada kamar yang sempit tapi dihuni lima orang. Ini harus jadi perhatian bersama. Tinggal di rusunawa seharusnya membuat hidup lebih tertata, bukan menambah beban,” tambahnya.
Hasto menegaskan bahwa Pemerintah Kota Yogyakarta akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap seluruh rusunawa di wilayahnya. Ia ingin memastikan bahwa program hunian layak benar-benar memberikan kehidupan manusiawi bagi warga.
“Rusunawa bukan sekadar bangunan vertikal untuk menampung warga berpenghasilan rendah. Ini soal martabat manusia. Kita harus memastikan setiap warga hidup dengan rasa aman, nyaman, dan bermartabat,” tegasnya.
Langkah-langkah perbaikan disiapkan, mulai dari perbaikan atap bocor, dinding rusak, saluran air, hingga rencana penambahan fasilitas bersama seperti ruang bermain anak dan area hijau.
Pengelolaan Rusunawa dan Cerita Penghuni
Kepala UPT Pengelolaan Rusunawa Kota Yogyakarta, Kuswarjanta Adi Nugraha, tidak menampik temuan Hasto.
Ia menjelaskan bahwa Rusunawa Graha Bina Harapan memiliki 68 unit tipe studio (tipe 21) dengan luas sekitar 21–22 meter persegi. Tarif sewanya bervariasi antara Rp100.000 hingga Rp400.000 per bulan, tergantung lantai tempat tinggal.
“Yang di lantai satu sekitar seratus ribu rupiah, sementara lantai dua sampai lima antara tiga ratus empat puluh ribu sampai empat ratus ribu rupiah,” jelasnya.
Kuswarjanta menegaskan bahwa pihaknya rutin melakukan pemeliharaan setiap tahun sesuai prioritas kerusakan. Namun, keterbatasan anggaran membuat perbaikan harus dilakukan secara bertahap.
“Masukan dari Pak Wali kami terima. Untuk kanopi di lantai lima memang baru kami kerjakan tahun ini di bagian belakang, yang depan belum. Jadi perbaikannya bertahap, fokus kami selama ini di bagian atap yang paling mendesak,” ungkapnya.
Rusunawa Graha Bina Harapan ditujukan untuk keluarga berpenghasilan rendah, dengan kriteria warga yang belum memiliki rumah sendiri, sudah berkeluarga, dan memiliki anak.
“Kalau ketahuan sudah punya rumah, wajib mengundurkan diri,” tegas Kuswarjanta.
Setiap penghuni mendapat kontrak selama tiga tahun dan dapat memperpanjang satu kali periode hingga maksimal enam tahun. Saat ini, tingkat hunian di Graha Bina Harapan sangat tinggi, bahkan sudah ada daftar tunggu bagi calon penghuni baru.
Sebagai perbandingan, Rusunawa Bener di Kota Yogyakarta mematok tarif lebih tinggi antara Rp455.000 hingga Rp615.000 per bulan karena memiliki tipe 36 dengan dua kamar tidur.
Salah satu penghuni lantai tiga, Sri Yuntari (44), mengaku sudah beberapa tahun tinggal di rusunawa tersebut. Dengan dua anak yang mulai beranjak remaja, ruang seluas 21 meter persegi terasa semakin sempit.
“Harapannya ya bisa punya rumah sendiri, karena di sini sempit. Anak saya dua, sudah besar, tapi harus tidur di satu ruangan yang juga jadi tempat makan,” ujarnya lirih.
Meski bersyukur memiliki tempat berteduh dengan biaya terjangkau, Sri berharap pemerintah tidak menutup mata terhadap fasilitas yang rusak dan minimnya ruang publik untuk anak-anak bermain.
“Kadang ada kebocoran, fasilitas rusak, itu harusnya segera diperbaiki. Anak-anak juga enggak punya tempat bermain,” tuturnya.