
KabarJawa.com– Di balik kontur tanah Padukuhan Ganang, Kalurahan Ngawis, Kapanewon Karangmojo, tersimpan jejak masa lampau yang mulai tersibak.
Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kabupaten Gunungkidul bersama Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah X Kalasan melakukan test spit.
Tes ini adalah teknik penggalian uji berskala kecil—untuk memastikan dugaan adanya struktur mirip bangunan suci atau bahkan candi di kawasan yang kini mulai menyita perhatian publik.
Temuan Diduga Candi di Ganang Karangmojo
Tim Bidang Pelestarian Warisan Budaya bergerak cepat. Mereka membuka sejumlah titik test spit di lahan yang sejak lama diyakini warga sebagai tempat yang berbeda.
Dengan cangkul dan kuas kecil, para arkeolog menggali lapisan demi lapisan tanah, mencari tanda-tanda kehidupan masa lalu yang mungkin tertimbun selama ratusan tahun.
Penggalian berjalan hati-hati. Petugas memeriksa bongkahan tanah dengan teliti. Setiap goresan stratigrafi dibaca sebagai penanda waktu.
Di antara kesunyian itu, struktur batu putih mulai menampakkan diri, sebuah temuan yang langsung memantik rasa ingin tahu seluruh tim.
Warga yang tinggal di sekitar lokasi ikut mendekat, menyimak, dan bercerita. Mereka berkisah tentang temuan-temuan lama: arca, batu berornamen, hingga sebuah Yoni yang kini tersimpan di kantor BPK Wilayah 10.
Cerita-cerita itu makin memperkuat dugaan bahwa kawasan Ganang menyimpan cerita monumental tentang masa klasik Hindu-Buddha.
Data Harus Bicara
Kepala Dinas Kebudayaan Gunungkidul, Agus Mantara, menyampaikan bahwa kegiatan ini telah berlangsung selama tiga hari dan menunjukkan indikasi penting.
Dia mengaku senang karena tim BPK Wilayah 10 melakukan test spit di Ganang.
“Tim ahli kami sejak awal mencurigai kemungkinan adanya peninggalan, entah candi Hindu atau perwara. Dari hasil test spit ini, kemungkinan itu menguat,” tegasnya.
Agus menjelaskan bahwa pemerintah daerah siap menindaklanjuti temuan tersebut. Ia menegaskan bahwa langkah berikutnya mungkin mencakup pembukaan titik uji tambahan untuk memastikan pola, arah struktur, dan potensi luas situs.
“Jika test spit di beberapa titik sudah mengarah kuat, kami akan masuk ke tahap eskavasi. Bila struktur candi benar-benar teridentifikasi, bukan tidak mungkin nantinya kita bicara tentang rekonstruksi atau pengembangan kawasan situs,” tambahnya.
Perwakilan BPK Wilayah 10 Kalasan, Wardiyah, mengonfirmasi bahwa test spit yang berjalan sejak Selasa telah menunjukkan adanya struktur di perut tanah kawasan Ganang.
Namun, ia menegaskan bahwa kesimpulan resmi belum bisa diambil karena tahap ini baru merupakan penggalian uji kecil.
Pihaknya menemukan bukti ada struktur yang tersimpan dalam tanah. Namun mereka belum bisa menentukan apakah itu perwara, candi utama, pagar, atau komponen lain.
“Ini baru test spit, hanya uji kecil untuk memastikan ada atau tidaknya temuan,” jelasnya.
Wardiyah menambahkan bahwa beberapa lubang uji tidak menunjukkan temuan berarti, sementara beberapa lainnya memberikan indikasi penting.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa struktur tersebut mungkin tidak utuh atau hanya sebagian dari bangunan besar yang telah mengalami pelapukan atau pergeseran tanah.
Ia juga menyinggung bahwa berdasarkan temuan di permukaan, seperti Yoni dan arca, situs ini kemungkinan berasal dari masa Hindu-Buddha.
“Biasanya temuan seperti ini memang satu periode. Tapi kami belum bisa menetapkan masa secara pasti,” ujarnya.
Harapan Besar untuk 2025
Wardiyah memastikan bahwa tahun 2025 menjadi momentum penting. Program ekskavasi direncanakan, tapi koordinasi dengan Dinas Kebudayaan Gunungkidul menjadi kunci utama agar tahap berikutnya berjalan lebih besar dan lebih ilmiah.
“Kami berharap dinas bisa berkolaborasi dan berkontribusi untuk penelitian lanjutan. Masih banyak pertanyaan yang harus dijawab tentang apa yang sebenarnya tersimpan di Ganang,” tegasnya.
Ia juga menyebut adanya situs lain di sekitar lokasi yang menunjukkan pola mirip, sehingga perlu analisis kawasan secara keseluruhan untuk mengungkap panorama arkeologis yang lebih lengkap.
Kegiatan test spit di Situs Ganang bukan sekadar menggali tanah. Ini adalah upaya menggali identitas, sejarah, dan memori kolektif masyarakat Gunungkidul.
Temuan kecil seperti potongan batu putih atau permukaan struktur bisa menjadi pintu bagi cerita besar peradaban kuno yang pernah hidup di tanah ini.
Dinas Kebudayaan Gunungkidul memastikan bahwa proses ini menjadi bagian dari komitmen jangka panjang untuk melindungi dan mengembangkan warisan budaya yang menjadi aset berharga bagi generasi mendatang.
Ganang kini bukan hanya sebuah padukuhan. Ia berubah menjadi panggung besar tempat masa lalu perlahan menyingkapkan diri. (ef linangkung)