
KabarJawa.com – Lembaga Administrasi Negara (LAN) kembali mengingatkan pentingnya kepemimpinan yang adaptif di tengah perubahan zaman yang semakin cepat dan kompleks.
Kepala LAN, Muhammad Taufiq, menegaskan bahwa pola kepemimpinan lama sudah tidak relevan untuk menghadapi tantangan saat ini.
Menurut Taufiq, dunia bergerak dengan sangat cepat, dan arus perubahan semakin deras. Pemimpin yang tidak mampu membaca situasi dan beradaptasi akan tertinggal, bahkan tersingkir.
“Banyak pekerjaan, termasuk di birokrasi, tidak lagi relevan. Pemimpin dituntut peka terhadap perubahan dan mampu membawa organisasinya beradaptasi dengan platform kerja baru. Teknologi memang tidak akan menggantikan manusia, tetapi manusia yang tidak paham teknologi pasti akan tersingkir,” tegas Taufiq.
Pekerjaan Hilang, Pekerjaan Baru Lahir
Taufiq mengutip data dari World Economic Forum yang mencatat bahwa tahun ini sebanyak 87 juta pekerjaan hilang di seluruh dunia. Namun, di saat yang sama muncul 95 juta jenis pekerjaan baru.
Di Indonesia, fenomena ini lebih signifikan. Hingga tahun 2030, diperkirakan 23 juta pekerjaan lama akan hilang, sementara 45 juta pekerjaan baru akan tercipta.
Realitas ini menjadi tantangan serius bagi birokrasi dan organisasi publik. Pemimpin tidak cukup hanya bertahan, melainkan harus memimpin transformasi.
Menurut Taufiq, negara yang masih menerapkan sistem eksploitatif cenderung gagal bertahan lama, sementara negara dengan sistem inklusif mampu bertahan ratusan bahkan ribuan tahun.
“Kuncinya ada pada kepemimpinan yang mendorong pembelajaran, inovasi, dan pelayanan publik yang inklusif,” ujarnya.
LAN menegaskan pentingnya lahir pemimpin regeneratif, yaitu sosok yang tidak hanya belajar, tetapi juga mampu memastikan organisasinya terus berkembang dan beradaptasi.
Dengan pola kepemimpinan seperti ini, diharapkan masyarakat menjadi lebih sejahtera, birokrasi semakin tangguh, dan bangsa bergerak menuju pembangunan berkelanjutan.
Taufiq juga menekankan bahwa pemimpin regeneratif harus mengarusutamakan keberlanjutan lingkungan dalam setiap kebijakan.
Pemimpin masa depan tidak sekadar membuat keputusan, tetapi juga berperan sebagai penghubung, fasilitator, dan penggerak kolaborasi lintas sektor – mulai dari pemerintah, dunia usaha, komunitas, akademisi, hingga media.
Menurut LAN, hanya pemimpin regeneratif yang berpihak pada inovasi dan keberlanjutan yang mampu membawa Indonesia bertahan menghadapi gempuran perubahan global sekaligus menjaga masa depan bangsa.
Proyek Perubahan dan Penilaian Ketat
Dalam kesempatan tersebut, Kepala Bandiklat DIY, Amin Purwani, melaporkan bahwa peserta tidak hanya mengikuti pembelajaran kelas berbasis e-learning. Mereka juga melakukan visitasi ke Kabupaten Sleman pada 16–18 Juli 2025 untuk merancang proyek perubahan di instansi masing-masing.
Proyek ini melibatkan atasan, bawahan, dan pemangku kepentingan terkait. Hasilnya dipresentasikan dalam seminar, kemudian diwujudkan dalam bentuk laporan dan policy paper yang siap diimplementasikan.
Penilaian kelulusan peserta ditentukan secara ketat berdasarkan empat aspek utama:
- Evaluasi akademik: 15%
- Pembelajaran lapangan: 20%
- Produk aktualisasi perubahan: 50%
- Sikap dan perilaku: 15%
Wakil Gubernur DIY, KGPAA Paku Alam X, turut hadir dalam acara ini dan memberikan pesan mendalam. Ia menekankan bahwa kepemimpinan yang kolaboratif dan berorientasi lingkungan sangat relevan untuk menjawab tantangan pembangunan saat ini.
“Pemimpin yang kolaboratif dan berorientasi lingkungan bukan hanya menjaga ekologi. Pemimpin juga harus meneguhkan semangat Hamemayu Hayuning Bawana, yaitu tekad merawat sekaligus menyempurnakan harmoni kehidupan,” ungkap Sri Paduka.