
KABARJAWA – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul terus memperkuat upaya pencegahan penyakit tuberkulosis (TBC) yang masih menjadi ancaman serius bagi masyarakat.
Salah satu strategi utama yang diambil pada tahun 2025 ini adalah menjalin kemitraan dengan organisasi masyarakat (ormas) besar, seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, untuk menyukseskan program vaksinasi TBC secara luas.
Pentingnya Kolaborasi dalam Penanganan TBC
Sekretaris Daerah (Sekda) Bantul, Agus Budi Raharja, menegaskan pentingnya melibatkan berbagai pihak, khususnya ormas keagamaan, dalam program vaksinasi TBC.
Ia menilai, NU dan Muhammadiyah memiliki jaringan komunitas yang besar serta tokoh-tokoh yang berpengaruh di tengah masyarakat.
“Kalau memang nanti ada gerakan vaksinasi, kami pasti akan berkoordinasi dengan semua pihak, termasuk organisasi keamanan dan keagamaan, apalagi sebesar NU dan Muhammadiyah. Komunitas mereka besar dan para tokohnya sangat berpengaruh. Kami sangat membutuhkan dukungan mereka untuk mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam program ini,” ujar Agus saat ditemui di usai penyerahan sapi bantuan Presiden Prabowo, Kamis (5/6/2025) di Piyungan Bantul.
Menurut Agus, TBC masih menjadi penyakit menular yang sangat berbahaya di wilayah Bantul dan secara nasional. Angka kematian akibat TBC tergolong tinggi, sementara tingkat penemuan kasus masih sangat rendah.
“Penemuan kasus TBC masih sangat kecil. Artinya, banyak kasus yang belum terdeteksi, dan ini sangat berisiko bagi penyebaran penyakit. Maka vaksinasi menjadi langkah utama agar masyarakat segera mendapatkan proteksi,” jelasnya.
Kasus TBC di Bantul Masih Tinggi
Data dari Dinas Kesehatan Bantul mencatat, pada tahun 2024, terdapat 1.245 kasus TBC yang terdeteksi. Jumlah ini mengalami peningkatan pada awal tahun 2025 dengan 732 kasus baru tercatat hingga Mei 2025.
Fakta ini menunjukkan bahwa ancaman TBC masih nyata dan membutuhkan penanganan yang lebih masif dan terkoordinasi.
Dalam catatan yang ada, usia termuda penderita TBC adalah anak berusia 11 bulan. Temuan ini menegaskan bahwa penyakit TBC tidak hanya menyerang orang dewasa, tetapi juga bisa mengenai balita bahkan bayi.
“Anak-anak sangat rentan, apalagi jika tinggal di lingkungan dengan penderita TBC aktif. Oleh karena itu, pencegahan dini lewat edukasi dan vaksinasi sangat penting,” kata Agus.
Pencegahan TBC
Tuberkulosis adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini menyerang paru-paru, tetapi juga bisa menyebar ke organ tubuh lain. Penularan TBC terjadi melalui udara, terutama ketika penderita batuk, bersin, atau berbicara.
TBC dapat dicegah melalui perilaku hidup bersih dan sehat, deteksi dini, serta vaksinasi. Penggunaan masker di tempat umum, menjaga sirkulasi udara yang baik, serta menghindari kontak langsung dengan penderita menjadi langkah penting dalam pencegahan penularan.
Vaksinasi BCG yang diberikan sejak bayi memang bisa memberikan perlindungan dasar, tetapi bagi kelompok rentan dan wilayah dengan angka penularan tinggi, vaksinasi lanjutan sangat diperlukan. Inilah yang menjadi dasar Pemkab Bantul menggagas gerakan vaksinasi massal TBC bersama ormas besar.
Agus Budi Raharja meyakini bahwa kolaborasi lintas sektor menjadi kunci sukses dalam menangani penyakit menular seperti TBC. Pemkab Bantul tidak hanya melibatkan tenaga medis dan fasilitas kesehatan, tetapi juga mengajak tokoh agama, pemuda, dan masyarakat luas untuk berperan aktif.
“Semakin banyak pihak yang bergerak bersama, semakin cepat kita bisa mengurangi angka TBC di Bantul. Kita ingin masyarakat terlindungi, dan salah satu jalannya adalah vaksinasi yang terkoordinasi dengan baik,” pungkasnya.
Dengan komitmen kuat dan kerja sama lintas sektor, Pemkab Bantul berharap program vaksinasi TBC dapat menekan jumlah kasus baru dan menyelamatkan lebih banyak jiwa dari ancaman penyakit menular ini. (ef linangkung)