
KABARJAWA – Gunung Merapi kembali menunjukkan aktivitas vulkanik yang mencengangkan.
Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat suhu udara di puncak Merapi turun hingga 12 derajat Celsius pada Rabu (9/7/2025) hingga Kamis dinihari (10/7/2025).
Dalam periode tersebut, Merapi memuntahkan guguran lava pijar sebanyak 25 kali ke lereng-lerengnya yang curam.
Suhu Puncak Merapi
BPPTKG melaporkan suhu puncak Merapi sepanjang Rabu mencapai titik minimum 12,7 derajat Celsius dengan suhu maksimum 20 derajat Celsius. Angin bertiup tenang hingga lemah ke arah barat dan utara. Cuaca di sekitar Merapi cerah, mendung, dan berawan secara bergantian.
Petugas mencatat asap kawah bertekanan lemah keluar berwarna putih dengan intensitas tebal setinggi 15 meter dari puncak kawah. Pemandangan tersebut menegaskan aktivitas vulkanik Merapi yang belum menurun.
BPPTKG melaporkan sebanyak 21 kali guguran lava pijar meluncur ke arah barat daya yang meliputi Kali Bebeng, Kali Krasak, dan Kali Sat/Putih dengan jarak luncur maksimum mencapai 1.800 meter.
Selain itu, mereka juga mendeteksi aktivitas kegempaan cukup intens dengan rincian 99 kali gempa guguran, 4 kali gempa low frequency, 120 kali gempa hybrid atau fase banyak, serta 2 kali gempa tektonik jauh.
Pada Kamis dinihari pukul 00.00-06.00 WIB, BPPTKG melaporkan suhu puncak Merapi turun lebih dingin menjadi 12-16 derajat Celsius. Angin tetap bertiup tenang ke arah timur, dengan kelembaban udara mencapai 68,4-90 persen.
Tim pengamat mencatat asap kawah tidak teramati pada periode ini. Namun, aktivitas kegempaan tetap terjadi dengan 19 kali gempa guguran dan 33 kali gempa hybrid atau fase banyak.
BPPTKG menyebut Merapi masih meluncurkan 4 kali guguran lava pijar ke arah Kali Sat/Putih dengan jarak luncur maksimum 2.000 meter pada Kamis dinihari. Suplai magma di tubuh Merapi masih terus berlangsung dan dapat memicu awan panas guguran (APG) kapan saja.
Status Merapi
BPPTKG menegaskan Gunung Merapi masih berada pada Level III atau Siaga. Mereka mengingatkan masyarakat untuk tidak beraktivitas di kawasan potensi bahaya.
- Sektor selatan-barat daya: Sungai Boyong (maksimum 5 km), Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng (maksimum 7 km).
- Sektor tenggara: Sungai Woro (maksimum 3 km) dan Sungai Gendol (maksimum 5 km).
Jika letusan eksplosif terjadi, lontaran material vulkanik bisa menjangkau radius 3 km dari puncak. BPPTKG meminta masyarakat mewaspadai bahaya lahar dan APG terutama saat hujan turun di sekitar Gunung Merapi.
Mereka juga mengimbau warga untuk mengantisipasi gangguan akibat hujan abu vulkanik yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.
BPPTKG menegaskan jika terjadi perubahan aktivitas signifikan, mereka akan segera meninjau ulang status aktivitas Gunung Merapi.(ef linangkung)