
KabarJawa.com– Menjelang Iduladha 2026, denyut aktivitas perdagangan hewan kurban mulai terasa di berbagai sudut Kota Yogyakarta.
Lapak-lapak penjualan sapi, kambing, dan domba perlahan ramai dikunjungi warga yang ingin mempersiapkan ibadah kurban lebih awal.
Namun di balik permintaan masyarakat yang meningkat, Kota Yogyakarta menghadapi persoalan klasik yang terus berulang setiap tahun, minimnya ketersediaan hewan kurban dari peternakan lokal.
Keterbatasan lahan peternakan membuat Kota Yogyakarta tidak mampu memenuhi kebutuhan hewan kurban secara mandiri.
Kondisi ini memaksa pemerintah kota dan para pedagang mengandalkan pasokan dari luar daerah demi mencukupi kebutuhan masyarakat saat Iduladha tiba.
Kebutuhan Stok Hewan Kurban Kota Yogyakarta
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta, Sukidi, mengungkapkan bahwa populasi sapi yang tersedia di wilayah Kota Yogyakarta saat ini hanya berkisar 200 ekor.
Jumlah tersebut sangat kecil jika dibandingkan dengan kebutuhan kurban masyarakat yang mencapai ribuan ekor setiap tahun.
“Untuk ketersediaan di dalam kota memang sangat sedikit karena peternakannya terbatas. Populasi sapi hanya sekitar 200 ekor, sedangkan kambing bahkan lebih sedikit lagi. Karena itu, sebagian besar hewan kurban untuk masyarakat Kota Yogyakarta harus didatangkan dari luar daerah,” ujar Sukidi saat meninjau UD Segar Farm Pakuncen, Wirobrajan, Jumat (8/5/2026).
Data pemotongan hewan kurban tahun 2025 memperlihatkan tingginya kebutuhan masyarakat Kota Yogyakarta terhadap hewan kurban. Sepanjang Iduladha tahun lalu, total hewan kurban mencapai 15.777 ekor.
Jumlah tersebut berasal dari pemotongan di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) milik Dinas Pertanian dan Pangan serta ratusan titik penyembelihan mandiri yang tersebar di tengah masyarakat.
Di RPH pemerintah, tercatat sebanyak 7.524 ekor hewan dipotong. Rinciannya terdiri atas 2.443 ekor sapi, 1.554 ekor kambing, dan 3.527 ekor domba.
Sementara itu, pemotongan di luar RPH yang tersebar di sekitar 600 titik wilayah Kota Yogyakarta mencapai 8.253 ekor. Angka tersebut meliputi 2.447 ekor sapi, 1.342 ekor kambing, dan 4.434 ekor domba.
Besarnya kebutuhan itu menunjukkan bahwa Kota Yogyakarta menjadi salah satu wilayah dengan tingkat konsumsi hewan kurban yang tinggi setiap Iduladha.
Namun ironisnya, kapasitas peternakan lokal tidak mampu mengejar lonjakan permintaan tersebut.
Wonosari hingga Bali jadi Penopang Pasokan Hewan Kurban
Untuk mengatasi keterbatasan stok, pemerintah dan pedagang hewan kurban mendatangkan pasokan dari berbagai daerah di dalam maupun luar Daerah Istimewa Yogyakarta.
Sukidi menjelaskan bahwa wilayah Gunungkidul, khususnya Wonosari, masih menjadi pemasok utama hewan kurban bagi Kota Yogyakarta. Selain itu, pasokan juga datang dari Magelang, Madura, hingga Bali.
“Pasokan paling banyak tetap berasal dari wilayah DIY sendiri, terutama Wonosari. Namun ada juga yang datang dari Magelang, Madura, bahkan Bali,” jelasnya.
Arus distribusi hewan kurban dari berbagai daerah tersebut mulai meningkat beberapa pekan sebelum Iduladha.
Truk pengangkut sapi dan kambing silih berganti memasuki Kota Yogyakarta untuk memenuhi kebutuhan pedagang maupun pembeli.
Kondisi itu sekaligus memperlihatkan ketergantungan penuh Kota Yogyakarta terhadap daerah penghasil ternak.
Di tengah perkembangan kawasan perkotaan yang semakin padat, ruang peternakan di wilayah kota terus menyusut dan sulit berkembang.
Pemerintah Perketat Pemeriksaan Kesehatan Hewan Kurban
Meski sebagian besar hewan kurban berasal dari luar daerah, Pemerintah Kota Yogyakarta memastikan seluruh hewan yang masuk tetap memenuhi standar kesehatan dan kelayakan kurban.
Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta menerapkan pemeriksaan ketat terhadap setiap hewan yang masuk ke wilayah kota.
Pemeriksaan tersebut meliputi skrining dokumen, pengecekan fisik, hingga pengawasan rutin di lapak-lapak penjualan.
Setiap hewan wajib dilengkapi Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) dan Sertifikat Veteriner sebelum diperjualbelikan kepada masyarakat.
Sukidi menegaskan bahwa pengawasan dilakukan setiap hari sejak pedagang mulai membuka lapak hingga masa penjualan berakhir menjelang Iduladha.
“Petugas kami akan terus berkeliling melakukan pemeriksaan kesehatan hewan di lapak-lapak penjualan. Meskipun hewan sudah membawa SKKH, pemeriksaan fisik tetap kami lakukan untuk memastikan hewan benar-benar sehat dan layak untuk kurban,” tegasnya.
Petugas kesehatan hewan memeriksa berbagai indikator penting, mulai dari kondisi fisik, nafsu makan, kebersihan tubuh, hingga kemungkinan gejala penyakit menular.
Pemeriksaan tersebut menjadi langkah penting untuk menjaga keamanan masyarakat sekaligus memastikan ibadah kurban berjalan sesuai syariat dan standar kesehatan.
Kondisi minimnya stok hewan kurban lokal sebenarnya menjadi gambaran nyata tantangan peternakan di kawasan perkotaan seperti Kota Yogyakarta.
Pertumbuhan permukiman, pembangunan kawasan usaha, dan keterbatasan lahan membuat sektor peternakan sulit berkembang.
Akibatnya, kebutuhan pangan dan hewan ternak di kota sangat bergantung pada daerah penyangga di sekitarnya. Situasi ini tidak hanya terjadi saat Iduladha, tetapi juga pada kebutuhan daging harian masyarakat.
Meski demikian, Pemerintah Kota Yogyakarta terus berupaya menjaga stabilitas pasokan dan memastikan distribusi hewan kurban berjalan lancar hingga Hari Raya Iduladha 2026. (ef linangkung)