
KabarJawa.com – Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta meluncurkan series drama-komedi berjudul Trio Bintang Lima sebagai bagian dari upaya penguatan literasi budaya melalui medium audiovisual. Karya ini mengangkat tema relasi antar generasi dan nilai empan papan sebagai landasan etika sosial masyarakat Yogyakarta.
Pemutaran perdana Trio Bintang Lima digelar di Ruang Science Theater Taman Pintar Yogyakarta, Kamis (22/1/2026) pukul 13.00 WIB. Acara tersebut dihadiri jajaran Pemerintah Kota Yogyakarta, tim produksi, para pemeran, serta komunitas film dan pegiat budaya.
Series ini mengisahkan tiga anak muda—Kevin, Indah, dan Obi—yang mengelola sebuah homestay warisan Eyang Putri. Dalam pengelolaannya, ketiganya menghadapi tantangan ekonomi, perbedaan pandangan, serta benturan antara nilai tradisi dan gaya hidup modern.
Rumah warisan tersebut menjadi ruang pertemuan lintas generasi yang memunculkan persoalan tanggung jawab, etika, dan pewarisan nilai.
Pendekatan naratif dikembangkan melalui kehadiran tokoh Eyang Putri yang digambarkan “hadir kembali” dengan memasuki tubuh Obi.
Elemen tersebut dikemas secara komedik dan berfungsi sebagai sarana penyampaian pesan mengenai unggah-ungguh, empan papan, serta tata krama Jawa dalam konteks kehidupan sehari-hari.
Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Yetti Martanti, menyatakan bahwa series ini dirancang sebagai media edukasi kultural yang relevan dengan generasi muda.
“Nilai-nilai Jawa seperti unggah-ungguh, empan papan, dan rasa hormat terhadap sesama kami sampaikan melalui medium yang ringan dan dekat dengan keseharian, agar dapat dipahami lintas generasi,” ujar Yetti.
Ia menambahkan bahwa filosofi aruh, gupuh, lungguh, suguh yang mencerminkan sikap menyapa, menyambut, mempersilakan, dan melayani menjadi salah satu fondasi nilai yang diangkat dalam cerita.
Sutradara sekaligus penulis Trio Bintang Lima, Lanang Gigih, menjelaskan bahwa genre komedi dipilih agar pesan budaya dapat diterima secara lebih luas.
“Konflik yang diangkat berasal dari situasi sehari-hari, sehingga penonton dapat melihat refleksi pengalaman mereka sendiri,” kata Lanang.
Produser Siska Raharja menuturkan bahwa format series memungkinkan pengembangan karakter secara bertahap. Ia menilai kehadiran tokoh Eyang Putri merupakan metafora pewarisan nilai lintas generasi.
“Nilai-nilai lama tetap hidup melalui generasi yang mau mendengarkan dan mempraktikkannya dalam kehidupan,” ujarnya.
Melalui Trio Bintang Lima, Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta menyatakan ingin menghadirkan kebudayaan sebagai praktik hidup yang relevan dengan perkembangan zaman, sekaligus memperkuat pemahaman tentang relasi antar generasi dan etika sosial berbasis kearifan lokal.