
KabarJawa.com – Semesta Saranjana: Kota Gaib, yang sukses besar dengan meraih 1,2 juta penonton di Indonesia, kini resmi diperluas. Film terbaru berjudul Kuyank, yang merupakan prequel resmi dari kisah kota gaib tersebut, hari ini diputar perdana dalam Special Screening Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) ke-20. Film ini menjadi salah satu karya yang paling dinantikan, menjanjikan horor yang berakar kuat pada budaya Kalimantan.
Disutradarai oleh Johansyah Jumberan, sutradara yang merupakan talenta asli Kalimantan Selatan, Kuyank menggali lebih dalam legenda ilmu kuyang, salah satu urban legend paling terkenal dan melekat di masyarakat Kalimantan. Film ini tak hanya menyajikan teror visual, tetapi juga menghadirkan pendekatan budaya yang otentik melalui riset mendalam.
Pemutaran di JAFF ini menjadi penanda langkah penting bagi film yang siap mengangkat kekayaan budaya Kalimantan ke panggung sinema nasional, sebelum dirilis secara nasional mulai 29 Januari 2026 di seluruh bioskop Indonesia.
Komitmen pada Otentisitas Budaya Kalimantan
Salah satu kekuatan utama yang diusung Kuyank adalah komitmennya terhadap otentisitas daerah. Seluruh proses shooting film ini dilakukan 100 persen di berbagai lokasi di Kalimantan. Upaya ini diperkuat dengan penggunaan 50 persen Bahasa Banjar, bahasa daerah yang banyak digunakan oleh masyarakat Kalimantan, yang bertujuan untuk menghadirkan atmosfer yang benar-benar lokal dan mencekam.
Keterlibatan talenta lokal Kalimantan juga menjadi value penting bagi film ini. Tidak hanya aktor, tetapi juga kreator lokal, termasuk musisi Jeff Banjar, yang kembali menciptakan soundtrack dalam Bahasa Banjar setelah lagunya di Saranjana viral secara nasional. Komitmen ini memastikan bahwa narasi Kuyang tersampaikan dengan kedalaman budaya yang akurat, tidak hanya sebagai setting belaka.
Skala Produksi dan CGI Premium
Dibandingkan dengan pendahulunya, Kuyank diproduksi dengan skala yang jauh lebih besar, terutama pada pengerjaan visual dan efek gaib. Peningkatan ini menjadi ambisi tim produksi untuk menghadirkan pengalaman horor yang lebih premium.
Efek Computer Generated Imagery (CGI) film ini digarap oleh LMN Studio, salah satu studio VFX (Visual Effects) terbaik di Indonesia yang telah menangani berbagai film besar nasional maupun internasional. Sentuhan visual premium tersebut diharapkan dapat menghadirkan sosok kuyang yang lebih nyata, mencekam, dan berkualitas tinggi, sekaligus mengangkat standar film horor lokal ke level sinema yang lebih baik.
Film ini diperkuat oleh deretan aktor dan aktris papan atas Indonesia, termasuk Rio Dewanto, Barry Prima, Jollene Marie, Ochi Rosdiana, Dayu Wijanto, Ananda George, dan Hazman Al Idrus, yang berkolaborasi dengan talenta-talenta Kalimantan untuk memperkaya kedalaman budaya dan karakter.
Drama Keluarga, Adat, dan Kutukan
Di balik terpaan teror Kuyank yang mencekam, film ini menyimpan cerita emosional yang mendalam. Alur cerita berfokus pada drama keluarga dan tekanan adat yang memicu tragedi.
SINOPSIS KUYANK
Kuyank mengambil latar tujuh tahun sebelum gerbang kota gaib Saranjana terbuka. Cerita dimulai dengan cinta terlarang antara Rusmiati, gadis kampung sederhana, dan Badri, lelaki terpandang, yang nekat menikah meski ramalan menyebut pernikahan mereka akan membawa kesialan.
Kebahagiaan mereka mulai goyah ketika pasangan tersebut tak kunjung dikaruniai anak. Tekanan semakin memuncak ketika ibu mertua, yang sejak awal menolak Rusmiati, mendesak Badri untuk menikah lagi demi mendapatkan keturunan agar dapat mematahkan ramalan buruk itu.
Terhimpit rasa takut kehilangan suami, martabat, dan keutuhan rumah tangganya, Rusmiati mengambil jalan gelap: mempelajari ajian Kuyang, ilmu hitam kuno yang diyakini memberinya kecantikan dan keabadian. Keputusan tragis ini justru memicu rangkaian teror, di mana bayi dan perempuan hamil menjadi korban misterius.
Saat jati diri Rusmiati terbongkar, kemarahan warga tak terbendung. Di tengah ancaman amuk massa dan lenyapnya batas antara cinta dan kutukan, Badri dihadapkan pada pilihan paling pahit: melindungi perempuan yang ia cintai, atau menyerah pada tekanan masyarakat dan adat yang menuntut balas.
Perpaduan antara horor, drama keluarga, dan budaya inilah yang membuat Kuyank hadir sebagai pengalaman sinema yang lebih kaya, bukan sekadar tontonan horor biasa. Keberhasilannya menembus Special Screening JAFF ke-20 menjadi bukti kualitas yang diusungnya.***