
KabarJawa.com – Aktivitas vulkanik Gunung Merapi kembali menunjukkan intensitas tinggi. Dalam periode sepekan, tepatnya 2 hingga 8 Januari 2026, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melalui Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat delapan kali kejadian awan panas guguran (APG) yang meluncur dari puncak Gunung Merapi.
Kepala BPPTKG, Agus Budi Santoso, menyampaikan bahwa rangkaian aktivitas tersebut menegaskan Gunung Merapi masih berada dalam fase erupsi efusif aktif, dengan potensi bahaya yang perlu terus diwaspadai oleh masyarakat serta pemerintah daerah di sekitarnya.
Kondisi Visual Didominasi Asap Putih
Selama periode pengamatan, kondisi visual Gunung Merapi terpantau relatif jelas pada pagi dan malam hari. Namun, pada siang hingga sore hari, puncak gunung kerap tertutup kabut.
Dari kejauhan, terlihat asap putih keluar secara konsisten dengan tekanan lemah hingga sedang.
Asap memiliki ketebalan bervariasi, dari tipis hingga tebal, dengan tinggi kolom antara 10 hingga 25 meter dari puncak. Aktivitas tersebut menunjukkan dapur magma Merapi masih aktif dan terus mendorong material ke permukaan.
Delapan Awan Panas Guguran Mengarah Barat Daya
BPPTKG mencatat delapan kali kejadian awan panas guguran selama sepekan. Awan panas tersebut meluncur sejauh maksimum 1.500 meter ke arah barat daya, tepatnya menuju hulu Kali Krasak, Kali Bebeng, serta Kali Sat atau Putih.
Selain awan panas guguran, aktivitas guguran lava juga teramati sangat intens. Guguran lava tercatat enam kali mengarah ke hulu Kali Boyong dengan jarak luncur hingga 1.600 meter.
Aktivitas guguran paling dominan terjadi ke arah hulu Kali Krasak, dengan 93 kali kejadian dan jarak luncur maksimum mencapai 2.000 meter.
Sementara itu, guguran lava ke hulu Kali Bebeng tercatat 25 kali dan ke hulu Kali Sat atau Putih sebanyak 73 kali, masing-masing dengan jarak luncur maksimum 2.000 meter.
Intensitas guguran ini menandakan suplai magma dari dalam tubuh Gunung Merapi masih berlangsung aktif.
Perubahan Kubah Lava Terpantau
Analisis morfologi kubah lava melalui kamera pemantauan di Ngepos dan Babadan 2 menunjukkan adanya perubahan kecil pada Kubah Barat Daya.
Perubahan tersebut dipengaruhi dinamika volume kubah serta aktivitas guguran lava yang terus berlangsung.
Sebaliknya, Kubah Tengah tidak menunjukkan perubahan morfologi yang signifikan.
Berdasarkan analisis foto udara tertanggal 13 Desember 2025, volume Kubah Barat Daya tercatat sebesar 4.171.800 meter kubik, sedangkan volume Kubah Tengah mencapai 2.368.800 meter kubik.
Aktivitas Kegempaan Meningkat
Selama periode pengamatan, jaringan seismik BPPTKG merekam peningkatan aktivitas kegempaan dibandingkan pekan sebelumnya.
Tercatat delapan kali gempa awan panas guguran, dua gempa Vulkanik Dangkal, 505 gempa Fase Banyak, 732 gempa Guguran, serta empat gempa Tektonik.
“Peningkatan kegempaan ini memperkuat indikasi bahwa tekanan magma di dalam tubuh Gunung Merapi masih aktif dan berpotensi memicu guguran lanjutan,” kata Agus Budi Santoso.
Deformasi Masih Stabil
Pemantauan deformasi menggunakan metode Electronic Distance Measurement (EDM) dan Global Positioning System (GPS) menunjukkan kondisi relatif stabil.
Jarak tunjam EDM dari titik BAB0 ke reflektor RB2 di sektor barat laut berada pada kisaran 3.840,403 hingga 3.840,410 meter.
Sementara itu, baseline GPS Labuhan–Jrakah terukur pada kisaran 7.108,13 hingga 7.108,14 meter.
Data tersebut menunjukkan tidak terdapat perubahan deformasi yang signifikan selama periode pengamatan.
Hujan Deras Belum Picu Lahar
Selama sepekan, hujan tercatat terjadi di sekitar puncak Gunung Merapi. Curah hujan tertinggi terjadi pada 8 Januari 2026, dengan intensitas 40,79 milimeter per jam selama 61 menit di Stasiun Pasarbubar.
Meski demikian, BPPTKG tidak menerima laporan adanya aliran lahar maupun peningkatan debit sungai yang berhulu di Merapi.
Status Tetap Siaga
Berdasarkan hasil pengamatan visual dan instrumental, BPPTKG menyimpulkan aktivitas vulkanik Gunung Merapi masih cukup tinggi dan didominasi erupsi efusif. Oleh karena itu, status Gunung Merapi tetap berada pada Level III atau Siaga.
“Suplai magma masih terus berlangsung dan berpotensi memicu awan panas guguran di wilayah zona bahaya,” ujar Agus.
Wilayah Berpotensi Terdampak
Potensi bahaya utama berupa guguran lava dan awan panas berada di sektor selatan hingga barat daya, meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal lima kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng sejauh maksimal tujuh kilometer.
Pada sektor tenggara, potensi bahaya mencakup Sungai Woro sejauh tiga kilometer dan Sungai Gendol sejauh lima kilometer.
Selain itu, lontaran material vulkanik akibat letusan eksplosif berpotensi menjangkau radius hingga tiga kilometer dari puncak.
Imbauan BPPTKG
BPPTKG merekomendasikan pemerintah daerah di Kabupaten Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten untuk terus meningkatkan upaya mitigasi bencana.
Pemerintah daerah diminta memperkuat kapasitas masyarakat serta memastikan kesiapan sarana dan prasarana evakuasi.
Masyarakat juga diimbau tidak melakukan aktivitas di kawasan rawan bahaya, mewaspadai potensi awan panas guguran dan lahar terutama saat hujan, serta mengantisipasi dampak abu vulkanik.
BPPTKG menegaskan akan segera meninjau ulang status Gunung Merapi apabila terjadi perubahan aktivitas yang signifikan, serta meminta masyarakat hanya mengakses informasi dari saluran resmi BPPTKG dan MAGMA Indonesia.