
KabarJawa.com – Gunung Merapi kembali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik. Sepanjang Minggu sore, 21 Desember 2025, gunung api tersebut tercatat meluncurkan empat kali awan panas guguran ke sektor barat daya.
Seluruh kejadian tersebut tercatat dalam laporan resmi Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) pada periode pengamatan pukul 12.00 hingga 18.00 WIB.
Kepala BPPTKG, Agus Budi Santosa, menyampaikan bahwa aktivitas Merapi masih mencerminkan suplai magma yang aktif dari kedalaman.
Kondisi ini menyebabkan potensi bahaya berupa guguran lava dan awan panas guguran tetap tinggi, terutama di alur sungai yang berhulu langsung di puncak Merapi.
Awan Panas Guguran Capai Jarak 1,2 Kilometer
BPPTKG mencatat empat kejadian awan panas guguran dengan amplitudo berkisar antara 11 hingga 25 milimeter dan durasi 108,64 hingga 133,81 detik.
Seluruh awan panas tersebut bergerak ke arah barat daya melalui alur Kali Bebeng dan Kali Boyong, dengan jarak luncur maksimum mencapai 1.200 meter dari puncak.
Selain awan panas guguran, pengamat juga merekam dua kali guguran lava pijar yang mengalir ke sektor barat daya melalui Kali Bebeng.
Guguran lava tersebut mencapai jarak luncur sekitar 1.000 meter, menambah rangkaian aktivitas vulkanik yang terjadi dalam satu sore.
Aktivitas Kegempaan Masih Beragam
Selama periode pengamatan, BPPTKG juga mencatat aktivitas kegempaan dengan variasi jenis dan intensitas. Sebanyak 15 kali gempa guguran terekam dengan amplitudo 2 hingga 32 milimeter dan durasi maksimal 207,86 detik.
Selain itu, terdeteksi 12 kali gempa hybrid atau fase banyak yang menunjukkan adanya pergerakan fluida magma di dalam tubuh gunung.
Aktivitas vulkanik dangkal juga tercatat sebanyak lima kali dengan amplitudo mencapai 78 milimeter. Satu gempa tektonik jauh turut terekam, meski tidak berkaitan langsung dengan sistem magmatik Gunung Merapi.
BPPTKG menyebut keseluruhan data kegempaan tersebut menunjukkan bahwa Gunung Merapi masih berada dalam fase aktivitas tinggi dan berpotensi memicu kejadian lanjutan.
Kondisi Cuaca Tingkatkan Risiko Bahaya Sekunder
Pengamatan visual menunjukkan cuaca di sekitar Gunung Merapi didominasi kondisi mendung hingga hujan. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur, dengan suhu udara berkisar antara 17,3 hingga 21,1 derajat Celsius.
Kelembapan udara tercatat sangat tinggi, mendekati 100 persen, sementara curah hujan mencapai 48 milimeter per hari.
BPPTKG menilai kondisi cuaca tersebut dapat meningkatkan potensi bahaya sekunder berupa aliran lahar, khususnya di sungai-sungai yang berhulu di puncak Merapi.
Masyarakat di kawasan rawan bencana diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama saat terjadi hujan dengan intensitas tinggi.
Secara visual, tubuh Gunung Merapi masih dapat teramati meski sesekali tertutup kabut tipis hingga sedang.
Asap kawah bertekanan lemah terlihat berwarna putih dengan intensitas tebal dan ketinggian sekitar 10 meter di atas puncak kawah. Kondisi tersebut menunjukkan proses pelepasan gas vulkanik masih berlangsung.
Status Siaga Tetap Diberlakukan
BPPTKG menetapkan status Gunung Merapi pada Level III atau Siaga. Agus Budi Santosa menegaskan masyarakat tidak diperkenankan melakukan aktivitas apa pun di kawasan potensi bahaya.
Pada sektor selatan hingga barat daya, potensi bahaya guguran lava dan awan panas mencakup Sungai Boyong sejauh maksimal 5 kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga 7 kilometer.
Di sektor tenggara, potensi bahaya meliputi Sungai Woro sejauh 3 kilometer dan Sungai Gendol hingga 5 kilometer. Selain itu, lontaran material vulkanik akibat letusan eksplosif berpotensi menjangkau radius hingga 3 kilometer dari puncak.
BPPTKG Tegaskan Potensi Awan Panas Masih Ada
Berdasarkan data pemantauan, suplai magma ke Gunung Merapi masih terus berlangsung.
Kondisi tersebut membuka kemungkinan terjadinya awan panas guguran sewaktu-waktu di dalam zona bahaya. BPPTKG juga mengingatkan potensi gangguan abu vulkanik yang dapat muncul akibat aktivitas erupsi.
“Jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan, kami akan segera meninjau kembali tingkat aktivitas Gunung Merapi,” ujar Agus Budi Santosa.
BPPTKG menyusun laporan ini berdasarkan data pemantauan Kementerian ESDM, Badan Geologi, dan PVMBG.
Masyarakat di sekitar Gunung Merapi diminta terus mengikuti informasi resmi dan menghindari informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.