Seolah Menyindir Program Gentengisasi Presiden Prabowo, Dosen UGM Ungkap Keunggulan Atap Seng 

Bagikan :
Rumah Adat Beratap Seng/Foto: Istimewa

KabarJawa.com– Wacana Program Gentengisasi dari Presiden Prabowo Subianto dalam Rapat Koordinasi Nasional Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026 langsung menyedot perhatian publik.

Pemerintah menggulirkan gagasan tersebut sebagai bagian dari upaya penataan permukiman dan peningkatan kualitas hunian rakyat. Namun, di tengah euforia kebijakan nasional itu, suara kritis mulai muncul dari kalangan akademisi.

Salah satu respons datang dari Dr. Ashar Saputra, dosen Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan, Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM).

Ia tidak secara gamblang menolak program gentengisasi, tetapi menyampaikan pandangan yang publik nilai sebagai sindiran halus terhadap kebijakan tersebut.

Ashar menegaskan bahwa pemilihan material atap bangunan tidak bisa disederhanakan hanya pada aspek estetika atau penyeragaman visual semata.

Keunggulan Atap Seng

Ashar menekankan bahwa pemerintah perlu mengkaji kebijakan gentengisasi melalui tiga aspek utama, yaitu aspek teknis, aspek sosial budaya, dan aspek keberlanjutan.

Ia menyatakan bahwa ketiga aspek tersebut saling berkaitan dan tidak dapat terpisah dalam perencanaan pembangunan nasional.

“Saya tidak langsung mengomentari program gentengisasi itu sendiri, tetapi saya melihatnya dari tiga pendekatan tersebut. Setiap material atap memiliki konsekuensi yang berbeda,” ujar Ashar pada Kamis (5/2).

Pernyataan itu sekaligus menegaskan bahwa kebijakan berbasis material bangunan memerlukan kajian ilmiah yang komprehensif, bukan sekadar pendekatan visual atau simbolik.

Dalam aspek teknis, Ashar menjelaskan bahwa genteng dan seng memiliki karakteristik fisik dan kinerja yang sangat berbeda. Ia menyebut seng berbentuk lembaran.

Baca juga  Motor Oleng, Mahasiswi Asal Jawa Barat Kehilangan Nyawa usai Kecelakaan di Ringroad Selatan Bantul

Jadi, hal itu memungkinkan pemasangan pada atap dengan kemiringan rendah, bahkan hingga sekitar 5 persen, tanpa meningkatkan risiko kebocoran. Sebaliknya, genteng membutuhkan kemiringan atap tertentu agar dapat berfungsi dengan aman.

“Genteng umumnya baru aman digunakan pada kemiringan lebih dari 30 persen. Dari sini saja sudah terlihat adanya perbedaan teknis yang cukup mendasar,” jelasnya.

Ashar menilai bahwa perbedaan tersebut sering luput dari perhatian ketika penyusunan kebijakan secara umum dan seragam untuk seluruh wilayah Indonesia.

Ia juga menyoroti perbedaan berat material sebagai faktor krusial dalam perencanaan bangunan. Genteng tanah liat, genteng keramik, maupun genteng beton memiliki bobot yang jauh lebih berat daripada seng.

Kondisi itu memaksa perancang bangunan untuk menyiapkan struktur atap dan rangka bangunan yang lebih kuat.

“Kalau bebannya besar, struktur harus mampu menahan. Saat terjadi gempa, massa yang besar juga meningkatkan risiko jika struktur tidak direncanakan dengan baik,” tegasnya.

Di sisi lain, Ashar mengakui bahwa seng yang ringan juga menyimpan risiko tersendiri, terutama saat angin kencang melanda.

Namun, ia menegaskan bahwa tidak ada material atap yang sepenuhnya bebas risiko. Setiap pilihan selalu membawa kelebihan dan kekurangan.

Respons Terhadap Panas

Aspek teknis lain yang menjadi sorotan adalah kemampuan material atap dalam merespons panas matahari. Ashar menjelaskan bahwa genteng yang berat cenderung mampu meredam panas dengan lebih baik sehingga suhu di dalam rumah terasa lebih sejuk.

Baca juga  Mural Usut Tuntas Korupsi Mandala Krida Menggema di Yogyakarta, Desakan Publik Menguat saat Renovasi Stadion Tak Kunjung Tuntas

Namun, ia mengingatkan bahwa kondisi tersebut tidak selalu ideal untuk semua wilayah Indonesia.

“Di daerah pegunungan yang dingin, rumah justru membutuhkan kemampuan memanen panas matahari agar bagian dalamnya hangat. Dalam konteks ini, seng bisa menjadi pilihan yang lebih sesuai,” ujarnya.

Pandangan ini menunjukkan bahwa kebijakan satu material untuk seluruh wilayah berpotensi mengabaikan kebutuhan iklim lokal.

Selain teknis, Ashar menilai aspek sosial budaya sebagai elemen yang tidak kalah penting. Ia mengingatkan bahwa Indonesia memiliki keragaman suku, budaya, dan sistem kepercayaan yang memengaruhi pilihan material bangunan.

Ia mencontohkan bahwa di beberapa daerah, masyarakat masih memegang kepercayaan bahwa orang yang masih hidup tidak boleh tinggal di bawah material yang berasal dari tanah. Kepercayaan tersebut membuat warga setempat menghindari penggunaan genteng tanah liat.

“Itu bukan soal teknis atau estetika, tetapi soal keyakinan sosial budaya. Hal seperti ini tidak bisa diabaikan atau diseragamkan,” jelasnya.

Ancaman Hilangnya Karakter Rumah Adat

Ashar juga menyoroti potensi hilangnya karakter rumah adat Nusantara jika kebijakan gentengisasi berjalan secara kaku.

Ia menyebut beberapa rumah tradisional, seperti Rumah Gadang di Sumatra Barat, Tongkonan di Toraja, serta rumah adat di Nias dan Papua, yang memiliki bentuk atap khas dan unik.

Baca juga  Jadwal Samsat Keliling Jogja Hari Ini 24 Juli 2026, Cek Lokasi Bantul hingga Gunungkidul

Secara historis, bangunan tersebut menggunakan material lentur seperti ijuk atau sirap.

“Kalau menggunakan genteng yang berat dan kaku, itu akan menjadi tantangan tersendiri dan berpotensi menghilangkan karakter asli bangunan tradisional,” katanya.

Dalam aspek keberlanjutan, Ashar menekankan pentingnya menghitung energi dan emisi sejak proses produksi hingga penggunaan material atap.

Ia menilai bahwa kebijakan material bangunan harus mempertimbangkan jejak lingkungan secara menyeluruh.

“Harus dihitung berapa energi yang dibutuhkan dan emisi yang dihasilkan untuk membuat suatu material. Belum tentu genteng selalu lebih ramah lingkungan dibandingkan seng, atau sebaliknya,” ujarnya.

Ashar juga mempertanyakan tujuan utama dari kebijakan gentengisasi, apakah pemerintah ingin menekankan bentuk atap, jenis material, atau sekadar tampilan visual.

Ia mengingatkan bahwa saat ini industri konstruksi telah menyediakan berbagai material berbasis metal yang menyerupai genteng dan memiliki tampilan estetis.

“Kalau yang dikejar estetika, sebenarnya ada banyak alternatif. Pertanyaannya, yang diinginkan itu materialnya, bentuknya, atau tampilan arsitekturnya,” katanya.

Di akhir pernyataan, Ashar menegaskan bahwa penerapan kebijakan terkait material bangunan tidak seharusnya seragam di seluruh Indonesia.

Ia menilai pendekatan fleksibel lebih sesuai dengan kondisi geografis, budaya, dan kemampuan ekonomi masyarakat yang beragam.

“Indonesia itu beragam. Kalau semua dipaksa mengikuti satu pilihan, itu kurang sejalan dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika. Masyarakat harus menjadi subjek, bukan sekadar objek pembangunan,” pungkasnya. (ef linangkung)

Berita Terbaru

Universitas Ngudi Waluyo memiliki 24 program studi dari D3 hingga S2, mencakup bidang kesehatan, bisnis, hukum, dan pendidikan.
Berapakah Jumlah Program Studi yang Ada di Universitas Ngudi Waluyo Saat ini?
Nomor punggung Pelé yang paling ikonik adalah 10. Simak sejarah angka tersebut dan tiga gelar Piala Dunia Brasil.
Apa Nomor Punggung Paling Ikonik Pele di Panggung Piala Dunia?
KKB-Papua
Penembakan Pegawai Dinas Pertanian Jayawijaya, 3 Orang Tewas di Pedalaman Papua
All You Can Eat Steamboat & Grill hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo dengan panorama Menoreh dan pilihan paket menarik.
All You Can Eat Steamboat & Grill Hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo: Kuliner dengan Panorama Menoreh
Jadwal one way Puncak 12-13 September 2026 berlaku situasional. Ganjil genap ditiadakan, cek jam arah naik dan turun.
Jadwal One Way Jalur Puncak12-13 September 2026: Ganjil Genap Ditiadakan, Satu Arah Situasional

Terpopuler

Nama kepala sekolah dan guru SD Pekalongan yang viral belum diumumkan. Disdikbud membenarkan kasus dan menjatuhkan sanksi. (Foto ilustrasi Pixabay/geralt)
Siapa Kepala Sekolah dan Guru SD Pekalongan Viral Video Asusila yang Dicopot Disdikbud?
Video kasir Indomaret viral 7 menit ramai di media sosial. Simak fakta soal isi video, Lylia, dan klaim akun media sosialnya. (Foto ilustrasi: Pixabay/lolo_btl)
Video Kasir Indomaret Viral 7 Menit Isinya Apa dan Nama Akun IG serta TikTok Lylia yang Disebut-sebut Pemeran Video
pemeliharaan jaringan listrik
Jadwal Pemadaman Listrik Surabaya Hari Ini, Cara Cek Info Real Time & Akurat
Lokasi Tilang Operasi Patuh Progo 2026 Jogja
Titik Lokasi Rawan Tilang di Jogja, Operasi Patuh Progo 2026: ETLE Sleman, Bantul dan Sekitarnya
Roberto Carlos masih hidup pada Agustus 2026. Simak kondisi kesehatan, karier, dan perannya sebagai pemegang saham Fursan Hispania. (Foto: instagram/oficialrc3)
Apakah Roberto Carlos Masih Hidup Agustus 2026? Ini Kondisi Terbaru Legenda Brasil dan Real Madrid