
KabarJawa.com– Ketidakjelasan kelanjutan pembangunan renovasi Stadion Mandala Krida Yogyakarta kembali memantik perhatian publik.
Setelah bertahun-tahun proyek tersebut terseret persoalan hukum yang menjerat sejumlah pihak dari unsur pemerintah maupun swasta, kini gelombang kritik muncul dalam bentuk berbeda.
Sejumlah mural bernada satire dan kritik sosial bermunculan di berbagai sudut Kota Yogyakarta. Mereka menyuarakan tuntutan agar kasus korupsi renovasi Stadion Mandala Krida diusut hingga tuntas.
Renovasi Stadion
Fenomena mural tersebut tidak hanya menjadi ekspresi seni jalanan. Ini juga menjelma menjadi simbol kekecewaan masyarakat terhadap lambannya penyelesaian persoalan yang membelit salah satu stadion kebanggaan warga Yogyakarta itu.
Di tengah ketidakpastian nasib stadion, para seniman jalanan bersama kalangan suporter memilih menyampaikan aspirasi melalui media visual.
Tulisan-tulisan bernada kritik yang terpampang di tembok-tembok kota seakan mengingatkan bahwa persoalan Stadion Mandala Krida bukan sekadar proyek pembangunan yang mangkrak, melainkan menyangkut harapan publik.
Hingga saat ini, kelanjutan renovasi Stadion Mandala Krida masih belum menemui kejelasan. Sebelumnya, proyek tersebut menjadi sorotan akibat kasus korupsi yang menyeret sejumlah pihak.
Kini, persoalan anggaran menjadi salah satu kendala utama yang menghambat proses pembangunan lanjutan.
Kondisi tersebut menimbulkan kekecewaan di berbagai kalangan, terutama para pecinta sepak bola dan suporter yang berharap stadion berstandar nasional tersebut dapat segera berfungsi secara optimal.
Bagi masyarakat Yogyakarta, Stadion Mandala Krida bukan sekadar bangunan olahraga. Stadion itu merupakan bagian dari sejarah panjang perkembangan sepak bola di Kota Gudeg.
Oleh karena itu, keterlambatan penyelesaian renovasi menjadi persoalan yang terus mendapat perhatian publik.
Kekecewaan tersebut kemudian menemukan salurannya melalui karya seni mural yang muncul di sejumlah titik strategis di wilayah Yogyakarta.
Mural Mandala Krida
Aktivis sosial sekaligus pegiat antikorupsi dari Jogja Corruption Watch (JCW), Baharuddin Kamba, menilai kemunculan mural-mural tersebut tidak perlu disikapi secara berlebihan.
Menurutnya, mural merupakan bentuk ekspresi masyarakat yang sah sekaligus media kritik sosial terhadap persoalan yang terjadi di tengah masyarakat.
Kamba menegaskan bahwa karya-karya para seniman jalanan maupun suporter sepak bola itu merepresentasikan keresahan publik terhadap belum tuntasnya penanganan kasus korupsi renovasi Stadion Mandala Krida.
“Mural adalah bagian dari ekspresi masyarakat. Di dalamnya terdapat kritik, aspirasi, dan keluhan yang ingin disampaikan kepada para pemangku kebijakan,” ujarnya.
Ia menilai masyarakat memiliki hak untuk menyampaikan pendapat, termasuk melalui media seni yang selama ini menjadi bagian dari budaya perkotaan di Yogyakarta.
Menurut Kamba, kritik melalui mural justru menunjukkan bahwa publik masih peduli terhadap proses penegakan hukum dan masa depan Stadion Mandala Krida.
Kamba juga menegaskan bahwa mural para seniman dan suporter tidak dapat disamakan dengan tindakan kriminal.
Ia menilai karya-karya tersebut merupakan bentuk penyampaian pendapat yang lahir dari kepedulian masyarakat terhadap penggunaan uang publik dan pembangunan fasilitas olahraga yang hingga kini belum selesai.
Menurutnya, perhatian publik seharusnya lebih mengarah kepada upaya menuntaskan berbagai persoalan yang menyebabkan proyek stadion tersendat, bukan kepada karya seni yang menjadi medium penyampaian kritik.
Ia menambahkan bahwa masyarakat berhak mempertanyakan perkembangan penyelesaian kasus korupsi yang telah merugikan kepentingan publik dan berdampak terhadap terhambatnya pembangunan stadion.
Kritik Akan Muncul di Tempat Lain
Lebih lanjut, Kamba menilai penghapusan mural tidak akan menghilangkan substansi kritik masyarakat. Menurutnya, apabila satu mural dihapus, sangat mungkin akan muncul mural-mural lain di lokasi berbeda dengan pesan sama.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa persoalan utama bukan terletak pada keberadaan mural, melainkan pada belum terjawabnya tuntutan masyarakat terkait penyelesaian kasus korupsi dan kepastian pembangunan Stadion Mandala Krida.
“Kritik masyarakat tidak akan berhenti hanya karena sebuah mural dihapus. Selama persoalan pokoknya belum terselesaikan, aspirasi itu akan terus muncul dalam berbagai bentuk,” katanya.
Oleh karena itu, ia mendorong pemerintah dan pihak terkait untuk lebih fokus memberikan solusi konkret terhadap persoalan Stadion Mandala Krida. Jadi, fasilitas olahraga tersebut dapat segera digunakan sebagaimana mestinya.
Seniman dan Suporter PSIM Gelar Aksi Mural Serentak
Gelombang kritik melalui seni jalanan mencapai puncaknya. Sejumlah seniman bersama suporter PSIM Yogyakarta menggelar aksi mural serentak di berbagai wilayah Yogyakarta pada Senin (1/6/2026) sore.
Aksi tersebut merupakan bentuk protes terhadap belum tuntasnya penanganan kasus korupsi yang berkaitan dengan pembangunan renovasi Stadion Mandala Krida.
Melalui berbagai ilustrasi dan tulisan di tembok-tembok kota, para peserta aksi berusaha mengingatkan publik sekaligus pemangku kebijakan bahwa kasus tersebut masih menyisakan banyak pertanyaan.
Mereka juga menyuarakan harapan agar proses penegakan hukum berjalan transparan dan memberikan kepastian kepada masyarakat.
Aksi mural itu dengan cepat menarik perhatian publik. Foto-foto hasil karya para seniman dan suporter kemudian menyebar luas di media sosial dan memunculkan berbagai tanggapan dari masyarakat.
Perdebatan baru muncul setelah beredar informasi melalui akun Instagram jogja.football.
Unggahan tersebut menebutkan bahwa mural bertuliskan “Usut Tuntas Korupsi Mandala Krida” telah diblok menggunakan cat berwarna hitam. Namun, tulisan “PSIM Jogja” yang berada pada lokasi yang sama tidak mengalami tindakan serupa.
Informasi tersebut kemudian memicu beragam reaksi dari warganet. Banyak pihak mempertanyakan alasan di balik pemblokiran mural yang berisi tuntutan penuntasan kasus korupsi tersebut.
Di media sosial, sejumlah pengguna menyebut tindakan tersebut justru semakin memperkuat perhatian publik terhadap pesan para pembuat mural.
Alih-alih menghilangkan kritik, pemblokiran mural tersebut justru membuat isu penuntasan kasus korupsi renovasi Stadion Mandala Krida kembali menjadi bahan perbincangan luas di ruang publik.
Mural-mural yang bermunculan di berbagai sudut kota menjadi pengingat bahwa ingatan masyarakat tidak mudah hilang.
Selama Stadion Mandala Krida belum kembali berfungsi secara maksimal dan berbagai pertanyaan terkait kasus korupsinya belum terjawab sepenuhnya, suara-suara kritik akan terus mencari ruang. (ef linangkung)