
KabarJawa.com— Gempa bumi dangkal mengguncang wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta pada Selasa siang, 27 Januari 2026, dan memicu kepanikan warga di sejumlah kabupaten.
Kemudian, gempa dangkal tersebut menyebabkan beberapa bangunan di Kabupaten Gunungkidul mengalami kerusakan ringan, meski tidak menimbulkan korban jiwa.
Gempa Dangkal Guncang Gunungkidul
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa tektonik tersebut terjadi pada pukul 13.15 WIB dengan magnitudo 4,5.
Pusat gempa berada di darat, tepatnya pada koordinat 7,87 Lintang Selatan dan 110,49 Bujur Timur, atau sekitar 16 kilometer timur Bantul, dengan kedalaman 11 kilometer.
BMKG menegaskan bahwa gempa tersebut tergolong gempa dangkal. Gempa dipicu aktivitas Sesar Opak, salah satu sesar aktif di wilayah selatan Yogyakarta. Kondisi tersebut membuat getaran terasa jelas di permukaan dan menggoyang bangunan warga.
Getaran gempa dirasakan di berbagai wilayah, termasuk Bantul, Gunungkidul, Kulon Progo, Sleman, Kota Yogyakarta, dan Klaten dengan intensitas III MMI. Ini menggambarkan kondisi getaran seperti truk bermuatan berat melintas.
Sementara itu, wilayah Wonogiri, Purworejo, Trenggalek, Solo, Pacitan, dan Magelang merasakan gempa dengan intensitas II MMI, hanya sebagian orang yang merasakan. Getaran juga membuat benda ringan yang digantung bergoyang.
BMKG memastikan bahwa hasil pemodelan menunjukkan gempa tersebut tidak berpotensi tsunami, sehingga masyarakat sebaiknya tenang dan tidak terpancing informasi yang tidak jelas.
BMKG juga melaporkan bahwa hingga pukul 13.45 WIB, sistem pemantauan mencatat 14 kali gempa susulan. Gempa susulan terbesar tercatat bermagnitudo 2,0. Aktivitas tersebut menandakan masih berlangsungnya penyesuaian energi di sekitar Sesar Opak.
Bangunan Warga di Gunungkidul Alami Kerusakan Ringan
Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Purwono, menyampaikan bahwa pihaknya segera mengerahkan tim untuk melakukan asesmen setelah menerima laporan dari masyarakat.
Hasil pendataan sementara menunjukkan sejumlah bangunan mengalami kerusakan ringan, terutama pada bagian atap dan dinding. Kerusakan tersebut tersebar di wilayah Gedangsari dan Nglipar, dengan rincian sebagai berikut.
- Balai Padukuhan Ngasem, RT 03/RW 14, Kalurahan Ngalang, Gedangsari, mengalami kerusakan atap dengan estimasi kerugian Rp2.000.000.
- Rumah milik Subarno, RT 06/RW 08, Padukuhan Pagutan, Pengkol, Nglipar, mengalami kerusakan atap dengan kerugian sekitar Rp200.000.
- Mushola Al Ikhlas, Padukuhan Pagutan, mengalami kerusakan atap dan retakan dinding dengan estimasi kerugian Rp1.000.000.
- Rumah Tarti, Teguh, dan Mursini di Padukuhan Pagutan masing-masing mengalami kerusakan atap ringan dengan nilai kerugian sekitar Rp200.000 per bangunan.
- Balai Padukuhan Pagutan, RT 07/RW 08, juga mengalami kerusakan atap dengan estimasi kerugian Rp200.000.
Total kerugian sementara akibat gempa bumi tersebut mencapai sekitar Rp4.000.000.
BPBD Gunungkidul melalui Tim Reaksi Cepat (TRC) langsung melakukan asesmen lapangan bersama unsur TNI, Polri, Tagana, pemerintah kalurahan, PLN, relawan kebencanaan, dan masyarakat setempat. Tim memastikan kondisi warga aman dan meminimalkan potensi dampak lanjutan.
Purwono menjelaskan bahwa seluruh warga terdampak memilih melakukan perbaikan secara mandiri. Pasalnya, tingkat kerusakan tergolong ringan dan tidak membahayakan struktur bangunan secara keseluruhan.
BPBD Gunungkidul mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap potensi bahaya ikutan.
Pangkas pohon lapuk dan cabang besar yang berisiko tumbang. Lalu, hindari pohon besar, tiang listrik, reklame, daerah rawan longsor, dan bantaran sungai saat hujan deras beserta angin kencang.
Sebaiknya, masyarakat hanya mengakses informasi resmi dari BMKG melalui kanal yang telah terverifikasi, seperti media sosial resmi, situs web BMKG, dan aplikasi informasi gempa.
BPBD Gunungkidul menyatakan bahwa laporan tersebut masih bersifat sementara. Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) BPBD Gunungkidul akan memperbarui informasi apabila terdapat perkembangan situasi, perubahan data, atau temuan baru di lapangan.
“Apabila terdapat perbedaan data antara laporan dan kondisi riil, kami mohon segera diinformasikan agar dapat kami benahi,” tegas Purwono.
BPBD Gunungkidul juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh unsur dan relawan yang terlibat dalam penanganan cepat pascagempa, serta mengajak seluruh pihak untuk terus menjaga koordinasi dan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana. (ef linangkung)