
KabarJawa.com – Candi Prambanan kembali menjadi pusat perhatian publik pada Minggu (9/11/2025) saat ribuan peserta mengikuti Saka Yoga Festival 2026 di Lapangan Nandhi, Kompleks Candi Prambanan, Yogyakarta.
Mengusung tema “Yoga untuk Kesehatan dan Ketenangan Jiwa”, festival tahunan ini menegaskan pesan mendalam tentang keseimbangan antara tubuh yang bugar dan jiwa yang damai dalam suasana spiritual yang khas Nusantara.
Acara tersebut bukan sekadar ajang olahraga, melainkan juga momentum untuk meneguhkan kembali nilai-nilai kebudayaan dan spiritualitas yang diwariskan oleh leluhur.
Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern, Saka Yoga Festival menjadi pengingat bahwa kesehatan sejati tidak hanya diukur dari raga yang kuat, tetapi juga dari ketenangan batin yang menyatu dengan alam dan Sang Pencipta.
Candi Prambanan Jadi Ruang Spiritualitas dan Kesehatan
Ketua Tim Kerja Pemanfaatan Candi Prambanan, Nyoman Aryawan, menjelaskan bahwa festival ini memiliki makna yang lebih luas dari sekadar kegiatan fisik.
Menurutnya, Saka Yoga Festival merupakan upaya untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan tubuh sekaligus menyeimbangkan kehidupan spiritual.
“Tema dari Saka Yoga Festival kita adalah yoga untuk kesehatan dan untuk keselarasan jiwa kita. Jadi sangat penting bahwa kita butuh kesehatan. Tidak hanya kesehatan tapi bagaimana jiwa kita selaras dengan Tuhan, kemanusiaan, dan alam semesta,” ujarnya.
Aryawan menambahkan, kegiatan ini juga menjadi bagian dari strategi untuk memperluas pemahaman masyarakat tentang yoga, sekaligus memperkuat citra Candi Prambanan sebagai pusat spiritualitas dan kebugaran tubuh.
Ia menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan mandat dari Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat (Bimas) Hindu.
“Ini kegiatan yang diamanatkan oleh Dirjen Bimas Hindu, bagaimana memanfaatkan Candi Prambanan ini tidak hanya sebagai turisme, tetapi juga menjaga spiritualitas dari Candi Prambanan ini,” tambahnya.
Sebagai salah satu warisan dunia, Candi Prambanan tidak hanya memiliki nilai arsitektur tinggi, tetapi juga menyimpan makna filosofis yang mendalam.
Karena itu, Aryawan berharap kegiatan seperti ini dapat dilaksanakan secara berkelanjutan, agar semangat spiritual yang hidup di balik candi tetap lestari dari generasi ke generasi.
Kolaborasi Antara Pariwisata dan Spiritualitas
General Manager Prambanan & Ratu Boko, Ratno Timur, menilai Saka Yoga Festival sebagai bentuk kolaborasi yang menarik antara spiritualitas dan pariwisata.
Ia menyebut, kegiatan ini tidak hanya menghadirkan pengalaman religius, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi sektor wisata di Yogyakarta.
“Candi Prambanan yang sangat megah hari ini menjadi saksi terselenggaranya Festival Saka Yoga yang kedelapan. Ini salah satu acara yang luar biasa, tidak hanya memadukan kesehatan tapi juga wisata ke Prambanan,” ungkapnya.
Ratno juga menyoroti manfaat nyata yoga bagi tubuh dan pikiran. Menurutnya, meskipun gerakan yoga tampak sederhana, namun jika dijalankan dengan kesadaran penuh, efeknya sangat besar bagi kesehatan jasmani dan mental.
“Mungkin gerakannya tidak terlalu ekstrem seperti senam zumba, tapi yoga itu walaupun sedikit, kalau dihayati ternyata sangat banyak manfaatnya untuk kesehatan,” ujarnya.
Selain menjadi ajang refleksi spiritual, kegiatan ini juga turut mendukung geliat industri pariwisata di kawasan Taman Wisata Candi Prambanan.
Ratno menyampaikan apresiasi kepada panitia dan peserta yang dinilai berhasil menyemarakkan destinasi wisata budaya tersebut.
Yoga sebagai Warisan Universal
Dari sisi spiritual, Sekretaris Jenderal Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), I Ketut Budiasa, menegaskan bahwa praktik yoga bukan hanya milik umat Hindu, tetapi telah menjadi warisan universal yang diakui dunia.
“Kita bersyukur Weda sejak ribuan tahun yang lalu mewariskan apa yang kita lakukan hari ini. Yoga memang bersumber dari tradisi kuno Hindu, tetapi kini menjadi milik semua umat manusia di dunia, bahkan telah diakui PBB sebagai Hari Yoga Internasional,” jelasnya.
Budiasa menekankan bahwa yoga sejatinya bukan sekadar latihan fisik, melainkan proses spiritual untuk menemukan keseimbangan batin.
“Kalau kita melakukan yoga hari ini bukan hanya untuk jungkat-jungkit badan, tapi masuk ke dalam diri. Pulang dari sini, praktikkan tiap hari agar mencapai keseimbangan jiwa. Di rumah jadi rukun, di masyarakat jadi toleran, menjadi anak bangsa yang baik,” tuturnya.
Ia pun mengajak peserta untuk menerapkan seluruh tahapan yoga secara utuh, mulai dari yama, niyama, asana, pranayama, pratyahara, dharana, dhyana, hingga samadhi.
“Semoga kita semua mempraktikkan itu dengan baik sehingga memberikan sumbangsih pada jiwa dan kesehatan kita semua,” pungkasnya.
Refleksi Harmoni di Tanah Leluhur
Saka Yoga Festival 2026 menjadi bukti nyata bagaimana warisan leluhur dapat dihidupkan kembali melalui kegiatan yang menyentuh aspek fisik, mental, dan spiritual. Candi Prambanan bukan sekadar peninggalan sejarah, melainkan juga ruang perjumpaan manusia dengan dirinya sendiri dan alam semesta.
Dengan perpaduan antara yoga, spiritualitas, dan wisata budaya, acara ini meneguhkan pesan bahwa keseimbangan jiwa dan raga dapat ditemukan di tengah warisan agung peradaban Nusantara. ***