
KABARJAWA – Ahli digital forensik Rismon Sianipar melangkah tegas ketika ia melaporkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke SPKT Polda DIY pada Selasa, 15 Juli 2025.
Rismon menghebohkan publik setelah ia menegaskan bahwa penyelidikan dugaan ijazah palsu Jokowi bukanlah agenda politik. Ia mengaku bahwa langkahnya murni untuk menjaga kejujuran sejarah bangsa.
Rismon Sianipar Laporkan Jokowi
Rismon menyambangi Polda DIY dengan membawa bukti-bukti yang ia klaim valid secara ilmiah. Ia menolak keras tudingan yang menyebut dirinya ditunggangi oleh pihak politisi tertentu.
Rismon menegaskan ia bekerja sebagai peneliti independen dan sama sekali tidak terlibat organisasi politik manapun.
“Saya kan seorang peneliti ya, enggak terlibat oleh ormas ataupun organisasi politik apapun. Ini demi sejarah Republik Indonesia,” tegas Rismon di hadapan wartawan, Selasa (15/7/2025).
Rismon menjelaskan bahwa masyarakat Indonesia sudah cerdas dalam menilai kebenaran. Ia menyoroti pernyataan Kasmujo, dosen UGM yang menjadi pembimbing skripsi Jokowi, tapi mengaku tidak mengenal Presiden. Menurutnya, hal itu mustahil terjadi dalam dunia akademik.
“Bayangkan, seseorang yang menyelesaikan proses akademiknya di UGM, ya enggak mungkin lah dosen pembimbing skripsinya bisa lupa,” ucap Rismon.
Rismon juga menyoroti penggunaan teknologi modern dalam lembar pengesahan skripsi Jokowi. Ia menilai teknologi itu tidak sesuai dengan mesin ketik yang umum digunakan pada masa kuliah Jokowi dulu.
Bukti Kejanggalan
Ia bahkan menegaskan bahwa timnya kini memiliki bundel bukti autentik yang mengonfirmasi kejanggalan tersebut.
“Bu Tifa sekarang memiliki bukti, yakni bundel, bahwa skripsi saat itu di mana lembar pengesahannya dan semua batang tubuhnya itu pakai teknologi mesin ketik. Itu kan sudah menjelaskan banyak hal,” ungkap Rismon.
Rismon menegaskan bahwa seluruh analisisnya berbasis metode ilmiah, bukan opini apalagi politisasi. Ia menjelaskan bahwa ia menggunakan beberapa teknik forensik digital, seperti error level analysis, deteksi kanal RGB, pencocokan citra berbasis AI, hingga phone identification.
“Kalau memang ada agenda politik, apa agenda politiknya? Jangan menghindar pada esensi bahwa kalau Jokowi lulusan UGM, pasti bangga, tanpa dimintapun pasti menunjukkan,” ujar Rismon.
Ia menampik tuduhan yang menyebut ada kepentingan politik di balik langkahnya. Rismon mengaku setelah kasus ini selesai, ia hanya ingin kembali memancing di kampung halamannya.
“Setelah kasus ini selesai, saya akan kembali pulang kampung memancing di Danau Toba. Enggak ada intensi saya untuk menjadi apapun. Dan banyak email menawari saya, tapi saya NO,” ujarnya sambil tersenyum tipis.
Rismon juga menyatakan kesiapannya menghadapi proses hukum yang kini sudah masuk tahap penyidikan di Polda Metro Jaya. Ia mengaku siap menjelaskan seluruh bukti ilmiah yang ia temukan kepada pihak kepolisian.
Dengan tegas, Rismon menutup pernyataannya di hadapan awak media. Ia berkata bahwa kejujuran sejarah adalah harga mati yang tak boleh kompromi dengan apapun, termasuk kepentingan kekuasaan. (ef linangkung)