
KABARJAWA– Harapan baru bagi lahirnya generasi relawan kemanusiaan kian nyata. Palang Merah Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (PMI DIY) bersiap menggelar Jumpa Bakti Gembira Palang Merah Remaja (Jumbara PMR) pada 27–29 September 2025.
Ajang bergengsi empat tahunan ini akan mempertemukan ratusan relawan muda dari berbagai jenjang pendidikan dan kabupaten/kota se-DIY.
Jumbara PMR 2025
Dukungan penuh datang langsung dari Wakil Gubernur DIY, KGPAA Paku Alam X, yang menegaskan pentingnya regenerasi relawan dalam menjaga semangat kemanusiaan. Sri Paduka menyatakan dukungannya.
“Saya mendukung sekali Jumbara ini,” ujar Sri Paduka di Gedhong Pare Anom, Kompleks Kepatihan Yogyakarta, Kamis (11/9/2025)
Ketua PMI DIY, GBPH Prabukusumo, menegaskan bahwa Jumbara bukan sekadar pertemuan rutin, tetapi momentum besar untuk menyiapkan kader kemanusiaan masa depan.
Jumbara ini ajang untuk generasi ke generasi, supaya nanti bisa menggantikan mereka yang sudah tua. Baik KSR, TSR, maupun PMR.
“Dan mereka akan tetap setia pada kegiatan kemanusiaan,” ujarnya dengan lantang.
Lebih dari 300 peserta muda dari SD, SMP, SMA hingga relawan PMI akan ambil bagian dalam kegiatan yang di Jaka Garong Camp Ground dan Outbound, Sleman. Dengan tambahan pendamping dan penilai, total peserta akan mencapai 500 orang.
Prabukusumo menekankan bahwa Jumbara adalah panggung bagi publik untuk melihat sisi lain PMI yang sering terlupakan. PMI hadir untuk banyak hal: membantu pohon tumbang, evakuasi kecelakaan, hingga kesiapsiagaan bencana.
“Bahkan polisi pun menunggu PMI datang di lokasi kecelakaan, karena kita yang punya keahlian,” jelasnya.
Selain mengasah keterampilan, Jumbara juga penuh semangat kompetisi. Peserta akan mengikuti berbagai perlombaan yang menuntut kecepatan, ketepatan, dan jiwa kebersamaan.
“Kalau sudah pernah jadi juara, anak-anak akan termotivasi untuk terus jadi juara. Ini penting sekali untuk generasi sekarang. Jadilah yang terbaik, itu yang kita harapkan,” tegas Gusti Prabu.
Sejarah Panjang PMI di Yogyakarta
Tak berhenti pada kegiatan Jumbara, PMI DIY juga akan meluncurkan sebuah buku bersejarah yang mengangkat kisah panjang perjuangan PMI di Yogyakarta sejak 1934.
Buku ini akan menyingkap fakta-fakta yang belum banyak diketahui publik, mulai dari keterlibatan PMI dalam acara kemanusiaan internasional, hingga kisah dramatis pesawat yang ditembak jatuh saat membawa obat-obatan dari Malaya ke Jogja.
“Semua itu menunjukkan pengakuan dan legitimasi keberadaan Indonesia sejak awal,” tutur Gusti Prabu.
Ia menambahkan, penyusunan buku berjalan cepat berkat dukungan museum, perusahaan, hingga komunitas. Dia bersyukur semua tertarik karena masyarakat sekarang senang dengan sesuatu yang baru dan bermanfaat bagi orang banyak.
Sebelumnya, PMI DIY juga pernah menerbitkan buku Standar Operasional Prosedur (SOP) yang disusun secara kolektif oleh berbagai seksi dan tim. Kini, dengan semangat yang sama, peluncuran buku sejarah PMI akan memperkaya wawasan masyarakat dan memperkuat motivasi relawan muda. (ef linangkung)